Sab. Okt 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Sekilas Teluk Maumere dalam Lintasan Lensa Sejarah

4 min read

Kapal mewah Raja Emir Qatar saat mengitari Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, NTT.(*)

Keindahan bawa laut di Teluk Maumere yang menakjubkan (*)

NTTBANGKIT.COM,-Kawasan Teluk Maumere menjadi perbincangan publik ketika tahun 2019 lalu seorang Pangeran dari Qatar bernama Emir Qatar datang berplesir membawa dua pesawat jet pribadi serta sebuah kapal pesiar super mewah. Kapal super mewah itu berlabuh di Dermaga Lorens Say yang konon bernama Sadang Bui yang kini sudah dibangun dan ditata lebih baik. Di kawasan itu, pangeran bersama awaknya menikmati panorama indah teluk Maumere termasuk keindahan bawa laut yang sudah terkenal seoantero jagad.

Menurut Didinong Say, Putra Mantan Bupati Lorens Say, dalam tulisannya yang dilansir di situs suaraflores.net, kawasan Teluk Maumere sejak tahun 1987 telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL). Pada tahun 1992 keanekaragaman ekosistem dan biota laut di kawasan ini sempat hancur akibat gempa Tectonik dan gelombang Tsunami.

Namun, kata Didi Say, seiring tahun berlalu, kini kondisi bioata bawa laut serta terumbu karang indah tersebut telah pulih kembali baik karena natural recovery maupun  karena upaya dari berbagai stake holder. Upaya-upaya tersebut, seperti konservasi yang dilakukan pemerintah, perubahan perilaku masyarakat yang dahulu suka menggunakan bom ikan, dan kesadaran untuk pelestarian kawasan maupun upaya law enforcement seperti pemberantasan ilegal fishing.

“Tak heran heran, keindahan ekosistem dan keanelaragaman biota Kawasan Teluk Maumere kini mampu menempatkan posisi sebagai salah satu destinasi premium bagi penikmat surga bawah laut,” terangnya.

Kawasan Teluk Maumere, menurut dia,  selain soal keindahan alam sebenarnya mengandung pula berbagai kisah menarik baik yang tercatat maupun tersembunyi dalam memori publik dari masa ke masa, di antaranya, Pertama Jejak Orang Suci.

Dikatakan dia, berdasarkan sejarah perjalanan menyebarkan Agama Katolik di wilayah Nusantara pada pertengahan abad XVI, kapal Santo Fransiskus Xaverius pernah melintasi kawasan Teluk Maumere lalu mampir di tempat yang kini bernama Wairnokerua untuk mengisi persediaan air minum dan logistik lainnya.

Kedua, Tekaiku Takluk. Dijelaskannya, ada sebuah kutipan menarik dalam legenda rakyat di wilayah Maumere tentang penaklukan pemberontakan Teka tahun 1904 oleh Belanda. Dikatakan bahwa Belanda yang didukung oleh pasukan dari 3 kerajaan lokal, Sikka, Nita, dan Kangae  sangat kesulitan mengatasi strategi dan taktik perang Moan Teka  yang bersemboyan “rebu bait  damar jawa daan dadin” itu, akkhirnya melalui suatu tipu daya Belanda dan kerja sama dengan beberapa pihak lokal, Moan Teka dapat ditangkap dan dikurenti dalam suatu perundingan. Tipu daya Belanda itu berhasil karena terang sinar lampu kapal perang Pelikaan dan Mataram yang berlabuh di perairan Teluk Maumere.

Sinar lampu kedua kapal perang itu, lanjutnya, seolah membuat malam gelap menjadi siang terang. Sinar Lampu kedua kapal perang itu mampu mendeteksi pergerakan cepat dan benteng pertahanan Moan Teka di Hubin Wolomude, Tadabliro, Wolohuler, dan tempat lainnya. Efek mistik sinar lampu kedua kapal perang itu membuat kekuatan Moan Teka melemah mengahadapi Belanda dan mau datang berunding. Kekuatan Belanda saat itu seolah dianggap bagai Ama Lero Wulan Reta.

Ketiga, Perkawinan Paling Meriah di Maumere. Dikatakannya, penulis sejarahwan, budayawan serta satrawan dari kerajaan Sikka, AM Boer Parera da Rato, pernah berkisah tentang suatu perkawinan akbar yang pernah terjadi di Maumere dan belum ada tandingannya hingga masa kini.

Diungkapkannya pada Tahun 1938, Pangeran Don Lorenzo dari kerajaan Larantuka datang mempersunting putri sulung raja Sikka Don Thomas da Silva yang bernama Dona Martina dalam sebuah pesta perkawinan yang berlangsung  hampir 2 minggu lamanya. Dalam pesta itu, seluruh rakyat Sikka di Maumere bersukaria siang dan malam dalam pesta makan minum, tari menari, adu ayam, dadu regang bersama dengan ribuan tamu dan undangan yang datang dari berbagai tempat di Flores, bahkan dari Timor, Sulawesi, dan dari tempat tempat lainnya.

Menurut AM Boer Pareira da Rato, lanjut Didinong, di saat pesta berlangsung, berbagai rupa kapal dan perahu besar kecil milik para tamu dan undangan penuh sesak berlabuh di kawasan Teluk Maumere.

Keempat, Takalayar. Menurutnya, sebagai anak kecil di Maumere pada tahun 70 an, peristiwa kapal karam di Takalayar saat itu adalah sebuah ceritera besar. Dikatakan bahwa saat itu ada sebuah kapal kontainer bertonase besar dan bermuatan penuh dalam perjalanan dari China  menuju ke  Dili Timor Portugis melintasi Laut Flores di sekitar kawasan Teluk Maumere.

Dalam pelayarannya, kapal asing itu ternyata tidak dapat mendeteksi adanya gugusan terumbu karang besar, konon seluas lapangan sepakbola di perairan utara Pulau Sukun yang berbatasan dengan wilayah laut Sulawesi Selatan. Tak ayal, kapal bermuatan penuh itu karam. Demi keselamatan, awak kapal pun pergi meninggalkan kapal tersebut.

Untuk menghindarkan penjarahan dan tindak kriminal lainnya, pihak kepolisian Maumere datang mengamankan kapal kosong tersebut.  Tak lama kemudian, di Maumere mulai banyak beredar kain jeans, barang elektronik, dan lain lain hasil manufaktur di kalangan masyarakat tertentu. Gosip pun beredar bahwa di kapal itu juga ditemukan tidak sedikit uang asing, batangan emas, dan barang berharga lainnya.

“Kapal kosong itu barangkali kemudian mengkarat jadi besi tua atau tenggelam bersama penjelasannya yang samar samar saja sampai hari ini,” ungkapnya mengenang.

Kelima, Ancaman  Putera Presiden. Diungkapkannya, menjelang tahun 90 an, ada sebuah kapal pesiar mewah melintasi kawasan Teluk Maumere bahkan membuang sauh di sekitar Pulau Besar. Di atas kapal pesiar itu terdapat seorang putera Presiden Soeharto.  Mengetahui kehadiran kapal itu, pihak Sao Wisata  yang saat itu mengklaim memiliki konsesi atas pengelolaan kawasan Teluk Maumere segera mengirim utusan ke kapal itu agar pihak kapal dapat meminta ijin dan  wajib melaporkan aktivitas terlebih dahulu berikut membayar sejumlah biaya administrasi.

Alih alih mematuhi, putera Presiden Soeharto yang diberitahu tentang  kewajiban  itu malah balik mengancam bahwa ia akan datang membom Sao Wisata Waiara. Pegawai utusan dari Sao Wisata nampak ketakutan dan segera pulang untuk melapor atasan. Kebetulan saat itu  Frans Seda pemilik Sao Wisata sedang ada di Waiara. Ketika mendengar ceritera tentang respons putera presiden itu, ia langsung naik pitam. Ia segera ngebut dengan speedboat ke arah Pulau Besar. Konon, Tommy Soeharto minta minta maaf sambil cium tangan Frans Seda atas kekhilafannya tersebut.

Menurut pendapat Dr. Frans Teguh, pakar pariwisata asal Ende yang juga Asdep Menteri Pariwisata RI, sebuah destinasi pariwisata selain memerlukan kesiapan infrastruktur dan SDM serta promosi juga perlu mengembangkan berbagai even serta narasi dan literasi pendukung agar dapat semakin menarik minat pengunjung. (korneliusmanita/nbc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi