Sab. Okt 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gubernur Viktor Dorong PT. Flobamora Kerja Sama dengan Bank NTT Beli Komoditi Rakyat

3 min read

Gubernur Provinsi NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek saat di Bandara Soekarno-Hatta, Jumad (12/10/2019) lalu. (Fotobungkornell)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,- Demi meningkatkan pendapatan ekonomi rakyat NTT di bidang komoditi, maka Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat, mendorong perusahan daerah PT. Flobamora membeli seluruh komoditi rakyat NTT, seperti Kopi, Coklat (Kakao), Mente, Kemiri, Cengkah, Fanili, dan lain-lain.

“Provinsi NTT memiliki beberapa komoditi andalan yang telah lama menjadi lumbung ekonomi rakyat. Sayangnya, hingga kini para petani masih masih mengeluhkan harga yang tidak menguntungkan petani. Oleh karena itu, kami mendorong PT. Flobamora untuk membeli komoditi rakyat di Pulau Flores, seperti Kopi, Fanili, Kakao, Mente dan lain-lain yang kemudian dipasarkan atau diekspor ke luar negeri,” kata Gubernur Viktor Bung Tilu Laiskodat yang didampingi Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek di Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Jumad (14/10/2019).

Dikatakan Viktor Laiskodat, yang sedang menunggu jadwal terbang bersama Garuda Airlines ke Kupang, PT. Flobamora sebagai perusahaan daerah milik pemerintah, akan bekerjasama dengan Bank NTT untuk membali seluruh komoditi rakyat NTT.

“PT. Flobamora akan bekerjasama dengan Bank NTT membeli komoditi -komoditi rakyat melalui Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang ada di seluruh desa. Ini strategi atau cara yang tepat untuk membantu meningkatkan ekonomi petani dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD),” kata Gubernur Viktor optimis.

Menurut mantan Ketua Fraksi NasDem di DPR-RI ini, jika terobosan ini tidak dilakukan maka para petani komoditi akan sangat tetap terbelenggu dalam sistem perdagangan komoditi yang dibeli para pengusaha sesuka hati dengan harga yang tidak menguntungkan petani, serta tidak membawa keuntungan bagi pemerintah daerah.

“Kalau komoditi Kopi, Cengkeh, Fanili, Mente, Kemiri dan lain-lain akan dibeli oleh PT. Flobamora, sedangkan Kelapa (Kopra) kita akan datangkan investor dari India yang akan membelinya. Saat ini, mereka sudah menjajaki tingkat produksi petani Kelapa di Flores ( Kabupaten Sikka dan Flores Timur)

Sebelumnya, dalam liputan khusus NTTbangkit.com di Kabupaten Sikka dan Flores Timur menemukan bahwa sejak puluhan tahun warga petani di kedua kabupaten bertetangga itu masih terbelenggu oleh para pengusaha yang mendominasi bisnis komoditi.

Parahnya lagi, selain kurang menguntungkan petani dari segi harga, dari perdagangan komoditi dari Sikka dan Flotim yang dijual ke Surabaya, Jawa Timur ditengarai tidak membawa keuntungan bagi Pemda Flotim dan Sikka. Pihak yang meraup keuntungan besar adalah Pemerintah Jawa Timur dan pengusaha sebagai pihak yang melakukan ekspor komoditi NTT bermerk dagang Jawa Timur. Dan dari haril ekspor sangat menguntungkan Jawa Timur.

Menurut Kadis Josef Benyamin, Pemda rugi karena pihak berwenang yang berhak mengeluarkan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB) bukanlah Kementerian Perdagangan RI melalui Dinas Perdagangan Kabupaten Sikka, tetapi Pemerinta Jawa Timur yang adalah daerah penerima dan pengirim barang ke luar negri.

Kerugian yang telah terjadi berpuluh tahun tersebut karena Pemprov Jawa Timur yang memetik DEVISA  hasil dari ekspor komoditi ke berbagai negara. Padahal, Pemprov Jawa Timur bukanlah daerah yang kaya akan komodoti Kelapa.

Kondisi yang telah terjadi berpuluh tahun ini telah membuat NTT (Sikka-Flores Timur,-red) sebagai daerah asal produksi asli komoditi Kelapa (Kakao) rugi besar. Untuk itu, harus dilakukan terobosan  briliant untuk memangkas mata rantai baja yang telah lama terikat, yaitu jalur perdagangan komoditi dari Maumere ke Surabaya.

Ada tiga keuntungan besar yang akan diperolah pemerintah, pengusaha dan para petani komoditi di Sikka dan Flores Timur jika jalur emas puluhan tahun yang dibangun para pengusaha “DIPOTONG” atau “DIPUTUSKAN.” Tiga keuntungan tersebut, yaitu, pertama, pemda mendapatkan keuntungan langsung dari ekspor komoditi ke luar negeri karena  berhak mengeluarkan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB). Pengusaha mendapatkan keuntungan karena tidak lagi harus menjual barang ke Surabaya, tetapi langsung ke luar negeri.

Dan ketiga, harga komoditi petani akan meningkat (naik) karena jarak perusahaan atau pengusaha yang membeli, mengolah dan mengirim barang semakin pendek (dekat dengan petani). Untuk itu, maka kualitas menjadi yang terdepan. Jadi masyarakat harus didorong untuk terus meningkatkan mutu komoditi yang tentunya sesuai standar internasional atau standar ekspor. (bungkornell/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi