Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Terobosan Julie Laiskodat Tekan Harga Produksi Kain Tenun NTT

2 min read

Julie Laiskodat bersama pengrajin tenun NTT (image: poskupang.com)

JAKARTA, NTTBANGKIT.com – Kisaran harga kain tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dari ratusan ribu hingga jutaan membuat banyak masyarakat menganggap bahwa kain tenun merupakan barang mahal. 

Menanggapi hal ini, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan bahwa selendang bisa didapat dengan harga Rp 50 ribu saja.

“Atasan pun cuma 150 ribu rupiah,” katanya saat ditemui di salah satu gerai Jakarta Fashion Week pada 22 Oktober 2019 sebagaimana dilansir dari tempo.co.

Dihubungi nttbangkit.com, Julie mengatakan bahwa mahalnya kain tenun yang bisa mencapai jutaan karena pertama, bahan tenun yang menggunakan kapas asli. Untuk menyiasati hal ini, Julie menambahkan bahwa kini masyarakat NTT telah mengganti bahan dasarnya dengan benang katun atau sintetis.

“Harga kain tenun jadi mahal karena pohon kapas sudah mau punah. Tapi untuk memenangkan pasar, kami sudah jarang menenun dengan kapas asli. Para pengrajin tenun menggantikannya dengan benang katun atau sintetis. Hal ini bisa menekan harga jual kain tenun di pasaran,” tutur Julie.

Kedua, Julie menjelaskan bahwa banyak masyarakat di desa yang tidak mengerti cara berjualan. Mereka tidak memiliki kemampuan berbisnis sehingga langsung memberi patokan harga yang tinggi.

“Ketidaktahuan mengenai pangsa pasar dan dunia marketing membuat masyarakat NTT kadang mematok harga sesuai keringat jerih payah mereka dalam proses menenun. Maka inilah fungsi Dekranasda untuk memberikan edukasi tentang pasaran kain tenun agar bisa laku di pasaran karena harga yang sesuai dengan permintaan pasar, sekaligus mengakomodir jerih payah mama-mama pembuat kain tenun,” tambah istri Gubernur NTT Viktor Laiskodat tersebut.

Ketiga, Julie menjelaskan bahwa akses untuk mendapatkan bahan dasar menenun juga menjadi pertimbangan harga yang mahal. Banyak pengrajin tenun di desa yang harus pergi ke kota untuk mendapatkan bahan, sehingga hal ini pun dimasukan dalam biaya pembuatan.

“Menghadapi permasalahan ini, sekarang sudah kami bantu sediakan bahan di titik-titik pusat binaan Dekranasda. Dengan begitu, semua orang bisa menikmati kain NTT dengan harga terjangkau,” kata Julie kepada nttbangkit.com. (*)

Penulis: Emild Kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi