Sen. Des 6th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bangun Kemandirian Ekonomi Lewat Budaya, Roby Idong Akan Kembangkan Tenun Ikat Sikka

2 min read

Bupati Sikka Roby Idong (Keempat dari kiri) saat usai melaksanakan upacara Hari Kesaktian Pancasila 2019. (Picture: suarasikka.com)

MAUMERE, NTTBANGKIT.com – Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam peringatan Hari  Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2019 ini, seluruh aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenakan busana daerah Sikka.

Upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila Selasa (1/10/2019) tersebut dilaksanakan di  Lapangan Kota Baru, Kota Maumere, Pulau Flores.

Perempuan  mengenakan sarung ikat tenun (utan)  sedangkan laki-laki mengenakan ‘lipa  prenggi’ dan ‘lipa  mitan’   dengan  ikat kepala  atau selendang. 

Upacara yang dihadiri  Wakil Bupati Sikka, Romanus  Woga, Ketua dan Wakil Ketua  Sementara DPRD Sikka, Donatus David, Yoseph  Karmianto, pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda)  Sikka, serta para pelajar se-Kabupaten Sikka tersebut dipimpin langsung oleh Bupati  Sikka, Fransiskus Roberto Diogo.

Dalam sambutannya, Roby Idong, demikian sapaan akrabnya memberikan gagasan tentang langkah  alternatif guna menciptakan kemandirian ekonomi melalui produk kearifan lokal. 

Roby Idong, sapaan  Fransiskus Roberto Diogo mengajak  setiap anggota DPRD Sikka mengalokasikan  anggaran Rp 500 juta/anggota membeli hasil  ikat tenun Sikka.

“Kalau  rekan-rekan di  DPRD bisa manfaatkan pokirnya Rp  500 juta untuk beli tenun ikat  maka kita punya stok kekayaaan,” tutur  Roby Idong.

Dalam grand design-nya, Roby  Idong mengatakan bahwa tenun  ikat Sikka yang dibeli kemudian disimpan dalam  galeri dan dijual kembali oleh lembaga Eksekutif pun Legislatif sehingga hasil   penjualan menjadi pendapatan asli daerah.

Roby sendiri mengatakan bahwa  PT Pegadaian telah menerima tenun ikat sebagai  barang gadaian, karena tenun ikat punya nilai tinggi dan stabil di pasaran.

“Ini kekayaan kita  yang nilainya bagus. Sudah selevel emas. Jangan diragukan  soal pemasaranya,” tambah Roby.

Bagi Roby, untuk mencapai kemandirian ekonomi dengan produk kearifan lokal sebagai salah satu motor penggerak, dibutuhkan langkah yang lumayan panjang dengan langkah pertama yaitu mencintai  produk-produk lokal karya tangan masyarakat Sikka.  

Bila sudah ada rasa cinta akan kearifan lokal, produktivitasnya akan meningkat. Dalam hal ini, Pemda Sikka akan membuat lokakarya yang berhubungan keterampilan teknis dalam hal produktivitas kearifan lokal seperti tenun ikat serta sarana dan prasarananya. Bila SDM dan infrastruktur penunjang sudah siap, selanjutnya Pemda akan membuka pangsa pasar sehingga barang  dan jasa dihasilkan masyarakat akan disesuaikan dengan permintaan pasar. (*)

Penulis: Emild kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi