Sel. Jul 7th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Arsitektur Kota Bercorak Budaya Lokal Majukan Pariwisata NTT

3 min read

Arsitektur budaya Bali yang berada di bagian dalam Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. (*)

Arsitektur dalam Bandara Ngurah Rai, Bali (*)

NTTBANGKIT.COM,-salah satu ciri khas kemajuan pariwisata di Pulau Dewata (Bali) adalah tampilan khas konstruksi (bangunan) kota yang bercorak khas dengan arsitektur lokal. Bangunan di Bali, mulai dari tata kota, bandara, pelabuhan, gapura kota, alun-alun kota, rumah jabatan, hingga hotel, restaurant, dan home stay serta konstruksi rumah adat, candi-candi dan istana juga kampung-kampung adat, semuanya berciri khas atau bercorak satu warna kebudayaan Bali.

Salah satu contoh, seperti disaksikan NTTbangkit.com, dalam sebuah perjalanan ke Kupang, terlihat Bandara Ngurah Rai, Denpasar yang kental bercorak khas kebudayaan Bali. Mulai dari tampilan depan bandara dan semua ruangan di bandara tertata dengan arsitek dan acecoris budaya Bali yang sangat khas. Mulai dari ukiran-ukiran, patung-patung, lukisan-lukisan, motif tenun ikat, pernak-pernik, makanan khas, pakain, taman-taman bunga berwarna-warni dan lain-lain terpampang indah dan menarik selaras mata memandang.

Aroma kebudayaan Bali sangat terasa ketika memasuki Bandara Ngurah Rai. Itu salah satu contoh Bali mempertahankan dan mempromosikan kebudayaannya yang kental bertahan berabad-abad dan mendunia. Bukan bandara saja, di Bali tata kota dan bangunan-bangunan lainnya pun sangat kental dengan arsitektur kebudayaan Bali. Bali sangat piawai dalam membangun pariwisatanya yang salah satu kekuataanya terletak pada bagaimana pemerintah dan warga mempertahankan konstruksi budaya asli dari serbuah arsitektur asing atau modern.

Banungunan Gedung Bandar Udara El Tari Kupang, NTT. (Dok)

Kondisi berbeda terlihat di Bandara El Tari Kupang maupun seluruh bandara di NTT. Mengapa berbeda? Dari pantauan media, bandara-bandara di NTT belum sempurna mengikuti gerakan budaya Pemerintah Bali yang telah lama membangun pariwisatanya dengan konstruksi berbasis budaya lokal. Dari tampilan depan bandara, pintu masuk, hingga bagian dalam Bandara El Tari Kupang tak banyak terlihat suguhan khas budaya NTT. Bukan hanya dari sisi konstruksi luar saja tetapi juga dari konstruksi dalam dan segala acecoris yang ada, kecuali gambar-gambar obyek-obyek wisata NTT yang terpampang dan oleh-oleh khas NTT yang dijual di dalam bandara. Tak banyak obyek menarik bercorak budaya NTT yang ditampilkan.

Selain bandara, kota-kota di NTT juga belum ditata dengan corak khas budaya daerah masing-masing di sepanjang jalan maupun di dalam kota. Dari bangunan perkantoran pemerintah, gedung swasta, hotel dan restourant juga belum banyak bernuansa budaya lokal. Konstruksi atau arsitektur budaya modern jauh lebih banyak terlihat di kala memasuki kota-kota di NTT, sebut saja Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Larantuka, Flores Timur, Kota Ende, dan lain-lainnya. Sebagai contoh, di Maumere, ada begitu banyak tuguh kota yang dibangun tidak melambangkan kebudayaan dan samasekali tidak memberikan pesan pariwisata yang membuat para wisawatan bertanya apa arti dan makna budaya di bali tuguh-tuguh yang dibangun (Tugu MOF). Padahal, NTT sedang gencar mempromosikan pariwisata. Demikian pula konstruksi hotel juga belum berciri khas kebudayaan Sikka.

Ruangan tunggu Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Bali (doc)

Mengapa tampilan konstruksi budaya lokal diperlukan dalam membangun peradaban budaya dan pariwisata? Dosen Arsitek Universitas Widya Mandira Kupang, Don Ara Kian, MT, IAI, mengungkapkan bahwa wajah kota adalah wajah sebuah daerah. Orang manapun yang datang ke kota-kota di NTT mereka tidak melihat terlebih dahulu tampilan belakang kota, tetapi tampilan depan (wajah kota). Dikatakannya, ketika orang melihat wajah kota yang khas dengan arsitektur yang kental dengan ciri khas kebudayaan daerah itu, maka mereka langsung tertarik dan kemudian menelusuri apa arti atau makna dari tampilan itu. Tampilan itu, memberi kesan kuat bahwa sebuah daerah tidak merasa malu menampilkan budaya mereka melalui arstektur lokal.

“Jika kita ke daerah lain, katakan saja di Bali. Pesan kuat kebudayaan Bali langsung kita tangkap di mata, pikiran dan hati kita. Memang banyak yang kita tidak mengerti dengan simbol dan makna dari konstruksi budaya pada bangunan-bangunan itu, namun mereka berhasil menjaga identitas dan jati diri mereka dan terus mempromosikan pariwisata mereka melalui bangunan-bangunan di ruang publik di tengah kota. Ini sebuah hal positif yang patut ditiru oleh pemerintah di NTT yang tengah berjuang membangun peradaban budaya dan memajukan pariwisata. Kita tidak menghindari artektur budaya modern, tetapi jika kita mau mempertahankan identitas budaya lokal, maka kita harus mulai menata kota kita dengan warna khas daerah masing-masing,” kata Mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia- NTT ini, belum lama ini.

Menurut Don yang telah berpengalaman luas mengarsiteki berbagai pembangunan gedung di NTT ini, tampilan kota yang menarik dengan ciri khas kental budaya yang tersemat pada ruang-ruang publik, selain menyuguhkan keindahan yang unik, juga menjadi media promosi pariwisata kepada para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tentunya kata dia, untuk menata ulang konstruksi kota berbasis budaya diperlukan lagi penataan ruang yang mendukung. dan untuk itu, maka Perda-Perda terkait penataan ruang kota tentunya harus ditinjau lagi, dan disesuaikan dengan semangat pemerintah yang tengah membangun pariwisata sebagai ‘Prime Mover.’ (Korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi