Ming. Feb 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

4 views

Kembangkan Tenun Ikat NTT, Julie Laiskodat Ajak Muda-mudi NTT Jadi Entrepreneur

4 min read

Julie Laiskodat bersama Miss Grand Indonesia 2019, Sarlin Jones (kiri), Putri pariwisata Indonesia 2019, Mawarni Salem (Kanan), berserta perwakilan tim Putri Pariwisata NTT (Picture: Ist.)

“Ketua Dewan Kerajinan nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan bahwa Provinsi NTT kaya akan motif tenun ikat yang perlu dilestarikan oleh orang NTT, khususnya muda-mudi. Selain itu, bila dikembangkan secara profesional, tenun ikat NTT akan menjadi salah satu penggerak ekonomi NTT. Itulah mengapa Julie mengajak muda-mudi NTT untuk menjadi entrepreneur.”

KUPANG, NTTBANGKIT.com – Dalam upaya pegembangan dan pelestarian tenun ikat NTT, Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) Lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Dewan Kerajinan nasional Daerah (Dekranasda) NTT melakukan pertemuan terbuka untuk membahas rencana dan langkah strategis guna mengambangkan tenun ikat NTT di John’s Hotel Kupang, Jumat (13/09/2019).

Pertemuan dengan Tema “Peran Humas NTT Dalam Rangka Sosialisasi Promosi Pengembangan dan Pelestarian Tenun Ikat NTT Menjadi Produk Andalan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur” tersebut dihadiri oleh Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT Dr. Marius Ardu Djelamu, Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat, Ketua Program Studi Teknik Tenun Ikat Undana Kupang, Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Valeri Guru, para wartawan, mahasiswa, dan masyarakat.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Putri Pariwisata Indonesia 2019 asal NTT Clarita Mawarni Salem dan Miss Grand Indonesia 2019 yang juga asal NTT Sarlin Jones. Ia akan mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi Putri Pariwisata Internasional tahun 2020 di Malaysia. Sedangkan Sarlin Jones akan mewakili Indonesia ke Venezuela.

Dalam  pengantarnya, Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT Dr. Marius Ardu Djelamu selaku moderator panel diskusi menjelaskan jika Pemerintah Provinsi NTT serius memperkenalkan kekayaan alamnya kepada dunia luar. Tidak saja wisata alam tetapi juga budaya serta warisan intelektual seperti tenun ikat,dan lain-lain turut diangkat ke publik internasional. Sehingga NTT semakin dikenal dan banyak turis yang datang mengunjungi NTT.

Dekranasda NTT Dirikan Desa Model Setiap Kabupaten  `
Julie laiskodat saat membawakan materi saat menjadi narasumber dalam pertemuan Bakohumas di John’s Hotel Kupang, Jumat (13/9) – (Sumber: Ist.)

Sementara itu Ketua Dewan Kerajinan nasional Daerah (Dekranasda) NTT Julie Sutrisno Laiskodat, pada kesempatan materinya mengungkapkan perhatiannya pada berbagai stigma atau pelabelan negatif yang sering dialamatkan kepada masyarakat NTT.

“Semua pelabelan ini sebenarnya mau membahasakan bahwa orang NTT ini susah atau miskin. Padahal sebaliknya justru NTT itu kaya raya. Itu salah satu alasan mengapa Viktor memilih pulang ke NTT. Kami mau menunjukkan kepada Nasional dan masyarakat NTT sendiri bahwa Nusa Tenggara Timur itu kaya raya!” tegas Yulia.

Istri Gubernur NTT, Viktor Laiskodat tersebut juga mengatakan bahwa NTT tidak hanya kaya akan sumber daya alam dan pariwisata saja, melainkan kaya akan budaya. Salah satu produk kebudayaan yang harus dikembangkan menurut Julie adalah tenun ikat.

Pemilik Butik Levico yang juga menjadi sponsor utama bagi Sarlin Jones (Miss grand Indonesia 2019) dan Mawarni Salem (Putri pariwisata Indonesia 2019) tersebut menyatakan bahwa tenun ikat di NTT sendiri memiliki motif beragam berdasarkan kekhasan kultur Daerah di NTT. Namun yang menjadi masalah adalah marketplace.

“Tenun ikat misalnya, penenun yang mengeluh kekurangan modal seperti benang maupun pewarna. Setelah melakukan produksi mereka masih bingung pasarkan ke siapa dan ke mana,” tutur Julie.

Menghadapi permasalahan yang kompleks tersebut, Julie memberikan solusi sebagaimana telah dan dilakukannya yaitu membuat Desa Model Tenun Ikat di setiap Kabupaten. Julie mengatakan bahwa di setiap Kabupaten, kelompok penenun akan diberikan benang dan pewarna gratis oleh Dekranasda guna menghasilkan produk tenunan yang sesuai dengan marketplace agar terjadi ekosistem pasar yang seimbang antara produksi tenun ikat dan pangsa pasar.

“Orang Eropa suka tenunan dengan warna alam. Sedangkan Amerika Latin suka warna tenunan yang menyolok. Dalam kaitan dengan ini sesuai pengalaman kami, produk tenunan NTT kadang kurang sesuai dengan kebutuhan konsumen Eropa maupun Amerika. Misalnya Motif Timor yang umumnya memiliki warna mencolok dan motif Flores memiliki warna gelap. Kita perlu sesuaikan dengan kebutuhan pasar/konsumen tanpa sedikit pun merubah motifnya,” kata Julie.

Persoalan lain yang berkaitan dengan tenun ikat antara lain dosis pewarnaan yang belum lengkap sehingga menghasilkan warna yang kurang bagus, hak cipta tenun ikat dari NTT selalu dicuri orang, dan soal ketidakberlanjutan produksi untuk menunjang keberlanjutan pasar.

“Coba lihat Orang Jawa mereka itu cekatan dalam meniru. Mereka memiliki etos kerja mereka baik. Sementara masyarakat kita sendiri di NTT, khususnya penenun memiliki mental santai. Etos kerja seperti ini yang  harus dirubah kalau kita ingin berubah,” ajak Julie.

Saat ini, Julie tengah berusaha untuk meng-HAKI-kan motif-motif tenun ikat NTT, sehingga plagiasi-plagiasi yang terjadi pada tenun ikat NTT bisa dibawah ke ranah hukum positif.

Ciptakan Entrepreneur Muda Asli NTT

Berhadapan dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, Julie menghimbau agar kaum muda asli NTT berwirausaha. Ia juga menuturkan bahwa ke depan Dekranasda NTT akan melatih orang remaja dan muda untuk menenun. Selain itu, Dekranasda juga akan memberikan modal seperti  benang dan pewarna, dan sebagainya dengan sistem bagi hasil keuntungan.

“Kita mau tunjukan bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan di NTT. Kita mau suatu ketika PNS angkat tangan hormat pengusaha tenun ikat. Di Jawa PNS hormat pengusaha. Tetapi di NTT sebaliknya orang hormat PNS. Para penenun ini harus sejahtera dan kami sedang berjuang untuk itu” Tutup Julie.

Melalui program-program produktif yang dirancang oleh Dekranasda NTT, Julie ingin agar orang-orang asli NTT, khususnya kaum muda NTT bisa menjadi entrepreneur sukses sehingga makro ekonomi NTT bisa semakin baik melalui pendapatan perkapita yang baik dan dengan demikian, stigma buruh terhadap NTT sebagai “Nanti Tuhan Tolong” bisa hilang. (*)

Penulis: Emild Kadju


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi