Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Kelor NTT Semakin Berkembang

3 min read
Meybi Agnesya Lomanledo, Timor Moringa (Image: republika.co.id)

KUPANG, NTTBANGKIT.com – Sebuah miracle tree yang dikenal sebagai Kelor (Moringa olefera) merupakan tumbuh yang banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Saking banyaknya tanaman tersebut, orang NTT selalu mengatakan bahwa  kelor adalah tanaman yang dikonsumsi bila tidak ada uang.

Stigma semacam ini pertama kali diantitesis oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang melihat bahwa kelor, selain bisa meningkatkan gizi masyarakat NTT, bisa juga menjadi penggerak ekonomi NTT karena dibutuhkan oleh dunia internasional.

Perkembangan Bisnis Kelor

Sejak Januari 2018 lalu, Timor Moringa, sebuah plat bisnis yang dirintis oleh Meybi Agnesya Lomanledo mengembangkan kelor menjadi berbagai macam produk bernilai tambah.

Meybi ingin petani lokal bisa mengembangkan tanaman kelor yang biasanya hanya dijual Rp 5.000 per ikat. Buktinya, setelah dikemas dalam merek Timor Moringa, olahan tanaman kelor bisa memiliki harga berkisar Rp 35.000 hingga Rp. 100.000.

Omzet Timor Moringa per bulannya yaitu Rp 25 juta – 30 juta. Sebanyak 600-800 kemasan pun ludes terjual per bulannya. Namun yang paling laku, menurut Meybi, adalah teh celup kelor.

Dari jejak digital dan dokumentasi, nttbangkit.com mendapat informasi bahwa Meybi pernah membawa produk olahan kelornya ke Indonesia Women’s Forum 2019 November lalu. 

Saat diwawancara oleh SWA Online, Meybi mengaku tidak meragukan kualitas dan kuantitas kelor di tanah asalnya yaitu NTT.   

“Saya bisa saja mengembangkan bisnis ekspor kelor ke luar negeri. Tapi kalau ekspor kan ada kuota yang harus dipenuhi secara konsisten. Nah, saya belum mampu untuk itu. Namun saat ini salah satu program dari Gubernur NTT terpilih adalah penanaman kelor, sehingga saya yakin potensi ekspor dalam beberapa waktu ke depan bisa digalakkan,” ujarnya dilansir dari republika.co.id.

Produk olahan Timor Moringa mulai dari teh celup kelor, daun kelor kering kemasan, cokelat kelor, biji kelor kemasan, serbuk kelor, cookies kelor, minyak biji kelor, hingga makanan siap santap seperti bubur kelor. Untuk bubur kelor, Meybi mengaku, banyak dipesan oleh orang yang sakit. Selain bubur kelor, ada juga es teh kelor dan es blender kelor, semuanya dapat dipesan dan diantarkan dalam waktu singkat dari rumah ke rumah.

Semua produk ini adalah hasil trial and error Meybi sendiri. Wanita yang tidak memiliki latar belakang bisnis ini mengaku tantangan justru datang dari stigma warga lokal. Kalau tidak punya uang, baru makan kelor, begitu istilahnya. Jadi ketika Meybi mengolah daun kelor dan menjualnya dengan kisaran harga yang lebih tinggi, ada yang protes mengapa mahal sekali.

Sudah ada tiga karyawan tetap yang membantu Meybi mulai dari proses hulu hingga hilir. Sisanya adalah outsourcing yang dipekerjakan tergantung pesanan. Produk Timor Moringa dijual di rumah Meybi dan dititipkan ke toko oleh-oleh.

Untuk promosi sendiri, Meybi mengandalkan sosial media seperti Instagram dan Facebook. Tidak hanya untuk menjual, tapi juga mengedukasi manfaat kelor dan posting berbagai makanan olahan kelor lainnya seperti spageti kelor dan es krim kelor.

Saat inicakupan pasar terbesar Timor Moringa memang masih NTT terutama Kupang. Namun ke depannya, Meybi ingin jual ke luar negeri. Ia mengaku sering ikut pameran dan bertemu dengan banyak konsumen orang asing. Lucunya, pengetahuan orang asing tentang kelor ternyata jauh lebih luas dibanding dirinya.

 “Saya ingin mempelajari lebih banyak mengenai kelor. Malu dong masa penjual dan pembeli lebih paham pembelinya?” ujarnya dilansir dari republika.co.id. 

Meybi ingin mendalami dan mengeksplorasi tentang potensi pengembangan kelor agar para petani NTT bisa semakin banyak memproduksi kelor tanpa takut akan pangsa pasar yang sedikit. (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi