Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pertemuan IMO 2019 di London, Nae Soi Apresiasi BPK RI yang Terpilih Jadi External Auditor

3 min read

Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM. (*)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi.MM, menghadiri pertemuan negara-negara maritim yang tergabung dalam International Maritime Organisation (IMO). Dalam pertemuan yang digelar di London, Inggris dan dihadiri 174 negara membahas berbagai isu aktual dunia mengenai maritim. Dalam forum maritim dunia ini, juga dihadiri badan-badan PBB yang menangani bidang maritim.

Selain itu, pertemuan tersebut juga untuk memilih Auditor External yang akan melakukan pemeriksaan keuangan negara-negara yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dimana Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia berhasil dipilih oleh 64 negara menjadi auditor eksternal.

“Saya ke London diundang oleh IMO karena saya adalah anggota Represtatif Personal. Saya ke London bersama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan BPK RI. Kita patut berbangga karena dalam forum international itu, kita dipilih oleh mayoritas negara-negara yang hadir menjadi External Auditor,”kata Josep Nae Soi, Kamis (5/12/2019) di Jakarta seusai kembali dari London beberapa hari lalu.

“Indonesia yang mencalonkan diri menjadi External Auditor menyisihkan Inggris dan Italia. Ini sebuah sejarah baru bagi kita,” imbuhnya.

Dijelaskan Nae Soi, ada tiga tujuan besar dari kegiatan forum maritim dunia adalah untuk melindungi pelaut-pelaut dunia, termasuk perlindungan terhadap 14 ribu pelaut Indonesia, mengatur tentang kapal-kapal laut, dan perlindungan laut dari polusi-polusi, seperti limbah atau sampah di laut dunia.

“Ada yang mengatakan bahwa IMO tidak bermanfaat. Saya tegaskan kalau 14 ribu orang itu disuruh pulang semua ke Indonesia, maka mereka akan menjadi penganggur.Saya tegaskan itu sangat keliru. IMO sangat bermanfaat untuk melindungi pelaut, kapal-kapal dan melindungi laut dari polusi sampah-sampah,”tegas Nae soi.

Dalam forum ini, kita melakukan lobi-lobi agar kapal-kapal asing bisa datang langsung ke Indonesia untuk berdagang. Selama ini, kapal-kapal yang datang hanya melalui Singapura. “Kenapa lewat Singapura, karena lobi kita sangat lemah. Jadi IMO ini sangat penting peranannya bagi kita. Kalau kapal,” ujar Nae Soi.

Hal lain, tambah Nae Soi, agar Alki yang sudah diberikan bagi dunia international diperjuangkan agar juga bermanfaat bagi Indonesia, sepeti Alki Lombok, Alki Sunda, Alki Bombay, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini alur laut internasional yang sudah lama.

Menanggapi berbagai nada miring tentang kepergian ke London, Nae Soi kembali menegaskan bahwa kepergiannya ke London bukan atas nama Wagub NTT, tetapi sebagai Representatif Personal yang diundang oleh IMO. Karena dirinya telah lama menjadi anggota IMO. “Saya ke London atas ijin dari Presiden Joko Widodo. Saya diundang resmi oleh IMO,” terang Nae Soi.

Untuk diketahui, dikutip dari situs Kemenlu RI, International Maritime Organization (IMO) merupakan badan khusus PBB yang bertanggungjawab untuk keselamatan dan keamanan aktivitas pelayaran dan pencegahan polusi di laut oleh kapal. Secara teknis, IMO memiliki tugas dalam pemutakhiran legislasi yang ada atau untuk mengembangkan dan mengadopsi peraturan baru, melalui pertemuan yang dihadiri oleh ahli maritim dari negara anggota, serta organisasi antar-pemerintah dan non-pemerintah lain seperti BIMCO, CMI, Greenpeace, dan IALA.

Hasil dari pertemuan komite dan sub-komite IMO adalah konvensi internasional yang komprehensif yang didukung dengan ratusan rekomendasi yang mengatur berbagai fase dalam bidang pelayaran internasional, yaitu:Kegiatan yang ditujukan bagi pencegahan kecelakaan, termasuk standar rancangan kapal, konstruksi, perlengkapan, kegiatan operasional dan ketenagakerjaan berdasarkan perjanjian internasional.

Perjanjian tersebut, antara lain International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) tahun 1974 dan 1978; Convention for the Prevention of Pollution from Ships (MARPOL) tahun 1973; dan Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) tahun 1978.(korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi