Jum. Okt 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Menuju Indonesia Maju, Warga Minta Menkominfo Bangun Manara Telkomsel di Seluruh NTT

7 min read

KUPANG, NTTBANGKIT.COM,-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah provinsi kepulauan. Sebagai provisi kepulauan, mayoritas rakyat NTT tinggal di pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan luas. Yang lebih nyata lagi, mayoritas warga bermukim di desa-desa terpencil, perbukitan, lereng pegunungan, lembah dan tepih laut. Rata-rata, para warga bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, dan pedagang. 

Dahulu kala, ketika belum ada sarana (alat) komunikasi (telepon/ HP), mereka sulit membangun komunikasi antara satu sama lain maupun antara mereka dengan warga di daerah lainnya. Mereka hanya dapat berkomunikasi melalui sepcuk surat ataupun bertemu muka di pasar-pasar saat mereka menjual hasli bumi. Komunikasi berjalan sangat lambat karena  mereka hanya bisa bertemu dalam moment yang sangat lama.

Dengan demikian, segala kebutuhan hidup mereka terkait pembangunan rumah tangga, pendidikan, kesehatan, dan ekonmi pun berjalan sangat lambat. Apalagi kala itu, kemajuan infrastruktur seperti, transportasi laut (antar pulau) dan transportasi darat tidak seperti saat ini yang sudah jauh lebih pesat. Dimana warga sudah lebih muda bepergian kemanapun, karena adanya sarana pelabuhan, kapal laut, fery, kapal motor yang bisa digunakan kapan saja. Demikian pula adanya sarana jalan raya yang baik, memudahkan mereka kemana-mana menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk berdagang dan lain-lain.

Waktu terus berjalan, musim silih berganti, dan par gubernur dan bupati terus berganti membuat NTT terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Salah satunya kemajuan pesat dibidang komunikasi selaras perkembangan jaman. Hampir 90 persen warga NTT saat ini menggunakan alat komunikasi hand phone dengan mark bervariasi sesuai tingkatan ekonomi. Dari HP yang paling murah hingga yang paling mahal, digunakan warga untuk saling berkomunikasi satu sama lain dan mendapatkan berbagai informasi dari berbagai daerah dan belahan dunia. Wawasan warga sudah jauh lebih baik karena mereka dengan mudah dan sangat cepat mengikuti perkembangan nformasi di berbagai bidang.

Bagi para petani dan pedagang, adanya alat komunikasi tersebut, membuat mereka mudah memasarkan hasil produksinya ke kota-kota atau juga antar daerah secara mudah. Apalagi dengan adanya media sosial, membuat mereka dengan sangat cepat menjual produksi pertanian mereka kemanapun.  Melalui komunikasi tersebut, akhirnya banyak para pembeli produksi pertanian yang berminat akhirnya membeli produksi pertanian mereka. Dengan demikian kehadiran alat komunikasi yang jauh lebih canggih dari telepon sangat mendukung pembangunan ekonomi rakyat di desa-desa.

Meski saat ini kemajuan sarana komunikasi sudah sangat pesat di NTT, namun belum seluruh rakyat NTT (secara khusus di daerah pedesaan) dapat menikmati keanggihan hand phone tersebut. Pasalnya, belum seluruh wilayah kecamatan dan pedesaan mendapatkan MANARA TELKOMSEL, INDOSAT, XL, SMART FRENT dan lain-lain. Pihak pemerintah maupun perusahan telkomsel telah lama membangun manara-manara telkomsel di berbagai kabupaten demi melayani kebutuhan komunikasi warga. Namun demikian, masih begitu banyak warga saat ini masih belum menikmati jaringan pelayanan telkomsel karena di daerah mereka belum dibangun manara.

Karena belum adanya manara telkomsel, mereka tidak bisa membangun komunikasi dengan  berbagai pihak lantaran tidak adanya sinyal telkomsel sebagai penyambung. Acapkali juga mereka mengeluhkan pelayanan telkomsel yang masih sangat buruk karena sinyal telepon genggam sangat lemah atau terputus-putus atau samasekali tidak ada. Karena kebutuhan komunikasi yang mendeka, memaksa mereka harus mendaki bukit yang tinggi atau naik ke atas pohon yang tinggi untuk mendapatkan sinyal telepon dan dapat berbicara atau berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di seberang sana.

Pentingnya komunikasi lewat hand phone dan berbagai media sosial saat ini telah menjadi kebutuhan dasar yang sangat vital. Siapapun sangat membutuhkan sarana komunikasi modern dan canggih ini untuk kelancaran pemenuhan kebutuhan hidup, di berbagai bidang terutama perdagangan bebas saat ini, yang menuntut informasi dan komunikasi yang cepat dan aktual.

Pemimpin Koperasi Kredit (Kopdit)  Pintu Air, Jacobus Jano, mengatakan, pihaknya sangat membutuhkan jaringan internet dalam menjalankan usaha bisnis koperasi pintu air ke seluruh penjuru Indonesia. Sebagai koperasi terbesar di NTT yang memiliki 250 ribu anggota di seluruh Indonesia, ia sangat butuh manara telkomsel yang dekat dengan kantornya di Desa Rotat, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.

Menurutnya, karena saat ini telah memasuki era digital, pihaknya tidak bisa lagi menggunakan komunikasi non verbal yang sangat lama dan tidak efisien dan efektif. Dia sangat membutuhkan singnal yang kuat agar jaringan internet terkonek ke sistem digital Kopdit Pintu Air untuk memberikan berbagai informasi perkembangan koperasi setiap detik kepada seluruh anggota dan pengurus di seluruh Indonesia.

“Saat ini koperasi kami sudah sangat berkembang di NTT dan diberbagai provinsi di Indonesia. Kami tidak bisa lagi pakai cara lama untuk memberikan berbagai informasi kepada para pengurus dan anggota kami yang ada di NTT dan di luar NTT. Kami sangat butuh signal kuat internet sehingga sistem online atau digital kami bisa diakses oleh semua orang di manapun berada. Dengan sistem yang mudah dan efisien tersebut, kami tidak perlu terlalu banyak membuang biaya untuk melakukan atau memberikan informasi dan komunikasi timbal balik kepada siapapun. Memang di wilayah kami ada manara telkomsel, namun signalnya tidak kuat sehingga jaringan internet sulit atau lemah terkoneksi dan sering tergaggu. Hal ini memperlambat perkembangan atau pertumbuhan ekonomi rakyat yang tengah kami bangun,” terang Jacobus Jano, belum lama ini.

Dia berharap, untuk mewujdkan Indonesia Maju, sesuai slogan besar Presiden dan Wakil Presiden,  Ir. Joko Widodo-Maruf Amin, pembangunan sarana telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, secara khusus di NTT dan Kabupaten Sikka dapat dilakukan dengan cepat  demi mempercepat pertumbuhan ekonomi rakyat. Jikalau pembangunan sarana (manara-manara telkomsel) berjalan lambat, maka sudah pasti sangat menganggu pertumbuhan ekonomi rakyat  yang saat ini tengah menggeliat melalui koperasi-koperasi yang ada di NTT, salah satunya Kopdit Pintu Air yang telah menggerakan sektor rill ekonomi rakyat melalui berbagai unit usaha ekonomi yang semuanya membutuhkan sarana komunikasi.

 Tokoh politik NTT, Drs. Kristo Blasin yang pernah 15 tahun berada di DPRD NTT mengungkapkan bahwa saat ini NTT tengah bergerak maju dalam berbagai bidang. Pertumbuhan ekonomi NTT kian membaik, meskipun angka kemiskinan masih tinggi dan penggangguran masih meningkat.  Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah harus terus membuka lapangan pekerjaan baru melalui  pemberdayaan ekonomi rakyat dan pengolahan sumber daya alam yang ada di seluruh desa di NTT.  Rakyat harus didorong mengolah potensi-potensi  pertanian, perkebunan dan kelautan yang dimiliki untuk meningkatkan ekonomi. Untuk itu, sarana pra sarana komunikasi sebagai jembatan penghubung harus dibangun menyeluruh di NTT guna mendukung usaha produksi rakyat.

“Dengan sarana komunikasi rakyat petani, pedagang dan nelayan NTT mampu berkomunikasi dengan lancar kapan saja.  Mereka bisa memasarkan hasil produksi mereka kemana saja  melalui jaringan yang mereka bangun. Untuk itu, kita dukung pemerintah pusat dan provinsi agar membangun manara-manara telkomsel di seluruh wilayah NTT, terutama dibasis-basis produksi pertanian, perikanan, perkebunan dan pariwisata demi mempercepat dan mempermudah komunikasi warga,” kata Kristo Blasin, belum lama ini di Kupang.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Josep Dhenga. Dia mengungkapkan bahwa Kabupaten Nagekeo adalah sebuah kabupaten dengan basis pertanian dan pariwisata sejak dahulu kala. Kabupaten Nagekeo saat ini tengah dibidik berbagai pihak untuk membangun kerja sama dibidang pertanian, produksi garam dan pariwisata.  Kendala besar yang tenah dihadapi Nagekeo saat ini adalah sarana infrastruktur seperti jalan raya dan bandar udara serta sarana telekomunikasi yang belum lancar.

“Saya sudah keliling semua kecamatan dan desa-desa di Nagekeo. Ada begitu banyak warga desa mengeluhkan signal telepon tidak ada. Karena tidak ada signal di desa mereka, maka mereka harus pergi ke desa lain yang mendapatkan signal telepon.  Mereka juga terpaksa harus pergi ke tempat yang lebih tinggi atau naik ke atas pohon untuk mendapatkan signal telepon. Untuk itu, kami berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi bisa membangun manara-manara telkomsel di seluruh kecamatan di Nagekeo agar warga dengan mudah berkomunikasi atau mendapatkan berbgai informasi,” kata Jos Dhenga, belum lama ini di Mbay.

Dikatakannya, begitu banyak warga saat ini telah menggunakan HP atau telepon genggam dan internet melalui laptop dan komputer, baik anak-anak sekolah, pemerintah desa, petani dan pedagang, petugas kesehatan, para guru, dan lain-lain. Semu lapisan masyarakat sangat butuh signal jaringan untuk melancarkan komunikasi  demi memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Warga Sikka, Johanes (40), meminta  Menteri Komunikasi dan Informasi, Johnny G. Plate  secepatnya melakukan survey untuk membangun manara-manara telkomsel di wilayah-wilayah yang masih belum terlayani signal telepon. Dengan dibangunnya manara telkomesel, maka berbagai pelayanan pemerintah dibidang pembangunan dan ekonomi rakyat dapat berjalan lebih baik, termasuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.

“Sering  warga mengalami musibah sakit, bencana dan kematian akibat lambatnya pelayanan pemerintah. Misalkan seorang ibu hamil tiba-tiba terpaksa melahirkan di jalan dalam perjalanan ke puskemas. Mereka kesulitan berkomunikasi dengan petugas Puskesmas atau bidan desa karena jauh dan tidak ada jaringan internet. Padahal, kalau ada telepon  mereka bisa cepat memanggil petugas medis datang ke rumah mereka untuk memberikan pertolongan awal, aga mereka tidak mengalami musibah. Ini contoh bahwa sarana komunikasi sangat penting bagi warga desa,” ungkap Johanes.

Untuk diketahui, seperti dilansir Antaranews.com, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate tengah melakukan gebrakan dengan mulai membangun manara telkomsel untuk memberikan pelayanan kepada warga NTT. Menteri Jhony G. Plate melakukan kunjungan kerja ke Manggarai Raya Nusa Tenggara Timur ( NTT) dan meninjau lokasi akses Internet Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) di wilayah NTT.

Dalam kunjungan kerjanya di Manggarai Barat, Sabtu, ia mengatakan bahwa kunjungan tersebut guna mendukung terwujudnya Indonesia menuju “Digital Nation” terus berupaya membangun infrastruktur teknologi informasi komunikasi (TIK) secara merata di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

“Saya ingin melihat secara langsung pilot project 3T yang dirintis oleh Kominfo di Manggarai Raya. Saya ingin melihat secara fisiknya seperti apa,” katanya kepada wartawan di Labuan Bajo, dslam rilis yang diterima Antara Kupang, Sabtu (21/12) pagi.

Ia mengatakan pilot project 3T yang ada di Manggarai Raya, yakni di Pelabuhan Reo Kabupaten Manggarai khususnya saat ini memiliki kecepatan internetnya delapan megabite per detik. Selain itu juga khususnya di Seminari Santo Pius XIII Kisol Kabupaten Manggarai Timur, kecepatan internetnya mrncapai 8 MB/detik. Selain itu, Menteri Jhony juga meninjau representasi pusat pendidikan di Seminari Kisol, sebagai simbol pusat perhatian Presiden terhadap pengembangan SDM.

Sedangkan di Labuan Bajo Manggarai Barat, Menteri meninjau Puskesmas Labuan Bajo, bagaimana Puskesmas itu menggunakan teknologi 4G dalam pelayanan kesehatan. Selain melakukan kunjungan kerja di Manggarai Raya, Menteri juga dijadwalkan akan berkunjung ke Pulau Sumba. “Saya juga mau lihat secara langsung tindak lanjut gelar fiber optik Palapa Ring dari Sumba hingga Rote,” tambah dia.

Ia juga mengatakan ingin memastikan apakah pelayanan Palapa Ring di wilayah itu sudah maksimal. “Kalau sudah ya syukur, tapi kalo belum maksimal maka pilot project 3T maka akan ada kebijakan lanjutan untuk tahun 2020 hingga 2024 bisa di lakukan akselerasi di bidang informasi dan komunikasi,” jelas Menteri Jhoni Plate. (korneliusmoanita/nbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi