Rab. Mar 3rd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

15 views

Festival Literasi Nagekeo Untuk Tanamkan Budaya Baca, IMB-Maumere dan Tokoh Nagekeo Merasa Bangga

3 min read

MBAY, NTTBANGKIT.com – Ikatan Mahasiswa asal Bajawa, Riung,  Nagekeo (IMB) di Maumere mengucapkan dukungan mereka terhadap Festival Literasi dan Budaya di Nagekeo yang dilangsungkan sejak Jumat (27/09/2019) hingga Senin (01/10/2019) di Lapangan Berdikari Danga, Mbay, Flores NTT. 

Ketua IMB aktif,  Fian N. menyatakan bahwa ia bangga dengan progres pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo yang menginisiasi dan serentak menjadi tuan rumah gelaran Festival Literasi pertama tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebagai pegiat literasi,  saya merasa begitu bangga dengan kegiatan festival literasi yang diinisiasi oleh Pemkab Nagekeo dan Pemprov NTT. Semoga melalui festival ini, anak-anak Nagekeo dan NTT secara keseluruhan bisa semakin termotivasi untuk meningkatkan minat dan budaya membaca. Hanya melalui literasilah,  SDM kita bisa berkembang,” tutur Fian. 

Selain literasi,  berbagai pagelaran seni dan budaya khas Nagekeo juga ditampilkan dalam festival tersebut, semisalnya tarian Sedamane. 

Tarian Kolosal Sedamane atau Tarian menenun khas Nagekeo dilangsungkan untuk meriahkan pembukaan festival literasi pada Jumat, (27/9/2019) malam.

Tarian Sedamane merupakan tarian yang memperagakanan cara menenun oleh kaum perempuan Nagekeo. Panitia Pelaksanaan Festival Literasi mengangkatnya dalam bentuk tarian demi merawat dan menjaga kelangsungan budaya menenun kain tenun Nagekeo.

Sementara itu, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do saat membuka secara resmi Festival Literasi itu menjelaskan produk warisan leluhur orang Nagekeo harus dibangkitkan dan dikembalikan dalam kehidupan sehari-hari yang ramah lingkungan dan sesuai dengan budaya orang Nagekeo.

“Banyak produk plastik digunakan oleh masyarakat seperti tikar plastik yang dipakai masyarakat di dalam rumah. Semua itu adalah Produk kapitalis yang sudah merasuk sampai di dalam rumah kita. Produk-produk Kapitalis itu tidak ramah lingkungan. Untuk saya bertekad bersama masyarakat untuk menggiatkan kembali anyaman-anyaman khas Nagekeo yang terbuat dari daun pandan untuk tikar dan kebutuhan lainnya di dalam rumah tangga kita masing-masing,” ajaknya.

Don menjelaskan sektor pariwisata sebagai penggerak utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nagekeo khususnya. Banyak potensi kearifan lokal dan budaya orang Nagekeo yang menggaet wisatawan mancanegara dan Nusantara untuk belajar budaya orang Nagekeo serta berwisata di sejumlah obyek wisata.

“Saatnya kita kembali ke anyamanan leluhur orang asli NTT umumnya dan Nagekeo khususnya. Kita mengembalikan produksi itu dalam kehidupan sehari-hari. Budaya menganyam produk asli Nagekeo yang tersebar di pedalaman Nagekeo sudah mulai hilang seperti produksi tenun dan anyaman lokal untuk kebutuhan dalam hidup berumah tangga,” tuturnya.

Menurutnya, industri pariwisata memberikan peluang untuk membangkitkan kuliner lokal.

“Hotel dan restaurant harus memakai produk NTT umumnya dan Nagekeo khususnya,” tambahnya.

Don menjelaskan, Perpustakaan Nasional memberikan kepercayaan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo menggelar festival literasi pertama tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membangkitkan kembali budaya literasi serta berbagai budaya seni tari dan musik khas orang Nagekeo.

“Saya berharap Nagekeo akan dikenal luas oleh masyarakat dunia karena budaya dan produk asli yang sangat ramah lingkungan,” harapnya.

Selain tarian kolosal Sedu, pemain musik dari Kampung Wajo juga menampilkan musik Ndoto yang berbahan bambu. Ndoto adalah musik bambu khas orang Nagekeo. Musik Ndoto sudah tampil di kancah musik Nasional yang dilaksanakan di Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah beberapa tahun lalu dalam atraksi musik khas Nusantara.

“Nagekeo sudah terkenal di tingkat Nasional dengan musik bambunya. Musik ini harus dikembangkan dan ditampilkan dalam berbagai festival di Nusa Tenggara Timur,” jelasnya.

Selain itu, Don menjelaskan Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo memberikan peluang dan kepercayaan kepada pemuda Nagekeo menjadi penggerak pembangunan dalam berbagai sektor. Setelah diberikan kepercayaan kepada pemuda Nagekeo, berbagai festival budaya dan festival pariwisata dilaksanakan oleh pemuda itu sendiri di tujuh kecamatan.

“Saya lihat sendiri pemuda Nagekeo bangkit dengan menggelar berbagai festival khas budaya dan Pariwisata Nagekeo dalam berbagai berbagai event. Pemerintah terus memberikan dukungan penuh atas kreatif dan inisiatif dari pemuda tersebut,” jelasnya.

Sementara itu,  Valens Daki So’o seorang tokoh Nagekeo yang saat ini menjabat sebagai Staf Ahli di Kantor Stafsus Kepresidenan bidang Intelijen mengatakan bahwa dirinya pun bangga dengan festival budaya dan literasi yang dilaksanakan di Mbay, Nagekeo.

Valens juga mengatakan bahwa berbagai fenomena yang mengancam NKRI seperti hoaks dan provokasi bisa memengaruhi masyarakat bila budaya literasinya lemah. Hanya masyarakat yang tumbuh dalam budaya literasi dan tradisi membacalah yang membuat nalar kritis mereka mampu mengendus agenda-agenda setting dari penyebaran hoaks dan provokasi,  sehingga mereka tidak tergerus ke dalamnya. 

“Kepada putra-putri Nagekeo, tingkatkan semangat literasi dan budaya membaca sehingga kualitas yang baik dan integrasi adik-adik sekalian bisa terbentuk,” kata Valens.

Valens juga mengatakan bahwa hal-hal progres seperti ini perlu dilaksanakan secara sustainable agar masyarakat Nagekeo dan NTT pada umumnya bisa berakar dalam sebuah budaya literasi yang progresif. (*)

Penulis: Emild Kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi