Jum. Des 4th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Istana Raja Ende Hasan AroeBoesman, Situs Sejarah Milik NTT

3 min read

Istana Raja Ende, Haji Hasan Aroeboesman di Kota Ende, Flores. (*)

Raja Haji Hasan Aroboesman (tengah) duduk di kursi). (Foto: dokumen rizkypein.blogspot.com)

ENDE,- Kota Ende adalah kota yang penuh dengan sejarah dan budaya. Selain sejarah lahirnya Pancasila oleh Bung Karno di bawa pohon sukun di Lapangan Pancasila, Kota Ende juga terkenal dengan kota sejarah dan religi yang kuat dilahirkan para pemimpin terdahulu, seperti para misionaris Katolik yang membangun pendidikan di Ende dan juga penguasa Ende tempo dulu, yaitu Raja Haji Hasan AroeBoesman, tokoh Islam pertama yang menjadi pemimpin di Ende.

Raja Ende yang terkenal dengan dermawan tersebut kemudian menjadi bupati pertama Kabupaten Ende. Salah satu bukti peninggalan sejarah yaitu, ia mempersembahkan sebagian lahannya untuk pembangunan bandara.  Bandara tersebut kemudian oleh pemerintah diberi nama bandara AroeBoesman. Adanya bandara tersebut, membuat kota Ende terbuka dari isolasi transportasi udara dan makin berkembang hingga saat ini.

Raja Ende mempunyai istana kerajaan di dalam kota Ende. Di dalam istana tersebut menjadi menjadi tempat tinggal raja bersama keluarganya kala itu. Setelah raja Ende mangkat, istana tersebut didiami oleh keturunan dari  raja. Namun seiring waktu berjalan, istana raja kurang mendapatkan perhatian atau perawatan.

Rizal Aroeboesman, sebagai salah satu keturunan dari Raja Hasan Aroeboesman berharap, ke depan ada perhatian dari pemerintah untuk melindungi dan atau merawati situs sejarah peninggalan Raja Hasan Aroeboesman.

“Istana itu terletak di jalan Mahoni dalam kota Ende. Saat ini, kondisinya memperihatinkan. Sebagai sebuah situs sejarah di Ende, NTT, kami berharap ke depan ada perhatian pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk merawat dan memugar istana kerajaan tersebut sebagai salah satu situs sejarah dan budaya milik pemerintah dan rakyat Ende,” harap Rizal saat ditemui di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (2/2/2020) di sela-sela peluncuran Yayasan Abdurrachman dan Haji Hasan Aroeboesman.

Untuk diketahui, sebagaimana dikutip dari https://rizkypein.blogspot.com,Ende adalah tempat dari sebuah kerajaan. Penduduk daerah ini disebut sebagai orang Lio-Ende. Selama beberapa dekade, Ende menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan aktivitas politik.

Negara Kertagama (1350): Sumber ini menceritakan perebutan wilayah oleh Majapahit di kawasan Timur Nusantara untuk mengalahkan Domp. Sumber ini tidak menyebut nama Ende. Tetapi satu sumber lain historis of Java Majapahit ( Vol II edisi 4 London 1817, hal. 121) Pemberitaan itu dikutip Rafles dari manuskrip Natakoesoema mengenai kawasan Timur Nusantara : Sumenep, Bali. Di tulis dalam manuskrip itu bahwa Ende adalah jajahan Majapahit direbut oleh Andya Ninggrat atau Ratu Pengging. Route pelayaran 1357, melalui Larantuka, Solor menuju Laut Sawu mengunjugi pulau-pulau; Timor, Ende atau Flores, Sumba, Bima mungkin juga Sabu (dimana terdapat kerajaan Majupai).

Pemberontakan melawan yang dipimpin oleh Nipa Do dikenal sebagai Watu Api dan Mari Longa (1916-1917). Pada 1934, pemimpin nasional, Soekarno, yang nantinya menjadi presiden pertama Indonesia diasingkan ke Ende oleh pemerintah kolonial Belanda. Nama bandara di Kota Ende adalah nama seorang raja beragama Islam yang pernah menjadi bupati pertamanya, yakni Haji Hasan Aroeboesman.

Istana kerajaan Ende sekarang menjadi rumah yang dihuni oleh keturunan raja. Pagar kawasan rumah ini kelihatan berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya, karena memang telah dibangun khusus oleh Pemerintah Daerah. Keberadaan Masjid di sebelah Barat ”istana” Kerajaan Ende ini merupakan masjid tertua di Kota Ende yang dibangun pada abad ke-16. Beberapa masjid banyak terdapat di Kota Ende. Konon, tanah untuk gereja yang besar di Kota Ende juga atas jasa baik Raja Haji Hasan Aroeboesman. (korneliusmoanita/nbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi