Kam. Jan 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Meriah HUT NTT ke-61 di Jakarta, Disemaraki Parade Seni Budaya, Potong Kue Raksasa dan Doa Syukur Para Tokoh Agama

7 min read

Doa bersama 6 tokoh agama NTT dalam memperingati HUT NTT ke-61 di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Jumad (20/12/2019). Tampak Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si bersama para tokoh agama dan seluruh pemuda-pemudi NTT sedang berdoa. (Foto istimewa/bungkornell).

Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek,M.Si didampingi istri seddang memotong kue ulang tahun NTT disaksikan para tokoh agama dan para pemuda-pemudi NTT di hadapan 1000 lebih warga NTT diaspora.

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Hari Ulang Tahun Provinsi NTT yang ke-61 tahun 2019 ini dirayakan penuh suka cita oleh warga NTT diaspora Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek). Acara yang berlangsung di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia (TMII) Jumad (20/12/20190 ini sangat meriah dalam semangat kekeluargaan yang tinggi. Para generasi milenial NTT diaspora yang menjadi motor penggerak pun, mendapat dukungan dan simpati yang sangat besar dari seluruh lapisan masyarakat Flobamora. Kurang lebih sebanyak 1.000 warga tumpah ruah, dari anak-anak kecil, kaum remaja, para pelajar dan mahasiswa, tokoh dan sesepuh IKB Flobamora hadir dalam suka cita besar merayakan syukuran ulang tahun Provinsi NTT yang dijuluki ‘Nusa Tertinggi Toleransi’ ini.

Dalam acara yang mengusung tema “LEBIH DEKAT LEBIH MAJU” yang dihadiri para undangan dari beberapa provinsi ini diwarnai dengan pagelaran seni budaya tarian-tarian daerah, tarian kolaborasi yang kental berbalut tenun ikat NTT, dari etnis Flores, Alor, Timor hingga Sumba yang seluruhnya dibawakan oleh anak-anak muda generasi milenial NTT. Ada Tarian Tenun dari Miomafo-Biboki, ada Tarian Congkasai dari Manggarai, ada Tarian Padi dari Alor, Tarian Likurai dari Malaka, Tarian Midlay oleh Sanggar Flobamora, Parade Budaya NTT oleh seluruh etnis NTT, dan lain-lainnya.

Parade budaya NTT pada HUT NTT ke 61 oleh seluruh etnis NTT di Jakarta.

Seperti disaksikan NTTBangkit.com, perayaan HUT NTT ke-61 yang diselengarakan oleh generasi Milenial NTT pimpinan Adolfus Reku dan Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek,M.Si ini diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Lagu Flobamora Tanah Airku yang dipimpin sang dirijen Fransiska Wini. Kemudian dilanjutkan dengan Tarian Likurai penyambutan tamu yang ditampilkan putra-putri Malaka-Jabodetabek. Getaran irama musik khas timor dan gemulai gerakan penari berbalut tenunan timor membuat semua mata dan bidikan kamera tertuju pada para penari yang berlenggak-lenggok di hadapan para tamu dan seluruh warga yang hadir. Kepala Badan Viktor Manek, tampak berdiri menari ketika menerima selendang yang dikalungkan sang penari.

Setelah beberapa tarian ditampilkan di sesi awal, acara puncak pun ditampilkan, yaitu Parade Budaya NTT dan doa bergilir yang dibawakan 6 orang tokoh agama dan pemotongan kue besar yang ditandai dengan nyala sebatang lilin putih di tengah-tengah semua tokoh agama yang dipegang secara bergilir dan diletakan di atas sebuah kue besar persegi empat. Suasana doa yang hening menggelayut ke pada Sang Pencipta sebagai ucapan syukur dan terima kasih karena telah menciptakan dan memberi kehidupan kepada seluruh orang NTT. Doa bersama dari 6 tokoh agama tersebut menggambarkan bahwa NTT adalah ‘Nusa Tertinggi Toleransi’ yang menjunjung tinggi keharmonisan kehidupan beragama yang menjadi modal besar kekuatan orang NTT dalam membangun NTT dari dulu hingga saat ini.

Tarian Tenun dari Miomafo-Biboki yang dibawakan putra-putri dari Timor.

Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si dalam sambutannya, mengatakan, dalam HUT NTT ke-61 merupakan momentum refleksi untuk terus bangkit dan melangkah lebih maju. Dengan tema ‘Lebih dekat Lebih Maju,’ dia mengajak semua warga NTT diaspora untuk lebih dekat merapat bersama-sama bersatu, bergerak membangun NTT dengan tidak mengedepankan ego antara etnis. Menurutnya, hanya dengan kebersamaan, persatuan dalam persaudaraan, maka cita-cita besar untuk sejahtera dapat tercapai. Baginya, NTT yang dikenal dengan kemiskinan, human trafficking, dan ketertinggalan harus menjadi ‘Nikmat Tiada Tara, Nusa ‘Tertinggi Toleransi,’ dan ‘Nusantara Tanah Tercinta.’

“Hari ini NTT berusia 61 tahun. Ada sebuah tema kecil ‘NTT Lebih Maju. Lebih maju, Apakah bisa? Pasti Bisa. Kemarin saya ke Kelibara. Kelibara adalah sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah Kelimutu. Di Kelibara ada sebuah sungai kecil dari mata air. Air sungai kecil itu mengalir mulai dari mata air melewati batu-batu kecil berkelok-kelok terus mengalir melewati batu-batu besar. Air sungai itu terus mengalir hingga mencapai muara tentu dengan susah payah. Sejak tahun 1958, NTT dikenal dengan kemiskinan dan traffiking, sekarang saatnya NTT bangkit,” kata Viktor Manek yang mengenakan busana adat Tana Malaka dengan tas sarung yang melintang di dada.

Putri-putri Manggarai ketika membawakan Tarian Congkasai.

Dikatakan Viktor Manek, NTT bangkit dengan kekuatan pariwisatanya sebagai Prime Mover. Pariwisata NTT sangat luar biasa. Pariwisata NTT terbentang di 1.192 pulau. Pada 1.192 pulau tersebut ada masing-masing ada wisata pantai, wisata budaya, wisata alam, dan wisata religi serta agro wisata. Seluruh potensi itu terbentang dari ujung Pulau Flores hingga Alor, Timor dan Pulau Sumba.

“Ada komodo di Labuan Bajo, ada danau kelimutu, ada taman laut yang indah, seperti di Alor Pink Beach (Pantai Merah Jambu) yang mengalahkan Pantai Caribia. di Alor juga ada ikan duyung dan manusia terbang. Kalau mau lihat ikan duyung dan manusia terbang ayolah ke Alor. Di Waerbo, ada rumah-rumah adat ditengah puncak perbukitan yang kitari sawah jaring laba-laba yang menegaskan orang NTT hidup dari tanah dan menjaga kelestarian alam. Lalu di Ngada ada kampung adat Bena dan di Nageke ada lekukan-lekukan pulau-pulau indah wisata pulau Riung. Dari Ngada kita ke Ende, di sana ada Rumah Bung Karno dan Pohon Sukun Lima Cabang. Di sana lahirnya inspirasi Bung Karno lima sila Pancasila,” ungkapnya.

“Lalu kita ke Sikka ada pohon nyiur yang melambai, taman laut yang indah.Kemudian kita ke Bumi Lewotana Flores Timur ada serambi Katolik Roma dimana Semana Santa digelar setiap tahun. Setelah itu, ke Lembata ada arus ikan Paus di Laut Lamalera. Kemudian kita ke Pulau Timor ada musik Sasando dan harum aroma kayu Cendana sebagai penjaga perbatasan NKRI dimana nywa menjadi taruhan. Dari Timor ke Rote, ada Pantai Nembrala. Jika di Bali ombaknya hanya satu kali bantingan, di Nembrala ombaknya 7 kali bantingan. Lalu kita tidak perlu ke Amerika tapi cukup ke Sabu saja karena ada bukit Kalabamadja yang sangat indah. Lalu kita ke tanah Merapu mendengarkan ringkikan kuda Sandelwood di Pulau Sumba. Itulah gambaran umum potensi pariwisata kita yang sangat kaya, jauh lebih kaya dari daerah lainnya,” ungkpa Viktor Manek disambut pekikan ratusan pemuda-pemudi NTT gembira.

Warga NTT dan tamu undangan lintas Agama yang hadir dalam HUT NTT ke 61 di Anjungan NTT, TMII.

Melihat potensi pariwisata yang besar ini, lanjut Viktor Manek, maka acara HUT NTT ke-61 20 Desember 2019 ini diserahkan kepada kaum generasi muda yang adalah generasi milenial yang akan melanjutkan membangun NTT melalui potensi budaya dan pariwisata. Dengan acara ini, dia berharap, generasi milenial bangkit, merasa memiliki dan terlibat aktif bersatu membangun NTT dengan menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover.

Sementara itu, Eusabius Binsasi, salah satu tokoh muda NTT dari Tana Timor, dalam sambutannya juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada para generasi mileniel NTT yang diberikan kepercayaan oleh Badan Penghubung NTT untuk panitia penyelenggar HUT NTT ke 61 di Jakarta. “Kita bukan hanya memberikan aplaus, tapi ita harus mendukung mereka (kaum muda), agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang serta mereka dapat memetik hal yang baru. Setelah itu, mereka dapat pulang ke kampung membangun daerahnya,”kata Mantan Dirjen Bimas Katolik di Kementerian Agama RI ini.

Ketua Panitia HUT NTT ke-61, Adolfus Reku ketika membawkan sambutan.

Sedangkan Ketua Panitia HUT NTT ke-61, Rudolfus Reku, dalam sambutan singkatnya mengucapkan limpah terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi NTT yang melalui Badan Penghubung NTT di Jakarta telah memberikan kepercayaan untuk menjadi panitia penyelenggara.

“Kami dipercaya oleh Bapak Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek untuk menjadi panitia HUT NTT ke 61. Kami memberikan penghormatan yang tinggi atas kesempatan emas ini. Ini adalah pertama kali dalam sejarah dimana kami generasi muda diberi kesempatan. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Badan Penghubung NTT. Saya mengajak kepada semua generasi muda milenial NTT. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk membawa harapan besar untuk NTT maju bersama kita bangkit kita sejahtera,” tegasnya yang tampil bicara berapi-api di depan back drop bertuliskan ‘Lebih Dekat Lebih Maju’ HUT NTT ke 61 berwana biru kuring, dengan foto Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, Wakil Gubernur Drs Josef A. Nae Soi, MM dan Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si.

Disaksikan NTTbangkit, pemandangan yang menarik acara parade budaya, doa tokoh agama dan pemotongan kue tar raksasa pun tiba. Sepasang muda-mudi tampak berbusana adat membawa bendera Provinsi NTT berlogo NTT dan bertuliskan 1958 bergerak dari bagian belakang menuju ke tengah tempat acara diikuti sepasang penari Ja’i, Kaban Viktor Manek, pemuka agama, tokoh-tokoh serta para sesepuh. Setelah seluruh tokoh tepat berdiri berjejer di atas panggung, sebuah kue besar diletakan di atas meja dan lilin sebatang lilin putih pun di pasang. Dengan iringan lagu Ulang Tahun seluruh warga dan para tokoh menyanyikan bersama-sama dengan gegap-gempita.

Ribuan warga menari Tari Gawi Ende di halaman tengah Anjungan NTT.

Kaban Viktor Manek didamping sang istri yang mengenakan busana adat, dengan perlahan nan lembut memotong kue raksasa karya anak muda milenial NTT dan kemudian membagi-bagikan kue kepada semua tokoh agama, tokoh dan sesepuh dari IKB Flobamora sera perwakilan kaum milenial. Lagu Bo Lele Bo, terdengar indah nan sahdu mengingatkan hati dan nurani ratusan warga diaspora yang hadir.

Semarak lagu-lagu dan tarian dari beberapa sanggar seni anak-anak dan kawula muda terus meramaikan panggung acara memmbakar semangat kebangkitan seni budaya dan pariwisata NTT. Kemeriahan acara ini dilajutkan dengan jamuan makan malam,dan tarian Jai masal, Tari Gawi, Dolo-dolo dan Tari Tebe. Acara yang dimulai sekitar pukul 07.00 dan diawali dengan anggin sepoi-sepoi dan rintik hujan ini berakhir dengan tarian gaya bebas ala anak milenial yang ditutup oleh Kaban Viktor Manek pada pukul 01.00 pagi waktu Jakarta. (Korneliusnoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi