Kam. Apr 15th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Miras Sophia Khas NTT Mulai Diminati di Pulau Jawa

2 min read
Suasana peluncuran Sophia, penyerahan peserta Program Pendidikan Vokasi Pariwisata Angkatan 1 Kerja Sama Undana, Pemda NTT, Griffith University dan penandatanganan MoU antara Undana - RRI di samping Gedung UPT Laboratorium Riset Terpadu Biosain Undana Jln Adisucipto Penfui, Kupang, Rabu (19/6/2019) sore. (Image: Tribunnews)

KUPANG, NTTBANGKIT.com — Sophia, Minuman keras tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan inovasi dari Gubernur NTT untuk meningkatkan roda ekonomi NTT melalui produk lokal, kini mulai dijual di pasaran.

Diketahui bahwa miras berkadar alkohol 40 persen itu sebelumnya resmi diluncurkan oleh Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di UPT Laboratorium Riset Terpadu Biosain Undana, pada Juni 2019 lalu.

Di daerah kota Kupang, Sophia hanya bisa ditemukan di Toko NAM, yang terletak di Jalan Siliwangi Kampung Solor, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, yang merupakan satu-satunya tempat penjualan Sophia.

Dilansir dari kompas.com, Leonard A Anthonius yang adalah pemilik PT NAM mengatakan bahwa harga Sophia per botol adalah Rp 750.000.

“Harga per botol Sophia Rp 750.000. Ukurannya hanya satu 750 mililiter,” kata Leo di kediamannya pada Jumat (10/1/2020).

Harga Sophia tersebut merupakan kebijakan PT NAM sebagaimana disampaikan oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat usai menghadiri acara peluncuran Sophia di Kampus Undana Kupang, pada Juni 2019 lalu.

Leo juga mengatakan bahwa pihaknya mulai menjual Shopia pada 20 Desember 2019, yang mana bertepatan dengan hari jadi Provinsi NTT ke-61.

Dari awal penjualan hingga sekarang, Leo telah menjual sebanyak 40 botol Sophia dengan sebagian besar pembelinya berasal dari Pulau Jawa. Namun  ada juga pembeli yang berasal dari NTT.

“Kebanyakan yang beli teman-teman yang tinggal di Jawa. Mereka beli hanya untuk mencoba. Mereka kebanyakan mengatakan Sophia ini rasanya enak,” kata Leo dilansir dari kompas.com.

Sedangkan untuk NTT, rata-rata masyarakat membeli Sophia pada momen perayaan Natal dan tahun baru 2019.

“Saat ini yang tersisa di toko masih sekitar 30 sampai 40 botol,” ujar Leonard.

Peran Pemerintah Provinsi terhadap pengembangan Sophia

Terkait prospek Sophia, Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi NTT hanya menyiapkan regulasi, sehingga tata niaga minuman Sophia dapat berjalan dengan baik.

Sophia, menurut Laiskodat merupakan awal yang baik untuk membangkitkan ekonomi masyarakat yang selama ini memproduksi minuman keras lokal yang dikenal dengan Sopi, dengan standar tinggi dan harga yang lebih baik.

Kepada nttbangkit.com, Gubernur Laiskodat pernah mengatakan bahwa Sophia ditargetkan untuk masuk pasar miras profesional.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, politisi partai Nasdem ini mengatakan bahwa pada waktunya nanti, Sophia tidak akan kalah dari miras-miras luar seperti sake Jepang dan tauco Korea.

Sementara itu, Rektor Undana Kupang Fredrik L Benu mengatakan bahwa pihaknya mengeluarkan dua jenis Sophia yang berwarna merah dan putih.

“Kalau Sophia warna merah itu kadarnya 20 persen, sedangkan yang warna putih itu kadarnya 40 persen,” ujar Benu dilansir dari kompas.com.

Dikutip dari kompas.com, Benu juga mengatakan pula bahwa pihaknya hanya bertugas untuk menghasilkan produk yang benar-benar berkualitas. Namun, soal bisnis sampai pemasaran produk, hal itu menjadi tanggung jawab pihak swasta sesuai dengan hasil nota kesepahaman sebelumnya dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi