Sel. Nov 24th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gubernur Viktor: Lahan kering NTT masih butuh banyak air, bukan jembatan!

2 min read

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat sedang menyiram pohon yang tanam saat Peringatan Gerakan Nasional Pemulihan Das 2019 di Kupang, NTT, Selasa (26/11/2019).

KUPANG, NTTBANGKIT.COM,–Kondisi Provinsi NTT yang masih ada begitu banyak lahan kering masih sangat membutuhkan air untuk mengolah tanah pertanian dan perkebunan. Untuk itu, NTT tidak memerlukan pembangunan jembatan, tetapi bendungan dan embung.

“Kita ini wilayah yang masih banyak memiliki lahan kering. Jadi kita masih banyak membutuhkan bendungan dan embung embung untuk menampung air. Berhenti bangun jembatan, karena rakyat membutuhkan air. Jadi kita fokus pada pembangunan fasilitas penampung air,” kata Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam acara HATHI di Aula Politani Undana Kupang, beberapa waktu lalu.

Menurut Viktor, musim panas atau kemerau di NTT sangat panjang, dan musim hujan hanya sedikit. Oleh karena itu, maka diperlukan banyak sarana penampung air hujan yang durasinya sangat pendek, kurang lebih 3 bulan. Sarana seperti bendungan dan embung harus gencar dibangun agar bisa mengatasi kekurangan air setiap musim panas tiba, dan tentunya dapat mendukung pertanian lahan kering di NTT.

Dari data yang diperolah media, di NTT terdapat kurang lebih 1,3 juta hektar pertanian lahan kering. Dimana para petani hanya bergantung pada musim hujan yang sekali saja dalam setahun. Untuk mendukung para petani NTT, Pemerintahan Jokowi -Jusuf Kalla dan kini Jokowi-Maruf Amin telah membangun 7 bendungan di NTT. Tujuh bendungan itu, dua telah selesai dikerjakan, dan 5 lagi sedang dikerjakan.

Sementara itu, dari Kementerian PUPR juga membangun ribuan embung sedang dan kecil di beberapa kabupaten di NTT yang masih sangat membutuhkan air untuk irigasi pertanian, perkebunan dan peternakan. Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah baik kabupaten kota dan provinsi juga terus membangun dengan alokasi APBD NTT yang masih terbatas.

Selain mendorong pembangunan fasilitas bendungan dan embung, Viktor juga mengajak dan menghimbau seluruh warga NTT tidak menebang pohon-pohon di hutan agar mata air di sungai-sungai tidak kering dan mati.

Sementara itu, mengenai pemanfaatan lahan kering, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam sambutannya saat Peringatan Gerakan Nasional Pemulihan DAS 2019 di Kupang, Selasa (26/11/2019), mengatakan, penanganan wilayah kritis di Indonesia termasuk di Provinsi NTT harus dilakukan secara komprehensif dengan prinsip keterpaduan pekerjaan penanaman, sipil teknis dan teknik pembibitan serta mengaktifkan semua unsur dan partisipasi masyarakat.

Dikatakan Nurbaya, penanganan wilayah kritis, harus menghasilkan perubahan, membangun kesempatan kerja dan mengatasi kemiskinan selain mengatasi permasalahan lingkungan. Penegasan Menteri Nurbaya tersebut dibacakan oleh Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung, Ir. Hudoyo, MM pada peringatan Gerakan Nasional Pemulihan DAS tahun 2019 di Lapangan Nunuhena Desa Bolok Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang, NTT. Selasa (26/11/2019).

Menurut Hudoyo, lahan antara lain berupa semberdaya hutan, tanah dan air merupakan modal utama bagi kesejahteraan generasi masa kini dan masa mendatang. Saat ini sebut dia, ada 14 juta hektar lahan kritis yang tersebar di 17 ribu DAS di Indonesia.

“Lahan kritis ini harus kita pulihkan dengan meningkatkan produktivitasnya melalui kegiatan penanaman dan membangun konservasi tanah dan air seperti teras, dam penahan, gully plug, embung serta mengembangkan usahatani konservasi seperti agroforestri,” kata Hudoyo pada kesempatan itu. (korneliusmoanita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi