Jum. Jan 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020 di Taman Mini, Sederhana tapi Bermakna

3 min read
Para penari adat dalam perayaan Ekaristi Inkulturasi Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020 yang dipimpin oleh Siprianus Bate Soro

Reba Moku Ngada Jakarta 2020 di Taman Mini, Sederhana tapi Bermakna

NTTBANGKIT.com, JAKARTA — Perayaan Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020 yang bertempat di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Sabtu (22/02/2020), berlangsung dengan baik dan rapi hingga tutup acara pada pukul 23.59 WIB.

Acara dimulai dengan prosesi Za Ngaza (proses pembukaan Reba, red), lalu dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi Inkulturasi yang dipimpin oleh Romo Eduardus Dopo, SJ bersama dua Imam konselebran yaitu Romo John Podhi dan Romo Yongki, misionaris Prancis.

Dalam pengantarnya, Romo Edu mengatakan bahwa ini adalah Reba moku atau dalam bahasa keseharian disebut Reba sederhana, mengingat ada juga Reba meriah yang biasa diselenggarakan setahun sekali di daerah Ngada sebagai ucapan syukur kepada wujud tertinggi (Allah/Pencipta).

Misa Inkulturasi diiringi dengan lagu-lagu khas berbahasa Bajawa dari Ine Sina Choir, mulai dari ritus pembukaan hingga ritus penutup. Selain nyanyian, misa Inkulturasi juga dimeriahkan oleh tari-tarian adat Bajawa di setiap lagu yang dinyanyikan oleh koor.

Usai Perayaan Ekaristi Inkulturasi, acara Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020 dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. 

Sambutan pertama dari ketua panitia Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020, Edu Teru. Dalam sambutannya, Edu mengatakan bahwa kendati persiapan acara Reba ke-7 ini tergolong singkat, yaitu sekitar dua mingguan, acara Reba bisa berjalan dengan baik dan rapi berkat kerjasama semua anggota kepanitiaan, kendati sedikit molor dari waktu yang ditentukan.

Edu juga mengucapkan terimakasih berlimpah kepada semua pihak baik panitia, para peserta yang adalah warga Ngada Diaspora Jabodetabek dan para tamu undangan yang berkenan hadir dan meramaikan acara Reba ini.

Selanjutnya, Ketua Paguyuban Keluarga Besar Ngada Jakarta (PKBNJ), Alberto Bota dalam sambutannya mengatakan bahwa agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Reba kali ini dilakukan dengan sederhana dan kepanitiaannya pada umumnya dipercayakan kepada anak muda Ngada.

Sementara itu Kepala Badan Penghubung NTT Viktor Manek S.Sos, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat potensial bahkan bila dikelola dengan baik bisa memajukan masyarakat NTT.

Manek mencotohi Reba Ngada sebagai salah satu kekayaan budaya yang ada di NTT, bila dilaksanakan dengan baik seperti saat ini, tentu kedepannya akan membawa dampak positif bagi Anjungan NTT sebagai etalase NTT di Jakarta.

Selain itu, Alumni PMKRI Cabang Kupang ini juga mengatakan bahwa pihaknya dalam koordinasi dengan Pemprov NTT di Kupang telah menetapkan alokasi anggaran sebesar 25 juta rupiah untuk seluruh Ikatan Keluarga Besar NTT Jakarta guna menjadi pemantik dukungan pemerintah terhadap kegiatan budaya NTT di anjungan NTT.

Manek juga mengatakan bahwa pintu budaya bisa menjadi sarana bagi wisatawan untuk berkunjung ke NTT guna menikmati destinasi wisata di provinsi berbasis kepulauan tersebut.

“Di NTT kita punya komodo yang tempatnya di ujung barat Flores. Dan tidak lupa, kita juga punya negeri di atas awan yang ada di Wolobobo Kabupaten Ngada.” Serentak warga Ngada Diaspora yang hadir dalam acara Reba tersebut bertepuk tangan sebelum akhirnya Manek melanjutkan, “kita juga punya Kelimutu di Ende dan seterusnya di seluruh wilayah NTT. Tentunya melalui festival budaya, kita bisa membawa orang-orang luar untuk mengenal lebih dalam tentang NTT dan semua potensi budaya, pariwisata, alam, dan masyarakat NTT.”

Manek juga mengatakan bahwa Reba Ngada Jakarta bisa menjadi contoh dari konsistensi IKB Ngada Diaspora Jakarta dalam mengekspresikan dan memperkenalkan budaya Ngada di tingkat nasional. Untuk itu Manek berharap agar IKB lainnya bisa mencontohnya. 

Selain itu, Manek kembali menggarisbawahi bahwa kedepannya, Anjungan NTT akan terus diisi oleh pagelaran dan Festival budaya NTT setiap dua minggu sekali. Manek berharap kepada semua IKB NTT di Jakarta agar bisa memanfaatkan momentum ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan dan mengekspresikan, serta mengeksplorasi budaya NTT, sembari memperkenalkan destinasi wisata di NTT.

Akhir kata, Manek memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana acara Reba Ngada Diaspora Jakarta 2020 yang berhasil mendesign acara dengan sederhana, tapi meriah, berkesan, dan kaya akan nilai-nilai.

Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan sui uwi sebagai puncak acara Reba dan ka maki reba atau makan bersama ala budaya Ngada yaitu dengan menggunakan beka (tempat makan dari anyaman daun enau). Di sini, berdasarkan budaya Ngada, orang-orang yang hadir pada ka maki reba wajib makan menggunakan tangan kosong. 

Proses pembagian makanan dalam acara Ka maki reba juga biasanya dilakukan oleh beberapa orang yang dipercayakan untuk membagikan makanan (nasi dan daging ra’a rete) kepada semua peserta yang hadir. 

Ritus ini melambangkan kemurahan dan kebaikan orang Ngada yang selalu membagikan kebahagiaan kepada semua orang di sekitarnya, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan. Karena di mata orang Ngada, semua orang adalah sama dan setara. Semua orang adalah saudara. (*)

Penulis:  Emild Kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi