Sen. Okt 26th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Ubi, Jagung, Pisang, Kacang dan Kelor Makanan Orang NTT, Budaya Warisan Leluhur Berabad-abad

5 min read

Sajian pangan lokal NTT (Ubi kayu, pisang dan jagung) saat acara Tatap Muka Pemprov NTT di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (dokumen NBC)

“Kita ini lahir dari orang tua petani. Jangan malu untuk bertani karena kita hidup dari tanah, ladang dan kebun kita berabad-abad. Jika kita malu tidak mau masuk kebun, maka kita akan susah di kemudian hari. Olahlah tanah kita, tanamlah dengan berbagai macam tanaman, termasuk Kelor yang mahal harganya dan sangat bergisi. Saat ini, kami sedang membangun pariwisata. Adanya pariwisata ini akan banyak membutuhkan pangan, dan pangan seperti buah, sayuran dan lain-lain pasti dari kebun petani. Mari kita tingkatkan semangat bertani warisan leluhur untuk terus mempertahankan budaya kita, dan memenuhi kebutuhan hidup kita.” (Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef Adrianus Nae Soi, MM.)

JAKARTA,NTTBANGKIT.COM,-Sejak jaman dulu kala, nenek moyang (leluhur) orang NTT hidup dan terus berkembang dari ubi-ubian, jagung, pisang, jewawut, kacang-kacangan, dan daun-daunan seperti kelor, dan lain sebagainya. Mereka mengkonsumsi beras  dari padi ladang yang sangat bergisi tinggi, ada padi hitam, putih dan merah.Fakta ini pada umumnya terjadi hampir di seluruh wilayah NTT, dimana jagung, ubi-ubi-ubian, pisang berbagai jenis hampir menjadi makanan pokok seluruh warga NTT mulai dari orang Manggarai, orang Ngada, orang Ende, orang Sikka, Flotim Lembata dan Alor. Di Lembata, Alor dan Flores Timur, jagung diolah dalam bentuk jagung titi. Jagung titi hingga sekarang tetap bertahan menjadi makanan pokok selain beras toko. Jagung titi juga bisa dicampur dengan beras lalu di masak untuk dimakan bersama keluarga.

Selain orang Flores, ubi-ubian, jagung, pisang dan kacang-kacangan juga menjadi makanan pokok orang Sabu, Rote, dan di Pulau Timor dan Sumba. Sebagaimana mayoritas petani di Flores yang menanam tanaman jagung, pisang, ubi-ubian,dan kacang-kacangan, demikian pula para petani di Sabu, Rote, Timor dan Sumba. Hingga saat ini, setiap musim tanam pasti terlihat hijau hutan tanaman jagung di ladang-ladang maupun di pekarangan rumah warga. Ada pohon jagung, ada pohon pisang, ada pohon ubi kayu, dan kacang-kacangan. Ada yang perkebunannya luas dan ada pula yang sempit.

Sistem pertanian yang diterapkan para petani di NTT berbeda-beda. Semua berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diajarkan nenek moyang mereka yang telah menjadi budaya dari jaman ke jaman. Mereka juga mempunyai sistem ketahanan pangan yang yang sangat baik dan bertahan lama. Di ladang mereka bukan hanya tanaman padi saja, tetapi ada jagung, ubi kayu, pisang dan berbagai jenis ubi yang melatah dan kacang-kacangan. Ada kacang tanah, kacang panjang, dan kacang-kacangan lainnya.

Memang unik dan sistematis cara nenek moyang orang NTT bercocok tanam dan mengkonsumi hasil pangan yang ditanam. Semua jenis tanaman yang ditanam tidak dimakan sekaligus, tetapi dimakan secara bertahap, dan sebagian disimpan di lumbung untuk menghadapi musim paceklik. Para petani sangat rajin bekerja keras mengolah tanah mereka untuk mempertahankan kehidupan dan keturunan mereka. Oleh karena itu, budaya bertani yang diwariskan nenek moyang  tetap bertahan berabad-abad hingga saat ini meskipun akhir-akhir ini mulai menurun drastis.

DI tengah pesatnya kemajuan teknologi yang diwarnai dengan maraknya berbagai jenis makanan import yang siap saji di Mall-mall, indomaret, alfamaret, dan lain-lain, generasi muda terlihat sudah terbawa arus globalisasi ekonomi dunia. Arus produksi makanan instan siap saji dari luar negeri semakin hari terus membanjiri NTT. Hampir seluruh kabupaten di NTT sudah dipenuhi makanan siap saji. Kondisi ini diperkencang lagi alias tidak terbendung lagi dengan kemajuan sarana trasportasi laut dan darat, serta dinamika perdagangan bebas dunia saat ini. Mulai dari anak-anak kecil, remaja dan para orang tua, kini sudah berkecendurungan mencari makanan instan produksi pabrik dari pada pangan lokal. Katanya, harus hidup selaras perkembangan jaman. Jangan tertinggal!

Bila ke kampung-kampung di NTT, panorama kontras sudah terlihat jelas, dimana pada umumnya generasi muda NTT sudah sangat sedikit berada di kebun atau sawah ladang mereka.  Kebun-kebun lebih banyak terlihat para orang tua. Sementara orang muda sudah jarang masuk kebun. Mereka lebih memilih mencari uang di kota atau pergi merantau untuk penuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tampaknya semangat mewariskan budaya bertani untuk menanm ubi-ubian, jagung, pisang, kacang-kacangan, dan sayuran mulai terlihat sangat menurun.

Anak muda yang putus sekolah saja merasa gengsi menjadi petani, apalagi anak muda yang bersekolah, rasa gengsi dan malu menjadi petani sudah mengejala masif. Ada bermacam-macam alasan mereka malu bertani atau menjadi petani, seperti  gaya hidup, lama mendapatkan uang, kotor-motor dan harus masuk kebun. Ada pula alasan lainnya, yaitu lahan bertani sudah dijual orang tua, lahan makin sempit, hasil menurun, harga pangan menurun, dan lain sebagainya. Kondisi ini sangat berbahaya bagi sistem ketahanan pangan orang NTT, terutama masa depan atau regenerasi petani NTT.

Melihat fakta di atas, maka apa yang dilakukan Pemerintah NTT di bawa kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Drs. Josef Adrianus Nae Soi, MM  patut di apresiasi dan didukung penuh. Ada dua kebijakan atau program besar Viktor-Josep yang bisa membangkitkan kembali gairah para petani terutama generasi muda NTT, yaitu melalui program Pariwisata dan Program Pengolahan Lahan Warga oleh Pemerintah untuk budidaya tanaman kelor dan lain-lain. Dan satu lagi yang aktual, yaitu memasarkan hasil produksi pertanian ke luar daerah.

Dengan adanya program besar pariwisata yang kini tengah digalakan selain membawa divisa negara atau PAD juga dapat meningkatkan taraf hidup para petani, mengapa? Jawabannya, wisatawan mancanegara maupun domestik membutuhkan pangan. Dan untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti padi, jagung, pisang, ubi-ubi, kacang-kacangan dan sayuran semua berasal dari kebun atau ladang para petani. Jika permintaan kebutuhan pangan tinggi seiring pesatnya kedatangan para wisatawan, maka tingkat pendapatan petani pun akan meningkat. Dengan demikian semangat mewariskan budaya bertani akan mulai kembali meningkat pesat.

Selain itu, dengan adanya kebijakan Pemerintan NTT yang mau atau berani mengambil alih atau mengolah lahan-lahan tidur (kosong) warga yang tidak diolah, dan berani melakukan terobosan memasarkan hasil produksi ke luar NTT, maka    para petani muda akan mulai buka mata bahwa ternyata hidup sebagai petani juga bisa sejahtera. Dengan demikian, maka etos kerja mereka yang rendah mulai bergairah kembali karena adanya jaminan dan kepastian dari pemerintah.   

Melihat kondisi menurunya semangat generasi muda yang enggan menjadi petani dan memilih merantau atau menjadi tenaga kerja di luar NTT, Wakil Gubernur NTT, Josef Adrianus Nae Soi, tidak tinggal diam. Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan warga NTT (di dalam maupun di luar NTT), selalu mengingatkan dan mendorong anak-anak muda (perempuan dan laki-laki) agar tidak malu menjadi petani. Nae Soi, sang putra petani dari Bajawa tana Ngada ini, selalu memberi motivasti agar anak-anak muda tidak meninggalkan kebun dan ladang mereka lalu pergi merantau ke luar daerah, tanpa ada bekal keterampilan dan dokumen-dokumen resmi. Yang pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah hukum.

“Kita ini lahir dari keluarga dan orang tua petani. Jangan malu untuk bertani karena kita hidup dari tanah, ladang dan kebun kita berabad-abad. Jika kita malu tidak mau masuk kebun, maka kita akan susah di kemudian hari. Olahlah tanah kita, tanamlah dengan berbagai macam tanaman, termasuk Kelor yang mahal harganya dan sangat bergisi. Saat ini, kami sedang membangun pariwisata. Adanya pariwisata ini akan banyak membutuhkan pangan, dan pangan seperti buah, sayuran dan lain-lain pasti dari kebun petani. Mari kita tingkatkan semangat bertani warisan leluhur untuk terus mempertahankan budaya kita, dan memenuhi kebutuhan hidup kita. Pemerintah akan terus memberikan perhatian, baik irigasi, bendungan dan embung untuk penuhi kebutuhan air. Mari kita bangun kampung dan desa-desa kita menjadi desa wisata pertanian dengan membangun home stay-home stay yang akan difasilitasi oleh pemeirntah. Dan jangan pergi kerja di luar daerah, dengan tanpa keterampilan dan dokumen tidak resmi,” pinta Wagub Nae Soi, dalam pertemuan di Jakarta silam. (Korneliusmoanita/NBC)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi