Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

DBD NTT Telan 32 Korban Meninggal, 14 Diantaranya Dari Kabupaten Sikka

2 min read
Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto saat diwawancarai oleh awak media tentang kasus DBD NTT (Image: Oke Zone)

DBD NTT Telan 32 Korban Meninggal, 14 Diantaranya Dari Kabupaten Sikka

MAUMERE, NTTBANGKIT.com — Ada yang lebih mengerikan dari Corona sebagaimana terjadi di NTT, yaitu DBD di NTT khusus kabupaten Sikka, bahkan hal tersebut sudah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). 

Ketika dunia dan situasi nasional Indonesia tengah disibukkan dengan Corona, di Kabupaten Sikka DBD terus menyerang warga, bahkan pantau terakhir kontributor Gerbang Literasi, sudah ada 14 orang meninggal karena DBD.

Korban terakhir adalah anak lelaki berusia 7 tahun yang meninggal pada Senin (9/3/2020) pukul 19.40 WITA. Bocah asal Brai tersebut meninggal di ICU, rujukan RS Kewapante dengan DBD grade3+ ensefalopati dengue+perdarahan saluran pencernaan. 

Kejadian ini terjadi setelah kunjungan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto pada pagi hingga siang harinya.

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto pada senin (9/3/2020) siang datang mengunjungi Kabupaten Sikka dengan didampingi oleh sejumlah pejabat Kementerian Kesehatan RI bersama. Hadir juga dalam rombongan tersebut Anggota DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena untuk melihat korban penderita DBD di Kabupaten Sikka, mengingat dari 31 korban meninggal akibat DBD di NTT, 13 diantaranya berasal dari Sikka. 

13 korban meninggal tersebut belum termasuk bocah asal Brai yang baru dikabarkan meninggal pada malam hari setelah kunjungan Menkes.

Setelah tiba di Bandara Frans Seda Maumere, Menkes dan rombongan langsung menuju RSUD. dr.T.C.Hilers Maumere guna menyaksikan secara langsung kondisi riil pasien DBD di rumah sakit pemerintah ini.  

Usai bertemu dengan pasien DBD di ruangan rehabilitasi medik dan berbincang dengan beberapa pasien anak yang terkena DBD,  Menkes Terawan kemudian mengatakan kepada pers bahwa kedatangan ke Sikka adalah untuk melihat langsung kondisi riil kabupaten Sikka dan khususnya pasien DBD di daerah yang dikenal sebagai penghasil moke (miras khas NTT) tersebut. 

Banyaknya pasien penderita DBD kata Terawan menunjukkan bahwa hal ini sudah memasuki Kejadian Luar Biasa (KLB). 

Terawan juga mengatakan bahwa Sikka adalah kabupaten terbanyak di NTT dalam hal jumlah korban meninggal akibat DBD. Dari total 32 orang meninggal di NTT akibat DBD, 14 orang diantaranya berasal dari kabupaten Sikka.

Untuk itu, Terawan juga mengatakan bahwa pihaknya akan mengerahkan tim medis untuk membantu proses pengobatan, proses logistik, serta mendorong proses promotif dan preventifnya, mengingat banyaknya sampah yang berserakan di Sikka tutur menjadi faktor pemicu DBD.

“Saya akan kerahkan tim saya untuk membantu proses pengobatan, proses logistiknya dan juga kita akan mendorong proses promotif dan preventifnya. Kalau tidak dicegah akan percuma. Jadi pencegahannya juga harus jalan. Pencegahan akan dibantu teman – teman biar angka kejadian menurun. Kalau angka kejadian menurun, angka kemungkinan terjadinya fatal, gradenya turun,”  ungkap Menkes Terawan dilansir dari kumparan.com.

Selain karena banyaknya sampah, ada masyarakat yang mengatakan bahwa musim jagung saat ini juga menjadi pemicu tumbuh kembangnya nyamuk penyebar DBD. 

Maka selain membersihkan sampah, fogging juga merupakan hal yang harus terus diupayakan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun pusat. (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi