Sen. Des 6th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Sepuluh Tahun Hari Batik Nasional, Aditya Yusma Akan Buat Drama Musikal

2 min read

Bonny Widjoseno dari Yayasan Tjanting Batik Nusantara, Aditya Yusma dari Penida Wastra Persada dan Ditektur Warisan Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly dalam Konferensi perayaan Dasawarasa Hari Batik Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (1/10/2019) - (Picture: antaranews.com)

JAKARTA, NTTBANGKIT.com – Tanggal 2 Oktober 2009, tepat sepuluh tahun yang lalu, bertempat di Abu Dabhi, Uni Emirat Arab, Batik ditetapkan masuk ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

Melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO, Batik resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia ke 3 setelah sebelumnya Keris dan Wayang terlebih dahulu masuk ke dalam daftar ICH UNESCO.

Kini, pada peringatan 10 tahun Hari Batik Nasional yang jatuh pada Rabu (02/10/2019), akan diadakan pagelaran drama musikal bertema batik yang mengisahkan tentang kegelisahan dunia perbatikan tulis dan cap menghadapi gempuran industri tekstil. 

Kegelisahan inilah yang kemudian diangkat dalam sebuah drama musikal dengan tema “Batik Khazanah Peradaban.” 

Adapun drama musikal yang akan ditampilkan di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Rabu (2/10/2019), pukul 19.00 WIB ini merupakan inisiatif komunitas dan pecinta batik, di antaranya Peninda Wastra, Aruna Chakra, dan Yayasan Tjanting Batik Nusantara, serta difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Perayaan ini juga sepenuhnya didukung oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Gelaran ini juga bisa disaksikan melalui live streaming di kanal Youtube Dasawarsa Batik.

Melalui drama musikal ini, warisan budaya membatik akan diperkenalkan lebih dekat lagi dengan kalangan milenial agar warisan budaya tersebut tidak lekang ditelan zaman.

Drama musikal ini disutradarai oleh Aditya Yusma, dengan penata musik Dwiki Dharmawan. Aditya mengungkapkan, alasan pemilihan drama musikal sebagai suguhan dalam peringatan Hari Batik Nasional, salah satunya untuk menggugah generasi milenial agar lebih mengetahui dan mencintai batik.

Ada tiga tokoh utama dalam drama musikal yang akan tampil di acara yang akan digelar di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Rabu, 2 Oktober 2019 ini, yakni Canting, Malam, dan Mr.Print.

“Selama melatih (membatik) di 147 negara, di berbagai kegiatan milenial tidak kelihatan. Namun ketika saya buka kelas seni peran, kelas drama musikal, milenial mau datang. Ratusan jumlahnya. Dari situ saya coba, temanya batik tapi materinya seni peran untuk menarik perhatian milenial,” kata Aditya di perpustakaan Kemendikbud, Jakarta Pusat, Selasa (01/10/2019).

Aditya juga menuturkan bahwa untuk mendalami peran, mereka harus mempelajari batik mulai dari proses awalnya hingga menjadi kain batik.

Ia pun sedikit memberi spoiler bahwa drama musikal ini nantinya akan menceritakan bagaimana konflik batik, antara Canting dan Malam menghadapi serangan Mr.Print yang merupakan pengejawantahan serangan industri tekstil terhadap batik.

 “Jadi seputar itu. Batik yang betul-betul batik cap dan tulis terpengaruh atau tidak, canting dan malam menghadapi tuan print,” katanya.

Ia menyebut bahwa pementasan drama musikal ini akan spektakuler serta memanjakan mata dan telinga. Sebanyak enam medley tarian, dari berbagai provinsi di Indonesia.”Puluhan profesional dancer. Jadi spektakuler. Dibuka dengan tarian tarian medley, dari Sumatra Jawa, Bali, NTT, Papua, Maluku, dibagi menjadi enam medley. Masing masing medley akan membuka drama musikal,” tutur Aditya. (*)

Penulis: Emild kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi