Kam. Jan 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

NTT Ditargetkan Menjadi Sentral Produksi Daging Sapi Unggulan Nasional

3 min read

Sapi NTT (Sumber: tribunnews.com)

KUPANG, NTTBANGKIT.com – Dalam kunjungan kerja bersama beberapa menteri ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Presiden RI Joko Widodo mengatakan bahwa sapi hidup dari NTT adalah sapi yang paling banyak dikirimkan ke pulau Jawa dan sekitarnya.

Melihat potensi ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, yang juga turut serta dalam rombongan Presiden saat memantau perkembangan harga sejumlah komoditas di sejumlah pasar tradisional di Kota Kupang, menyatakan bahwa NTT layak untuk dijadikan sebagai sentra produksi daging guna memenuhi kebutuhan nasional.

Enggartiasto juga berjanji kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, untuk terus mendorong agar NTT bisa menjadi sentra produksi daging sapi guna memenuhi kebutuhan daging sapi skala nasional.

Lukita juga memberi apresiasi khusus kepada perkembangan harga daging sapi di Kota Kupang, yang sampai saat ini masih tetap dalam kondisi stabil.

“Ini luar biasa, karena harganya masih jauh di bawah harga rata-rata di Pulau Jawa,” katanya sebagaimana dilansur dari Antara News.

Harga daging sapi di daerah Jawa saat ini rata-rata berada pada kisaran Rp110.000-Rp120.000 per kilogram, sementara di Kota Kupang stabil Rp90.000 per kilogram.

Gubernur NTT Victor Laiskodat pun tengah berusaha untuk mendatangkan bibit-bibit sapi unggulan serta memberdayakan beberapa tempat strategis agar produktivitas sapi unggulan di NTT bisa semakin meningkat.

“Kita sedang membuat sebuah tempat pembibitan sapi unggulan di wilayah Sumba. Tentunya dua tiga tahun lagi, kita sudah bisa memanen hasilnya sebagai sapi terbaik NTT.” kata Laiskodat kepada redaktur NBC saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (saat itu) Syukur Iwantoro di lokasi dan waktu yang berbeda menyatakan bahwa tren pertumbuhan populasi ternak di NTT dalam tiga tahun terakhir cukup progresif.

“Saat ini populasi sapi NTT yaitu 865.000 ekor, ini artinya naik 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2013. Data sensus BPS saat itu menunjukkan populasi sapi NTT berjumlah 725.000 ekor,” ujar Syukur dalam kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu ke Kefamenanu, Timor Tengah Utara.

Pencapaian tersebut dinilainya merupakan yang cukup tinggi dalam skala provinsi, apalagi NTT memiliki dua jenis sapi yang sangat diminati seluruh rakyat Indonesia yaitu Sapi Bali dan Sapi Sumba Ongole yang di Indonesia, hanya dihasilkan di Pulau Sumba.

Iwantoro juga mengatakan bahwa terdapat beberapa program yang telah disusun oleh pemerintah pusat guna mengembangkan produktivitas sapi di NTT yaitu:

Pertama, proses perbaikan genetik sapi melalui inseminasi buatan (IB). Dalam program ini, Provinsi NTT termasuk provinsi yang melakukan percepatan program IB.

Dengan teknik IB dan kawin alam, pada 2016 populasi NTT dapat mencapai 950.000 ekor. Sepanjang tahun ini, akan ada 50.000 ekor sapi di Provinsi NTT yang akan dikerahkan untuk program IB.

Kedua, dalam rangka untuk mengembalikan NTT sebagai sumber ternak, pemerintah akan menerapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kekurangan pangan ternak pada musim kemarau.

“Di NTT ini 3-4 bulan musim basah, sisanya musim kering. Itu salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas sapi-sapi kita yang ada. Terobosan yang dilakukan untuk mengantisipasi hal ini, yaitu membangun embung, atau tempat penampungan air,” kata Syukur.

Dengan demikian, NTT diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan memberi pasokan untuk program swasembada daging sapi nasional yang dicanangkan oleh pemerintah.

“Kami targetkan tingkat pertumbuhan populasi ternak 4,5 persen melalui penurunan angka kematian ternak kurang dari 4 persen dan peningkatan angka kelahiran hidup 25 persen dari populasi,” kata Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi sebagaimana dilansir dari Antara News.

Selain itu, NTT juga sebagaimana dilansir dari Antara News memiliki program pengembangan lain seperti pengendalian pemotongan sapi betina produktif, pengendalian pengeluaran jantan produktif, serta mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat peternak melalui kontribusi peningkatan nilai tukar petani peternak lebih dari 1,15 persen.

“Tentunya juga kita berjuang melalui lokakarya yang berhubungan dengan ekonomi kreatif agar mindset warga NTT tentang dunia dan lingkungan sekitarnya bisa semakin luas. Kita ingin agar warga NTT bisa mengembangkan potensi di sekitarnya menjadi sesuatu yang berdampak ekonomi.” Tutur Laiskodat.

Namun, permasalahkan lain yang juga mengancam produktivitas ternak unggulan di NTT penyakit hewan menular strategis (PHMS) seperti Brucellosis, Antrax, Hog Kolera, dan Rabies yang perlu dicarikan solusi agar perkembangbiakkan hewan-hewan di NTT bisa semakin baik.

“Mengatasi hal ini, tentunya kita sudah punya strategi dan perhitungan dalam kerjasama dengan stakeholder-stakeholder yang expert dalam bidang kesehatan hewan dan penyakit-penyakit hewani.” Tutur Laiskodat kepada redaktur NBC beberapa waktu lalu. (Emild Kadju/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi