Sab. Jan 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tingkatkan PAD, Pemprov NTT Akan Naikkan Tarif Masuk Wisatawan Mancanegara Di Komodo

2 min read

Seekor Komodo dewasa di Taman nasional Pulau Komodo (Image: Ist.)

“Angin segar bagi masyarakat Komodo karena pemerintah tidak jadi menutup pulau Komodo. Pemerintah justru akan meninggalkan tarif masuk bagi wisatawan asing yang ingin ke pulau Komodo untuk meningkatkan PAD.”

KUPANG, NTTBANGKIT.com – Hembusan angin segar menerpa publik Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya masyarakat Pulau Komodo. 

Wacana penutupan pulau Komodo yang tidak jadi direalisasikan menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap nilai kemanusiaan dan bukti bahwa pemerintah pun mendengar aspirasi rakyat. 

Langkah strategis win-win solution yang akan diterapkan Pemprov NTT menargetkan adalah bagaimana memeroleh PAD sebesar Rp400 miliar per tahun dari Pulau Komodo melalui sistem kartu anggota terhadap wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marius Jelamu kepada Antara di Kupang, Rabu, mengatakan pemberlakuan kartu anggota bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Komodo merupakan gagasan cemerlang Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam melakukan penataan terhadap Pulau Komodo sebagai kawasan konservasi.

Ia mengatakan rapat kordinasi yang dipimpin Menteri Koodinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan serta dihadiri Menteri Pariwisata, Arief Yahya serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berlangsung di Jakarta, Senin (30/9/2019) telah menyepakati untuk melakukan penataan Pulau Komodo sebagai kawasan konservasi yang dikelola secara bersama Pemerintah Pusat, Pemda NTT dan Pemda Kabupaten Manggarai Barat.

Salah satu gagasan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat adalah membatasi kunjungan wisatawan dengan menerapkan sistem kartu anggota bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Komodo.

“Kita ingin agar para wisatawan mancanegara yang datang ke Komodo bisa memberi kontribusi bagi peningkatan PAD Manggarai Barat dan NTT,” tutur Laiskodat. 

“Kami tidak menghendaki Pulau Komodo nanti mengarah kepada mass tourism dimana wisatawan datang berbondong-bondong masuk ke Pulau Komodo tanpa memperhatikan lingkungan di Pulau Komodo sehingga terjadi perburuan liar dan kerusakan lingkungan. Kami inginkan Komodo menjadi liar sehingga kawasan itu seperti aslinya,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Nusa Tenggara Timur, Marius Jelamu.

Dikatakannya, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Komodo wajib melakukan registrasi dan membayar biaya masuk ke Pulau Komodo sebesar 1.000 dolar Amerika Serikat per tahun atau sebesar Rp 14.000.000.

“Bagi wisatawan mancanegara yang memiliki kartu member kapan saja bisa berkunjung ke Pulau Komodo selama kartu member berlaku,” tegas Jelamu.

Ia mengatakan bahwa apabila wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai 50.000 orang maka pemasukan dari pulau Komodo mencapai Rp600 miliar/tahun.

Pemerintah NTT, kata dia, akan mendapatkan pembagian sekitar Rp400 miliar dari pendapatan itu , bahkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat juga mendapat pembagian sebesar Rp100 miliar dan pemerintah pusat Rp100 miliar.

“Dana Rp400 miliar yang diperoleh dari Komodo itu akan didistribusikan Pemerintah NTT untuk kabupaten/kota di NTT,” tegas Jelamu. 

Jelamu pun optimis bahwa pemberlakuan kartu anggota bagi wisatawan mancanegara tidak mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Komodo yang telah ditetapkan sebagai “new seven wondered of nature” di dunia.

“Selama ini kunjungan wisatawan mancanegara jumlahnya banyak dengan tarif masuk yang murah sehingga pendapatan yang diperoleh pemerintah sangat kecil,” tutur Jelamu.

Dalam hal ini,  Jelamu sepakat dengan konsep Laiskodat dan akan menerapkannya untuk meningkatkan PAD NTT. (*)

Penulis: Emild Kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi