Sen. Mei 23rd, 2022

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pemindahan Ibu Kota Indonesia Ke Kalimantan Timur Bukan Sekedar Wacana

3 min read

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat melaksanakan konferensi pers di Istana Negara tentang pemindahan Ibukota Negara ke Kalimantan Timur (Sumber: kompas.com)

JAKARTA, NTTBANGKIT.com – Rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan ternyata bukan sekedar wacana, maupun pengalihan isu sebagaimana pernah dikatakan oleh beberapa pengamat pada beberapa waktu lalu saat nilai tukar rupiah terhadap Dollar melemah.

Hari ini, Senin (26/08/2019) Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi secara langsung menyatakan ikhtiarnya untuk memindahkan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ke Kalimantan melalui konferensi pers di Istana Negara pada pukul 13.00 WIB sampai selesai.

Berikut beberapa poin yang dirangkum NTTBANGKIT.com dari konferensi pers tersebut:

Alasan utama perpindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan adalah karena beban Jakarta saat ini sudah terlalu berat, yakni sebagai pusat pemerintahan pusat bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan, dan pusat jasa. Dari sisi ekonomi, Jakarta dan Jawa telah sejak lama menjadi pusat ekonomi dengan 58 persen PDB berada di Pulau Jawa. Pemindahan Ibu Kota Negara ini dimaksudkan untuk pemerataan ekonomi melalui pemerataan PDB.

Selain alasan ekonomi, Jokowi juga mengatakan bahwa situasi macet dan polusi di Jakarta dengan kondisi air-visual yang amat buruk, serta banjir yang melanda secara periodik membuat pemindahan Ibu Kota negara menjadi sangat urgen.

Dalam konferensi pers tersebut, Presiden Jokowi menyatakan bahwa lokasi strategis untuk Ibu Kota baru Indonesia adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal tersebut menurut Jokowi sudah  dikaji selama tiga tahun terakhir oleh para pakar dari berbagai bidang.

Presiden juga menyampaikan bahwa total beban untuk membangun Ibu Kota baru Negara ini di Kalimantan Timur adalah kurang lebih 466 Triliun. Untuk memenuhi anggaran ini, Jokowi mengatakan bahwa 19 persen APBN akan dialokasikan ke sana. Selain itu, sisanya berasal dari KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) serta investasi langsung dari pihak swasta dan BUMN.

Brazil: Prototipe Pemindahan Ibu Kota Negara yang Sukses

Pada situasi dan kondisi yang berbeda, Rubem Barbosa, Duta Besar Brazil untuk Indonesia  menyatakan bahwa pemindahan Ibu Kota negara memiliki banyak manfaat yang nyata. Bagi Brazil sendiri, setidaknya ada dua manfaat yang didapatkan saat pemerintah memutuskan untuk memindahkan Ibu Kota negara dari Rio de Janiero ke Brasilia.

“Manfaat pertama adalah pemerataan penduduk dan ekonomi,” katanya dalam acara Forum Merdeka Barat di Kementerian Bappenas, Jakarta, Rabu (10/8/2019) sebagaimana dilansir dari liputan6.com.

Kemudian manfaat kedua yang dirasakan Brazil selain dengan adanya pemerataan penduduk dan ekonomi, juga terjadi integrasi wilayah yang lebih baik.

“Mungkin pembangunan Brasilia bukan satu-satunya faktor yang membuat itu terjadi, tapi dengan adanya Brasilia memainkan peran yang sangat besar karena terletak di tengah-tengah negara,” tuturnya.

Rubem menambahkan bahwa saat ini Brasilia merupakan kota dengan pendapatan per kapita tertinggi di Brazil. Menurutnya itu sama sekali tidak direncanakan pada saat pemindahan Ibu Kota negara.

“Di Brasilia itu tidak direncanakan tapi itu menarik banyak pihak. Kamu punya pemerintahan punya rakyat yang tertarik untuk bekerja dan Brasilia memiliki daya tarik untuk bisnis itu. Intinya pemerintahan menarik minat banyak sekali orang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Rubem menjelaskan ide utama membangun Brasilia sebagai Ibu Kota negara baru adalah tidak hanya karena Rio de Janiero berkembang terlalu cepat sehingga tidak bisa mengakomodasi pemerintahan lagi, seperti Jakarta, tapi juga keharusan bagi pemerintah untuk pemerataan populasi dalam kaitannya dengan memaksimalkan wilayah yang dimiliki negara.

“Berbeda dengan Indonesia, waktu itu kami harus membangun Brasilia dari awal, sekitar 1.200 km dari Rio di mana tidak ada apa-apa di sana pada waktu itu, tidak ada jalan, tidak ada rel kereta, benar-benar operasi besar-besaran yang membutuhkan waktu sekitar 3,5 tahun. Awalnya untuk mengakomodasi 1 juta penduduk, tapi sekarang sudah 3,3 juta penduduk,” katanya.

Dilansir dari Ultimosegundo.ig.com.br, pembangunan Brasilia sebagai Ibu Kota menghabiskan biaya 1,5 miliar dolar AS. Kota Brasilia dibangun dengan konsep arsitektur yang modern. Kota ini masuk sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO karena modernitas dan perkembangannya. Pada awal peresmiannya, Brasilia hanya dihuni oleh kurang lebih 140.000 penduduk. Kini, angka tersebut sudah meningkat jauh menjadi 2,6 juta penduduk dengan PDB yang terus meningkat setiap tahunnya pasca pemindahan Ibu Kota. (Emild Kadju/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi