Sen. Okt 26th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Moko, Benda Termahal Peninggalan Sejarah Purbakala di Alor-NTT

7 min read

Seoroang tua adat Alor sedang memegang Moko. (**)

NTTBANGKIT.COM,-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah benar-benar menjadi provinsi yang sangat unik dan kaya raya akan pariwisata. Selain memiliki puluhan bahkan ratusan obyek wisata alam yang masih perawan, NTT juga menjadi salah satu basis peninggalan-peninggalan sejarah budaya bangsa yang ada di Indonesia bahkan didunia, yaitu barang-barang purbakala. Barang-barang sejarah itu melekat erat dengan peradaban budaya asli orang NTT dari abad ke abad seperti gading dan moko. Bila dalam tulisan terdahulu kita mengenal tentang sejarah gajah dan gading (peninggalan sejarah di Flores), maka kali ini kita mengenal tentang Moko (Nekara/drum) sebagai peninggalan sejarah di Pulau Alor.

Pulau Alor, bagi orang Indonesia bahkan masyarakat dunia sudah tidak terlalu asing di telinga bahkan di mata. Jika dahulu akses untuk mengetahui Pulau Alor yang terletak di ujung timur pulau Flores (berbatasan dengan Pulau Lembata dan laut Timor-timur atau sekarang Timor Leste) masih sulit, jaman sekarang sudah tidak susah karena selain akses transportasi laut, udara dan darat yang sangat lancar, juga saat ini mudah diakses melalui jejaring internet atau media sosial. Pulau Alor yang terdiri dari begitu banyak pulau kecil, berbukit-bukit dan lembah yang dipisahkan dan dikelilingi oleh lautan biru ini menyimpan sejarah dan budaya unik dan langkah di dunia. Barang unik dan langkah itu adalah Moko yang Simon J. Oilbaloi berdasarkan petunjuk mimpi pada tanggal 20 Agustus 1972. Penemuan ini, menurut berbagai sumber adalah temuan terpenting bagi orang (masyarakat) Alor yang selanjutnya menjadi penentu kehidupan budaya orang Alor, secara khusus menjadi maskawin (belis) bagi perempuan Alor. Sejak ditemukannya Moko, hingga saati itu sampai sekarang, Moko telah dan akan tetap menjadi maskawin orang Alor karena menjadi barang termahal yang menjadi penentu nilai marabat dan kehormatan seorang perempuan Alor.

Ada begitu banyak sumber media dan begitu banyak penulis yang telah menulis tentang sejarah asal-usul Moko di Alor. Salah satunya adalah situs Wikipedia Berbahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. Menurut situs ini,  Moko adalah drum dengan bagian atas dan bawah yang tertutup, dibuat dengan variasi ukuran yang berbeda-beda dan dapat terbuat dari logam perunggu, tembaga atau kuningan.

Moko telah dipakai sejak ratusan tahun silam sebagai alat tukar (barter) dalam perdagangan dan dibuat dalam beberapa jenis ukuran. Dari penelusuran yang telah dilakukan, pembuatan drum telah berlangsung sejak peradaban awal kuno dan dapat ditemukan tersebar di Cina Selatan dan Asia Tenggara. Di daerah Nusa Tenggara Timur secara khusus, Moko telah dipakai sebagai alat musik di abad ke-17 karena bentuknya yang mirip kendhang. Namun sejak abad ke-19 lebih sering dipakai sebagai mas kawin oleh kalangan masyarakat Alor.

Bentuk fisik moko yang seperti drum memiliki tinggi 80-120 centimeter dengan bagian tengah agak mengecil dengan diameter lubang sisi atas dan bawah sekitar 40-70 centimeter. Selain jenis ini, terdapat moko yang berdiameter 50-100 centimeter dan tinggi 50-250 centimeter. Masyarakat Alor menyebutnya sebagai nekara dimana objek ini jarang dibawa-bawa dan jarang dipakai sebagai mas kawin. Secara umum, kepemilikan Moko akan meningkatkan status sosial yang dianggap menghargai warisan leluhur meskipun tidak pernah dibuat langsung oleh masyarakat Alor. Oleh karena itu, penggunaan moko telah lama menjadi lambang status sebagai otoritas elit setempat serta simbol kesuburan sehingga lumrah dipakai sebagai alat mas kawin.

Menurut situs ini, asal-usul moko telah didokumentasikan dengan baik dimana pertukaran ide budaya melalui kontak komersial perdagangan yang berkelanjutan telah mengakibatkan penyaluran beberapa simbolisme seperti kendhang perunggu ke Indonesia timur. Adapun jalur perdagangan yang menyalurkan simbolisme hingga jarak jauh di waktu periode tertentu adalah rute perdagangan tradisional kuno yang terbentang sepanjang Timur Tengah dan India, jalur tersebut telah melalui Asia Tenggara dan berlanjut sampai ke Cina.

Terdapat dua sumber penting dalam sejarah yang tercatat mempengaruhi penyaluran di Indonesia timur, yaitu kerajaan kembar Makasar Gowa-Tallo pada abad ke-13 hingga 16 Masehi. Khusus kerajaan Tallo yang dominan dengan sektor maritim diketahui memiliki situs arkeologi yang ternyata mencatat semua kontak lama yang telah terjadi sepanjang sejarah. Dengan letaknya di semenanjung barat daya Pulau Sulawesi, Gowa-Tallo diketahui memiliki hubungan dagang yang ekstensif dengan kepulauan barat, dimana penyaluran gagasan dari barat daya Sulawesi difasilitasi hingga lebih jauh ke bagian timur Nusantara.

Selain itu, adanya perjodohan yang tercatat terjadi antara penguasa Tallo dengan Surabaya pun turut mendukung kemajuan pesat dalam penyaluran simbolisme ini. Hal ini dikarenakan posisi kota Surabaya merupakan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit (di ujung timur Pulau Jawa) yang melayani perdagangan rempah internasional.  Penguasa Tallo dikenal sering mengunjungi partner-partner dagang di kepulauan Ende (Pulau Flores), Banda dan Nusa Tenggara. Permulaan inilah yang kemudian bergulir hingga situasi politik sosial wilayah timur terkait penggunaan simbolisme kendhang perunggu berkembang.

Fakta sejarah ini didukung dengan pengamatan bentuk fisik moko dimana pola hiasnya beragam tergantung zaman pembuatannya, bila diperhatikan seksama bentuknya mirip dengan benda-benda perunggu di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit.  Tradisi rakyat mencatat bahwa pedagang asing pada mulanya memperkenalkan moko yang rupanya dibawa dari perantara perdagangan Melayu-Cina yang bertautan langsung dengan situs produksi moko di masa fase Dong Son, Vietnam utara atau barat daya Cina. Sementara di abad ke-19, moko mulai dibuatkan menggunakan bahan kuningan, yang sebagian besar dibuat di Gresik, Jawa Timur dan dibawa dalam peredaran oleh pedagang Jawa dan Sulawesi.

Secara umum, banyak suku tradisional di Pulau Alor percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Namun pada masa terdahulu, moko telah difungsikan sebagai alat tukar ekonomi masyarakat pulau ini, bahkan sempat menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga penguasa pun membuat sistem baru dengan membatasi peredaran moko di Pulau Alor.

Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor, moko juga digunakan sebagai kendhang untuk mengiringi tarian adat selain sebagai mas kawin dan alat tukar pembayaran. Penggunaan ini pun disesuaikan dengan jenis dan keutuhan moko. Namun alat musik gong dan moko biasanya dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional seperti tarian lego-lego. Dari aktivitas ini kemudian moko memiliki nilai sosial yang tinggi di kalangan masyarakat Alor hingga pada akhirnya daerah setempat dijuluki sebagai ‘Alor, Pulau Seribu Moko’.

Sementara itu, menurut situs goodnewsfromindonesia.id, menulis bahwa konon, Ferdinand Magellan, seorang pelaut ulung  berkebangsaan Portugis sempat singgah ke pulau ini saat saat berlayar kembali dari Maluku menuju Eropa pada tanggal 12 Januari 1522. Di Alor, saat singga di pulau itu, Magellan melihat ada suatu tradisi yang menarik perhatiannya, yakni pemberian mas kawin keluarga mempelai pria ke mempelai wanita. Mas kawin terebut diberikan tak seperti kebanyakan pada tempat-tempat lain di nusantara, yang biasanya berupa hewan ternak atau hewan piaraan. Di Alor, masyarakatnya menggunakan peninggalan turun-temurun nenek moyangnya yang disimpan secara estafet, yakni Moko.

Penggunaan Moko sebagai mas kawin di masyarakat Alor terus terjaga hingga kini, dan sudah berlangsung sejak berabad-abad lamanya. Hampir setiap keluarga di Alor, terutama yang masyarakat asli pulau tersebut, menyimpan setidaknya satu Moko di rumahnya. Moko bagaikan barang sangat berharga yang nilainya akan terus bertambah seiring waktu. Bisa dibayangkan, berapa puluh ribu Moko yang tersimpan di pulau Alor yang berpenduduk  petani dan nelayan ini. Satu buah moko bisa seharga Rp50 juta. Harga ini, menurut mereka, pantas mengingat arti pentingnya ikatan perkawinan, yang akan mempersatukan berbagai keluarga.

Sedangkan, menurut seseorang ahli antropologi bernama Cora Dubois pernah meneliti tentang Moko, moko mempunyai 4 fungsi, yaitu pertama, Moko sebagai simbol status sosial. Memiliki jumlah dan jenis Moko tertentu menunjukan status sosial seseorang dalam masyarakat. Kepemilikan Moko ini mempunyai status sosial yang cukup tinggi dan terpandang. Bahkan orang yang memiliki Moko ini dalam jumlah tertentu akan berpengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional.

Kedua, Moko sebagai mas kawin. Seorang pria yang hendak menikah menyerahkan sejumlah Moko kepada keluarga perempuan calon istri. Jika pihak keluarga pria tidak memiliki Moko, maka keluarga tersebut mereka harus meminjam moko kepada Tetua Adat. Peminjaman ini tidaklah gratis, karena pihak keluarga pria harus menggantinya dengan sejumlah uang yang jumlahnya cukup besar. Memang harga satu buah Moko sangatlah bervariasi, bergantung dengan ukuran besar kecilnya Moko, tahun pembuatannya serta pola hiasnya. Namun bagi masyarakat Alor, moko tak bisa diukur dengan uang berapapun jumlahnya karena sekali lagi Moko mempunyai kedudukan dan nilai tersendiri dalam pergaulan sosial masyarakat

Ketiga, Moko sebagai alat tukar ekonomi. Sejak dahulu orang Alor mengenal Moko sebagai alat tukar seperti uang. Dalam hal ini Moko dapat di tukar dengan barang tertentu secara barter. Hal inilah yang menyebabkan inflasi pada zaman pemerintahan kolonial Belanda sehingga Belanda membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko dan bahkan konon berniat membuang moko-moko tersebut ke laut.

Keempat, sesuai fungsinya, yakni sebagai alat musik, Moko juga dapat menggantikan fungsi tambur yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Alat musik Gong dan Moko biasa dimainkan untuk pengiring tari-tarian. Dalam perspektif orang Alor, Gong yang berbentuk plat dalam posisi telungkup adalah lambang kewanitaan. Sedangkan Moko berbentuk bulat dalam posisi berdiri adalah lambang kejantanan. Untuk mengabadikan Moko sebagai barang purbakala keramat dan bernilai mahal dalam sejarah budaya Alor, Pemerintah Kabupaten Alor kemudian membangun museum 1000 moko di pusat Kota Kalabahi.

Mengutip situs pesonatravel.com, museum 1.000 Moko terbagi atas dua bangunan utama. Pada bangunan pertama, berisi benda-benda sejarah dan prasejarah. Di antaranya sisir dari bambu, giring-giring kaki, tenun ikat, kain patola peninggalan India, mangkuk dari Tiongkok, kendang dari kulit manusia, gong raksasa, kapak batu, piring dari anyaman daun lontar, dan gelas dari tempurung.

Sementara pada bangunan kedua, tempat menyimpan  koleksi berbagai macam jenis dan motif tenun khas masyarakat Alor yang disebut Kawate. Butuh perlakuan khusus untuk pada kain tenun ini, Kawate disimpan menggunakan pengaturan suhu dan cahaya yang tepat agar kain tidak mudah rusak.

Nama Museum 1.000 Moko memiliki makna simbolis dan filosofis tersendiri. Sebutan 1.000 Moko menujukkan daerah Alor yang memiliki Moko dalam jumlah besar, dan mewakili kebudayaan orang Alor sebagai benda adat yang bernilai budaya sangat tinggi. Sementara itu, angka 1.000 menunjukkan keanekargaman suku, sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau Alor. (Berbagai sumber/ korneliusmoanita/nbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi