Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Rasio Elektrifikasi di NTT Segera Capai 100 Persen

6 min read

Jaringan listrik melintasi kawasan perkotaan di Pulau Flores. NTT(*)

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) optimis rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) akan mencapai 100 persen dalam waktu dekat. Saat ini kondisi rasio elektrifikasi di NTT yang saat ini telah mencapai 73,72 persen, telah meningkat dari tahun lalu yang baru mencapai 62 persen.

GM PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ignatius Rendoyoko, menjelaskan PLN melihat wilayah ini merupakan salah satu provinsi yang tertinggi dalam optimalisasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan ( EBT), khususnya dalam pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Pengerjaan proyek PLTS di NTT dilakukan melalui penggunaan bidang lahan tanah yang tidak lagi produktif, sehingga nilai ekonomisnya akan bisa terkonversi melalui aplikasi PLTS,” paparnya di Kupang, NTT, seperti dikutip dari Kontan.co.id, Senin (16/9/2019).

Sedangkan menurut Direktur Human Capital Management (HCM) PLN Muhamad Ali, proses percepatan elektrifikasi di NTT ini dapat terjadi salah satunya karena adanya dukungan sumber energi terbarukan (EBT) yang melimpah di wilayah tersebut.

“Saat ini lebih dari Rp 9 miliar sudah investasi yang tertanam pada enam pembangunan sumber EBT meliputi PLTP-panas bumi; PLTMH-mikro hidro; PLTS-tenaga surya; dan PLTB-tenaga bayu. Melalui sinergi dengan pemerintah desa, maka pelaksanaan program Tim Percepatan Listrik Pedesaan terlaksana dengan baik,” papar Ali.

Peningkatan rasio elektrifikasi di Bumi Flobamora tersebut, salah satunya juga memerlukan dukungan dan pembangunan dari SDM berkompetensi, yang dihasilkan melalui pelaksanaan program vokasi dengan sejumlah SMKN di wilayah Kupang dan Maumere yang terlaksana sejak tahun 2018.

Selain itu menurut Ali, PLN juga melaksanakan sejumlah program rekrutmen, baik untuk jenjang SMK, S1/D4 selama empat tahun berturut-turut, serta melakukan program kerja sama program D3 dengan Politeknik Negeri Kupang. Sebagai BUMN, lembaga ini juga menyediakan tempat untuk melaksanakan program kerja lapangan (PKL) dan magang bagi berbagai SMK dan SMU, serta menjadi lokasi tempat riset penelitian bagi universitas di lingkungan PLN.

Adapun sejumlah pengembangan SDM di NTT dilakukan melalui program leader create leader pegawai UIW NTT dengan kader asli NTT, yang saat ini telah terealisasi sebanyak 14 dari 18 angkatan yang rencananya berlangsung sampai 31 Desember 2019. Ada juga pengembangan keahlian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); program riset kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana; program pengembangan kompetensi keahlian kabel laut dengan ITB untuk melistriki Kepulauan di Labuan Bajo dengan sistem kabel laut, serta upaya memaksimalkan pemberdayaan putra daerah NTT di PLN.

2020 Seluruh Rumah di Flores Tuntas Dialiri Listrik

Jaringan listrik masuk Desa DOne, Kecamatan Magenpanda, Kabupaten Sikka.

Sebelumnya, seperti diberitakan Berita Satu.Com, bahwa pada akhir April 2019, rasio elektrifikasi di delapan kabupaten di Flores baru 77,5% dan bila ditambah Lembata, rasio elektrifikasi rata-rata 77,2%. Ditagetkan, pada akhir 2019 rasio elektrifikasi di Flores mencapai 90%.

“Paling rendah adalah rasio elektrifikasi di Manggarai Timur yang baru 45,48% dan tertinggi adalah Flores Timur yang sudah mencapai 100%,” kata Djoko Abumanan, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara di Ruteng, NTT, beberapa waktu lalu.

Djoko bersama Dirut Pertamina Nicke Widyawati, Dirjen Kelistrikan Rida Mulyana, dan Dirjen EBTKE FX Sutijastoto mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Jumat (10/5/2019) lalu saat meresmikan titik ke-132 BBM satu harga.

Rasio elektrifikasi 23 kabupaten di NTT, kata Djoko, rata-rata 71,44%. Tertinggi adalah Kota Kupang dan Kabupaten Flores Timur yang mencapai 100%. Di kedua wilayah ini, jaringan transmisi sudah tersambung. Kupang adalah ibu kota Provinsi NTT. Sedangkan, Flores Timur mendapat cukup banyak perhatian dari pemimpin tertinggi NTT. Dua gubernur NTT berasal dari kabupaten ini, yakni Hendrik Fernandez dan Frans Lebu Raya.

Peringkat kedua adalah Kabupaten Ende yang mencapai 97,24%. Itu terjadi karena Kota Ende sudah lama menjadi markas kantor PLN. Sejak zaman Belanda, Ende sudah menjadi kota. Seiring dengan akses jalan, jaringan transmisi juga sudah tersambung ke berbagai wilayah kabupaten.

Peringkat ketiga dan keempat adalah Kabupaten Ngada dan Nagekeo dengan rasio elektrifikasi, masing-masing 93,85% dan 84,95%. Rasio elektrifikasi di kedua kabupaten ini cukup tinggi karena letaknya yang dekat dengan pembangkit, ada akses jalan yang cukup baik ke permukiman, dan jaringan transmisi yang sudah banyak tersambung. Sekitar 13 tahun lalu, Nagekeo adalah bagian dari Kabupaten Ngada. Satu gubernur NTT berasal dari Ngada, yakni Herman Musakabe.

Kondisi kelistrikan di Manggarai Timur cukup memprihatinkan. Rasio elektrifikasi di kabupaten yang terbentuk 13 tahun lalu itu baru 45,48% dan jika dihitung hanya sambungan listrik yang dibangun PLN, rasio elektrifikasinya baru 25%. Penduduk kabupaten ini tersebar di pegunungan yang sulit dijangkau kendaraan bermotor dan itu menyulitkan pembangunan jaringan transmisi.

Dua kabupaten Manggarai lainnya juga tertinggal. Hal itu terlihat pada rasio elektrifikasi di Manggarai yang baru 63,17% dan rasio elektrifikasi di Manggarai Barat yang hanya 62,69%. Ini terjadi karena penduduk di dua kabupaten ini yang terlalu menyebar. Ada yang tinggal di pegunungan, ada yang tinggal di pulau-pulau kecil. Akses jalan masih terbatas. Pihak PLN kesulitan membangun jaringan transmisi. Sekitar 13 tahun lalu, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat adalah satu kabupaten dengan luas lebih dari Bali.

Sungguh pun demikian, secara umum, rasio elektrifikasi di Flores, lebih tinggi dari rasio elektrifikasi di NTT. Rasio elektrifikasi NTT per April 2019 baru 71,36%, sedang rasio elektrifikasi di Flores sudah 77,5% dan Kabupaten Lembata, kabupaten baru di timur Flores sudah mencapai rasio elektrifikasi 74,81%. Sekitar 13 tahun lalu, Lembata adalah bagian dari Flores Timur.

Jaringan Transmisi

PLN kini sedang membangun jaringan transmisi dari Ruteng ke Ropa, Ende Utara. Djoko mengatakan, medan Flores cukup berat karena ada pegunungan dan banyak pulau. Panjang pulau Flores yang mencapai 600 km juga cukup memakan waktu dan biaya pembangunan transmisi.

Djoko meminta pemerintah dan masyarakat untuk membantu PLN dengan memberikan lahan bagi pembangunan jaringan transmisi. Pihak PLN akan memberikan kompensasi atau ganti rugi 15%. Untuk menunjang jaringan transmisi, setiap kabupaten dibangun gardu induk.

Jaringan transmisi dari Ruteng, Borong (Manggarai Timur), Bajawa (Ngada), Mbay (Nagekeo) hingga Ropa (Ende), demikian Djoko, akan selesai Juli tahun ini. Selanjutnya hingga akhir tahun, pembangunan jaringan transmisi dari Ropa ke Maumere dan selanjutnya ke Waerita, Larantuka. Dengan selesainya pembangunan jaringan transmisi, rasio elektrifikasi di Flores sudah diperkirakan bisa mencapai 90%.

Pembangkit

Pasokan listrik di Flores dan Lembaga sebagian besar, sekitar 80%, berasal dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan bahan bakar solar. Dengan medan yang sulit dan konsumen yang sedikit, pemakaian PLTD, kata Djoko, masih bisa ditoleransi oleh PLN.

Namun, dominasi PLTD akan dikurangi perlahan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit tenaga listrik tenaga minyak dan gas (PLMG). Pada akhirnya, PLTGM akan menjadi PLTG yang 100% berasal dari gas. Pemasok gas akan ditender.

Beberapa bulan lalu, PLTMG Labuan Bajo 20 MW resmi beroperasi dengan tenaga minyak. Nanti, perlahan, tenaga minyak beralih menjadi 100% tenaga gas yang dipasok dari Kalimantan. PLTMG Maumere 40 MW sudah beroperasi tahun 2017.

PLTU Ropa berkapasitas 14 MW di utara Ende sudah beroperasi sejak 2013. Pembangkit listrik dengan bahan baku batubara ini menyediakan energi listrik untuk Ende dan sekitarnya, terutama wilayah Maumere dan Nagekeo bagian utara.

PLN kini tengah menuntaskan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Mataloko di Ngada dan PLTP Sokoria di Ende. PLTP Ulumbu berkapasitas 10 MW di Kecamatan Satarmese, Manggarai, sudah beroperasi sejak 2016. Daya pembangkit Ulumbu akan ditingkatkan menjadi 20 MW.

PLTP Mataloko yang semula 2,5 MW kini tengah dinaikkan menjadi 20 MW. PLPT Sokoria berkapasitas 5 MW ditargetkan beroperasi tahun ini, sedang PLTP Mataloko, diharapkan bisa beroperasi selambatnya tahun 2022. Kapasitas PLTP Ropa akan ditingkatkan ke 30 MW.

Keluarga Miskin

Pada akhir 2019, rasio elektrifikasi di Flores akan menembus 90%. Tetapi, untuk mencapai rasio elektrifikasi 100% tidak mudah. Karena banyak keluarga miskin yang tak mampu melakukan penyambungan listrik. Kabel listrik boleh saja melewati depan rumah, tapi mereka tidak mampu menarik energi listrik itu ke rumahnya.

“Ada banyak rumah yang untuk pasang sakelar pun tidak ada tempat karena miskin,” ujar Djoko. Karena itu, bantuan dari pemerintah sangat penting untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%. Bukan hanya biaya pemasangan instalasi listrik, melainkan juga memugar rumah agar bisa dipasangi listrik.

Total rumah tangga di NTT 837.965. Dengan asumsi seluruh rumah tangga miskin 25%, yang membutuhkan bantuan adalah 175.972 rumah tangga di NTT serta 86.633 rumah tangga di Flores dan Lembata.

Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam kata sambutannya saat meresmikan BBM satu harga ke 132 titik di Poco Ranaka, Jumat (10/5/2019) beberapa waktu lalu, meminta para kepala daerah untuk mendata rumah tangga miskin agar bisa mendapatkan bantuan pemasangan.

“Pemerintah harus membantu biaya pemasangan, sedang iuran bayar sendiri. Tapi, data harus akurat agar yang dibantu hanya yang benar-benar tidak mampu,” ujar Jonan kala itu.

Dengan asumsi jumlah keluarga miskin di NTT 175.972 dan biaya pemasangan Rp 700.000, total dana untuk pemasangan listrik sebesar Rp 123,18 miliar. Sedang di Flores dan Lembata, 9 kabupaten, dengan asumsi keluarga miskin 86.632 dan biaya pemasangan Rp 700.000 per rumah, total biaya yang dibutuhkan Rp 61 miliar.

BUMN memiliki dana CSR untuk membantu pemasangan listrik Rp 500.000 per rumah tangga. Sedang Kementerian ESDM memberikan bantuan Rp 700.000 per rumah.

Di Indonesia, kata Joman. terdapat 500.000 rumah tangga miskin yang belum tersambung listrik. “Saya akan undang 50 pengusaha besar di sektor migas dan pertambangan untuk membantu rumah tangga tidak mampu dalam memasang sambungan listrik,” ungkap Jonan.

Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi di Indonesia mencapai 99% tahun ini. Namun, untuk keluarga miskin, perlu ada bantuan pemasangan. Karena itu, target agar seluruh rumah tangga Indonesia terlistriki tahun 2020 cukup wajar.(Sumber: Kompas.com dan Berita Satu.Com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi