Kam. Apr 15th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Komoditi Kelapa, Kakao dan Mente Lumbung Ekonomi Rakyat Sikka dan Flotim (Bagian 2)

3 min read

Tunas kelapa (anakan) yang siap ditanam oleh petani kelapa di Sikka. (Foto: Istimewa)

NTTBANGKIT.COM,-Meski di era pasar bebas ada pembeli yang datang langsung ke Maumere menggunakan kapal sendiri dan membeli kelapa dengan harga yang lebih baik, namun belum mampu merontokan konglomerasi pengusaha Tionghoa yang telah kuat cakaran kukunya di Sikka. 

Mengenai jalur pemasaran komodoti kelapa, kakao dan mente, dari informasi yang diperolah setelah dibeli dari petani Sikka dan Flores Timur,  dan  kemudian dikeringkan sesuai standar perusahaan di Jawa Timur, semua komoditi dari Sikka, Flores, NTT tersebut kemudian dipaking dan di ekspor ke berbagai negara di dunia.  

Harga komodoti belenggu petani

Meski Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur adalah dua daerah yang kaya akan komoditi kelapa, kakao dan mente, namun tingkat ekonomi petani kedua kabupatan ini pertumbuhannya masih sangat lambat dari tahun ke tahun. Mengapa? Karena komoditi kelapa, kakao dan mente milik petani terus mengalami pasang surut dan surut pasang dalam pasaran komoditi.

Berdasarkan laporan warga dan penjelasan pihak pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur, walau memiliki atau sebagai produsen komoditi terbesar di NTT, warga petani kedua kabupaten tersebut belum bisa tersenyum sumringah karena tidak berhak menentukan harga komoditi milik mereka. Harga ditentukan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan dan Perindustrian dan kemudian di permainkan sesuka hati oleh para tengkulak (pengusaha) dan para pengumpul komodoti di lapangan.

Melihat kondisi kemiskinan dari dua kabupaten kaya komodoti tersebut, pihak pemerintah daerah telah lama berjuang agar harga komoditi kelapa, kakao dan mente petani ditingkatkan. Namun, hal itu tidaklah mudah karena jaringan besar komoditi dikuasai para pengusaha besar di Sikka yang kemudian berkoorporasi dengan pengusaha besar Surabaya dalam menentukan harga. Dampaknya para petani di Sikka dan Flores Timur tidak berdaya melawan kekuatan kapital besar yang menguasai mekanisme dan jaringan pasar komoditi.

Dalam serjaran perjuangan rakyat di Sikka, dari bupati ke bupati, sudah berkali-kali warga petani komoditi melakukan perlawanan mendesak pemerintah dan pihak swasta agar membantu menaikan harga komoditi kelapa,kakao dan mente. Alhasil, meski pun belum terlalu tinggi, namun saat ini harga kakao dan mente lebih baik dari masa lalu. Kakao kering harga per kilo gram Rp24.000,- dan per kilo gram Mente dengan harga Rp19.000 sedangkan kelapa hanya berkisar di antara 3-4 ribu rupiah per kilo gram. (Baca Lampiran Data Komoditi Sikka 2019 dan Data Jumlah Pengusaha Komoditi Disperindag Sikka)  Namun demikian, para petani masih berharap, agar pemerintah memperjuangkan harga terus meningkat sehingga ekonomi mereka dapat lebih baik lagi di masa depan.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Sikka, Josep Benyamin, dalam pertemuan dengan NTTbangkit.com,  naik turunnya harga komoditi disebabkan oleh tiga(3) faktor utama, yaitu pertama, biaya operasional, administrasi dan transportasi pengangutan komoditi kopra, kakao dan mente dari Pelabuhan Lorens Say  Maumere ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang sangat mahal. Kedua, adanya penyusutan barang komoditi (kelapa, kakao dan mente) dalam proses pengeringan. Ketiga, warga petani belum sepenuhnya mengedepankan kualitas komoditi.  

Tiga faktor tersebut telah terjadi puluhan tahun dana sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga di pasaran. Dan membuat para petani tidak berdaya. Kondisi ini ditambah lagi dengan adanya dugaan permainan oknum-oknum pengusaha di Kabupaten Sikka dan di Jawa Timur yang menjadi daerah penerima komoditi Kabupaten Sikka dan Flores Timur.  

Apa permainan itu? Salah satunya adalah menutupi informasi harga komoditi kepada para petani dan mengatur dan menentukan secara sepihak kualias komoditi petani tanpa alat takar atau ukur kualitas sesuai standar. Berdasarkan ‘hasil ukur manual melalui mata dan tangan’ pengusaha menentukan harga dan warga petani komoditi tidak berdaya dan kemudian pasrah menjual hasilnya. 

Lebih dari itu, para pengumpul komoditi yang turun mencari atau membeli komoditi ke kampung-kampun juga melakukan aksinya sendiri dengan leluasa menentukan harga kopra, kakao dan mente. Mereka bermain mencari keuntungan dari harga jual pokok yang telah ditentukan pengusaha komoditi. Setelah membeli, mereka menjual kembali ke pengusaha dengan harga yang lebih tinggi dari harga beli kepada petani.  (korneliusmoanita/NBC) (BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi