Ming. Feb 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

10 views

Komoditi Kelapa, Kakao dan Mente Lumbung Ekonomi Rakyat Sikka dan Flotim (Bagian 1)

4 min read

Kawasan Perkebunan Kelapa di Patiahu, Kabupaten Sikka, NTT (Foto: Istimewa)

NTTBANGKIT.COM,–Sejak puluhan tahun silam, Pulau Flores menjadi daerah penghasil komoditi. Selain Kopi di Manggarai, di Bajawa dan Flores Timur, juga Kelapa, Kakao(Coklat) dan Mente. Dari tiga  jenis komoditi terbesar di Flores ini, Kelapa dan Coklat terbanyak di Kabupaten Sikka sedangkan Mente terbanyak di Flores Timur sesuai daya dukung alam yang sangat cocok untuk tanaman tersebut.

Dalam sejarah Kabupaten Sikka, warga Sikka yang mayoritas petani lebih mengantungkan diri dari tanaman perdagangan komoditi kelapa, kakao, dan mente. Sejak dulu, kelapa ditanam sangat masif  oleh para petani di seluruh wilayah kabupaten yang pernah dijuluki ‘Nyiur melambai’ ini. Daerah yang banyak terdapat pohon kelapa, antara lain di kecamatan  Paga, Lela, Nita, Talibura, Waigeta, Kewapante,  dan beberapa kecamtan lainnya. Tanaman produktif yang tumbuh subur ini menjadi lumbung uang bagi para petani kelapa mulai dari buah, daging kelapa (kopra) hingga batang kelapa.

Dari pantauan lapangan,  tanaman kelapa di Sikka berkembang pesat dari waktu ke waktu walaupun saat ini produksinya menurun karena harga kopra yang biasa saja. Selain milik para petani yang ditanam di kebun-kebun (Pola Pir),  juga ada perkebunan kelapa yang sangat luas milik misionaris Gereja Katolik, seperti di Patiahu dan Wairklau.  Dalam sejarah pembangunan ekonomi di Sikka, karena dikenal sebagai lumbung komoditi kelapa, maka dahulu pemerintah pernah membangun sebuah pabrik kelapa. Namun, pabrik sabun dengan bahan dasar kelapa tersebut tidak bertahan lama.

Selain di Kabupaten Sikka, kelapa juga berkembang di Kabupaten Flores Timur. Beberapa wilayah di Flotim, seperti di Adonara, Ile Boleng, Kelubagolit, Pulau Solor dan beberapa wilayah di Fotim. Tanaman ini terlihat cukup berkembang seiring meningkatnya pembeli dari luar NTT yang membeli kopra, tempurung dan sabut kelapa. Selain untuk kopra, petani setempat juga memproduksi minyak kelapa untuk dijual di pasar.

Meski cukup banyak, namun tanaman kelapa di Flotim jauh lebih sedikit dari Kabupaten Sikka yang telah dijuluki Bumi Nyiur Melambai’ tempo dulu.  Tanaman komoditi yang jauh lebih berkembang pesat di Flotim adalah mente. Mente kemudian menjadi tanaman nomor satu pencetak rupiah bagi para petani di Flotim. Wilayah terbesar produksi tanaman mente adalah  Kecamatan Wulanggitang, Ile Bura, Titehena, Demapagong dan beberapa kecamatan lainnya. Karena berkembangnya mente yang pesat, maka para petani mente di Flotim kemudian membentuk asosiasi koperasi petani mente guna mencegah permainan harga pasar yang merugikan petani.

Harga komoditi (kopra) saat ini di Flores Timur, Rp3.500 -4.000 per kilo gram, sedangkan harga mente di para pengumpul lapangan Rp19.250.00 dan harga dari perusahaan atau gudang sebesar Rp.23.000 per kilo gram. Sementara untuk kacang mente harga jauh lebih magal dari biji mente. Saat ini, kacang mente Rp85-100.000 per kilo gram.    

Selain komoditi kelapa dan mente, di Sikka berkembang pesat tanaman kakao (coklat). Karena lebih cepat bertumbuh dan menghasilkan uang, maka kakao sangat cepat berkembang apalagi didukung dengan alam yang sejuk dan kondisi tanah subur Kabupaten Sikka. Para petani di Sikka mengembangkan pola Pir dan telah lama memetik uang dari biji kakao kering yang mereka jual kepada para pengusaha. Di era Bupati Sikka, Yosep Ansar Rera, mendirikan Pabrik Kopi Coklat yang bahan dasarnya terbuat dari biji kakao. Pabrik tersebut dibangun di kawasan perkebunan pemerintah di Wairklau. 

Selain Kakao, di Sikka juga berkembang tanaman komoditi Mente, namun tidak sebesar yang dimiliki Kabupaten Flores Timur. Di era Bupati Alexander Longginus, pernah dibangun pabrik pengolahan mente di Waidoko, Maumere, namun tidak berkelanjutan karena kurangnya mente yang diproduksi petani Sikka maupun Flores Timur.    

Pembeli  Komoditi dan daerah pemasaran

Dalam sejarah perdagangan kelapa (kopra) di Sikka, dahulu di era Presiden Soeharto, pembeli komoditi adalah Koperasi Unit Desa (KUD). KUD yang dirikan oleh pemerintah mendominasi atau memonopoli seluruh pembelian komoditi kelapa, kakao, mente dan berbagai jenis komoditi lainnya. Setelah membeli dengan harga yang relatif murah, kopra, kakao dan mente kemudian di jual ke luar daerah dengan kapal-kapal kayu yang besar ke saudagar-saudagar komoditi di Surabaya-Jawa Timur dan di Makasar- Sulawesi Selatan.

Selain KUD, pembeli komoditi lainnya adalah para pengusaha Tionghoa yang memiliki modal besar dan memiliki kapal dagang sendiri. Dalam perjalanan, pasca berakhirnya masa kejayaan KUD karena tidak lagi mendapat kepercayaan dari para petani,  maka perdagangan kopra, kakao dan mente di Sikka sepenuhnya jatuh ke tangan para pengusaha Tionghoa yang memiliki modal, gudang penampung dan kapal untuk mengangkut komodit tersebut ke Surabaya. Jalur perdagangan lebih berkembang Maumere-Surabaya.  Selain pengusaha Cina, juga ada beberapa pembeli komoditi dari Makasar-Sulawesi (Bugis). Salah satunya Muhammad yang sangat terkenal membeli komoditi di Sikka yang bermarkas di Kecamatan Nita, Lio, Lela.

Kondisi serupa juga terjadi di Flores Timur.  Dahulu didominasi KUD, dan kemudian dimonopoli oleh para pengusaha Cina di Kota Larantuka yang rata-rata berasal dari Maumere. Komoditi mente dan kopra yang dibeli kemudian di angkut ke Maumere menggunakan truk, selanjutnya ditampung di gudang, dijemur lebih kering dan dijual ke Surabaya. Kondisi tersebut terus berlanjut dan berkembang hingga saat ini. (Korneliusmoanita/NBC) (BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi