Jum. Des 4th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tepung Kelor NTT Menjadi Incaran Jepang

2 min read
Gubernur NTT, Victor Laiskodat tengah memetik daun kelor

KUPANG, NTTBANGKIT.COM – Program gizi dan bisnis daun kelor yang pernah dipaparkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat saat debat calon gubernur NTT 2018 lalu bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, produk tepung kelor dari provinsi NTT itu menjadi incaran negeri Jepang.

Tepung kelor organik, yang digadang-gadang akan menjadi produk unggulan dan prototipe dari program Masyarakat Ekonomi NTT, tersebut merupakan hasil produksi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) M’rian di Desa Kufeu, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, Pulau Timor, Provinsi NTT.

“BUMDes ini akan menjadi model masyarakat Ekonomi NTT. Saya dukung. Saya juga akan membantu menambahkan 10 mesin pengering agar hasilnya bisa lebih efektif.” Kata Gubernur NTT, Victor Laiskodat saat mengunjungi desa Kuafeu untuk melihat kebun kelor dan rumah produksi tepung kelor pada Sabtu, 13 Juli 2019.

Setelah diteliti oleh tim ahli Jepang, tepung kelor dari BUMDes M’rian pun dianggap layak dan sesuai dengan kebutuhan pasar mereka.

10 Ton tepung kelor akan diekspor ke Jepang dalam uji coba awal program masyarakat ekonomi NTT

Berdasarkan hasil investigasi jejak digital oleh tim media NTT Bangkit, Jepang bahkan meminta tepung kelor dari BUMDes tersebut sebanyak 40 ton per-minggu. 10 Ton tepung kelor yang dijadwalkan akan diekspor ke Jepang pada bulan November 2019 mendatang merupakan uji coba awal program masyarakat ekonomi NTT.

Untuk itu, Pemerintah provinsi NTT bersama pemerintah daerah Kabupaten Malaka hingga tingkat desa, serta pengelola BUMDes tengah serius mendorong peningkatan kapasitas produksi tepung kelor.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Nusa Tenggara Timur, Petrus Manuk mengatakan bahwa kendala utamanya adalah kekurangan fasilitas pengelolaan kelor di antaranya rumah pengering yang berjumlah hanya satu unit dan satu unit mesin penepung dengan kapasitas produksi 10 kilogram per jam.

Dengan bantuan tambahan 10 mesin pengering dari Gubernur NTT, Manuk yakin bahwa BUMDes M’rian akan mampu memenuhi permintaan dari negeri sakura tersebut.

Hingga kini, BUMDes M’rian sedang membudidayakan tanaman kelor di atas lahan sebesar 8.027 hektar yang tersebar di 6 desa kabupaten Malaka, yaitu desa Kaufeu, Tunmat, Tuabesi, Biau, Ikan Tuanbes, dan Naibone. Program tersebut melibatkan 329 petani plasma inti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi