Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Kampung Nilo, dari Kemiri, Kacang Tanah hingga Obyek Wisata Religi

4 min read

Panorama indah Kota Maumere, Kabupaten Sikka, dari Puncak Nilo di senja hari. (Foto: bungkornell/NBC)

MAUMERE, NTTBANGKIT.COM,–Dahulu nama kampung Nilo tidak terlalu terkenal. Kampung kecil mungil di puncak bukit lembah kemiri yang subur dengan kacang tanah itu jauh dari hingar-bingar pemberitaan media dan kunjungan para wisatawan manca negara maupun domestik.  Jangankan wisatawan, kaki aparatur pemerintah pun tak pernah menginjak desa kecil yang dingin di malam hari dan sejuk di siang hari itu.

Dahulu, di kampung kecil penghasil kacang tanah itu tidak ada jalan raya beraspal, tidak ada listrik, dan tidak ada jaringan air minum bersih. Satu-satunya jalan setapak jadi ‘jalan tol tanah’ pakai kaki yang menghubungkan Kampung Nilo dengan Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lembah hutan kemiri di desa Nilo di kala musim kemerau. (Foto: Bungkornell/Oktober 2019)

Warga kampung Nilo pulang pergi ke Kota Maumere menyusuri jalan setapak di lerang bukit dan lembah yang subur dengan ilalang lebat yang penuh dengan ular-ular berbisa berlalu-lalang di kala senja dan malam hari. Banyak yang berjalan kaki dan ada pula yang menggunakan kuda untuk menjual hasil bumi kemiri dan kacang tanah ke Pasar Maumere. Banyaknya ular di bukit itu membuat warga harus berhati-hati.

Sementara itu, soal listrik warga kampung Nilo identik dengan namanya Nilo yang berarti menyala. Kata menyala dalam konteks kampung Nilo sama artinya dengan lampu pelita. Jadi di Nilo kala itu tidak ada listrik tapi hanya ada lampu pelita baik dari botol maupun kaleng-kaleng kecil yang diberi sumbu dan minyak tanah atau juga minyak kemiri.       

Sedangkan air minum, warga kampung Nilo hanya berharap pada air hujan setahun sekali, dan atau harus berjalan kaki mendapatkan air dari mata air yang letaknya sangat jauh dari kampung itu. Kampung Nilo terlihat sangat hijau dan subur di musim hujan dan sangat sejuk di musim panas.

Walaupun letaknya di atas bebukitan yang sangat mentereng dari Kota Maumere, dan dekat dengan Matahari panas, kampung Nilo terasa sangat sejuk dengan angin sepoi-sepoi di siang hari, dan mulai terasa dingin di kala matahari mulai menuju peraduan di ufuk barat. Meskipun penduduknya tak sepadat kampun-kampung lainnya di Kecamatan Nita, para petani di Kampung Nilo telah berperan besar dalam memasok kebutuhan pangan bagi warga Kota Maumere yang terletak kurang lebih 5Km dari Nilo. Selain komoditi kemiri, mente dan kacang tanah, berbagai jenis umbi-umbian dan pisang dan sayuran dan buah dijual warga kampung Nilo ke Maumere.

Patung Bunda Maria Bawa Berkat dan Rahmat  

Patung Bunda Maria di Puncak Nilo. (Foto: Bungkornell/ Oktober 2019)

 

Warga Kampung Nilo yang bertahun-tahun tidur di pondok kebun dan rumah-rumah berdahan kelapa dan berdinding bambu tanpa listrik, air minum dan jalan lancar kendaraan bermotor, kemudian gembira seketika di kala mendengar berita di bukit puncak Nilo desa mereka akan dibangun sebuah patung Bunda Maria raksasa oleh Pemerintah Kabupaten Sikka. Kabar yang kemudian menjadi kenyataan itu, membuat mimpi dan doa-doa warga Nilo dikabulkan Tuhan. Jalan raya dari Desa Ribang ke Puncak Nilo mulai dibangun bagus, dan ‘jalan tol tanah’ satu-satunya digusur dan diperlebar dari Kota Maumere menuju puncak Nilo. Bukan itu saja, tetapi jaringan perpipaan pun mulai dipasang dari Mata Air Wair Puan menuju kampung Nilo menyegarkan dahaga warga kampung yang puluhan tahun tak melihat pipa besi, pipa air, bak penampung dan kran-kran air minum bersih. Semuanya terasa seperti mimpi, tapi itulah ‘berkat dan rahmat dari kehadiran Patung Bunda Maria’ karya putra terbaik Kabupaten Sikka yang dimuat dengan pesawat hercules dari Kota Jakarta.     

Sejak patung Bunda Maria ditaktahkan di puncak Nilo, berkat dan rahmat itu terus mengalir ke kampung yang kemudian dimekarkan menjadi Desa Nilo tersebut. Betapa tidak, kunjungan para peziarah dari berbagai penjuru NTT, Indonesia dan dunia berjubel-jubel ke Desa Nilo memberikan banyak rejeki bagi warga desa. Selain para peziarah Katolik, para wisatawan domestik dan manca negara pun menaiki puncak Nilo (bukan untuk berdoa), tetapi untuk menikmati suasana alam indah nan tenang sejuk sepoi-sepoi, dan dengan kamera merekam keindahan menakjubkan di siang hari maupun kelap-kelip berwarna-warni Kota Maumere di malam hari.

Salib Yesus di Bukit Golgota Puncak Nilo. (Foto:bungkornell/Oktober 2019)

Saat ini, Nilo tidak seperti dulu lagi. Adanya jalan raya melancarkan seluruh aktivitas warga desa. Adanya listrik dan jaringan air minum membangkitkan semangat berjuang, menyegarkan seluruh warga, termasuk ternak dan tumbuh-tumbuhan pun lebih bergairah menuju masa depan obyek wisata religi terpopuler dan ternama di Kabupaten Sikka, bahkan NTT dan Indonesia.

Melihat letaknya yang strategis penuh dengan bukit-bukit kecil indah mentereng, banyak warga dari Sikka maupun dari luar daerah mulai melirik tanah-tanah warga Desa Nilo. Banyak bidang tanah mulai dibeli warga. Selain untuk tempat tinggal juga untuk tempat berusaha kios, warung, restaurant dan lain-lain. Bahkan, sejak Patung Bunda Maria ditaktahkan di Puncak Nilo, beberapa biara Katolik dari berbagai ordo juga telah mencengkeramkan kukunya di bawah Puncak Nilo.

Panorama alam di sekitar Puncak Nilo. (Foto:bungkornell/oktober 2019)

Bila anda ke Maumere, Puncak Nilo sudah terlihat dari kejauhan. Patung Bunda Maria tinggi besar berpakaian putih terlihat kecil mungil berdiri kokoh ‘melihat’ seluruh warga kota. Jangan mengaku sudah ke Maumere kalau belum menikmati panorama alam indah nan sejuk dingin yang tenang dengan angin sepoi-sepoi di Puncak Nilo. Anda akan melihat seluruh lembah dan pegunungan dengan lapisan awan serta seluruh Kota yang dijuluki Bumi Nyiur Melambai oleh Bupati Daniel Woda Pale dalam pelukan, bukit lembah, pepohonan subur dan lautan biru terbentang luas.

Kampung/ Desa Nilo akhirnya seindah namanya Nilo (pelita kecil). Kini ia bersinar terang ke seluruh penjuru dunia menarik dan memanggil para wisatawan dan peziarah datang menikmati sinar cahayanya yang tak terlupakan selamanya. (Penulis: Kornelius Moa Nita/ NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi