Jum. Okt 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tarian “Sa Fai” Sambut Raja dan Ratu Belanda Di Istana Bogor

3 min read

Tarian dari Kabupaten Nagekeo yang dikenal dengan nama "Sa Fai" tampil di Istana Bogor sambut Raja dan Ratu Belanda (Image: Dok. Pribadi)

“Tarian “Sa Fai” Sambut Raja dan Ratu Belanda Di Istana Bogor

BOGOR, NTTBANGKIT.com — Tarian etnik asal Flores, dari Kabupaten Nagekeo yang dikenal dengan nama “Sa Fai” tampil di Istana Bogor dalam menyambut kedatangan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda yang melakukan lawatan ke Indonesia atas undangan Presiden Joko Widodo tampil pada 10 Maret 2020 di Istana Bogor.

Raja dan Ratu Belanda akan berada di Indonesia hingga 13 Maret 2020 dengan mengunjungi Yogyakarta (11 Maret), Palangkaraya (12 Maret), dan Danau Toba (13 Maret).

Kunjungan yang telah lama direncanakan ini menjadi momentum khusus saat dunia tengah dilanda wabah virus corona, termasuk Indonesia.

Kunjungan ini diikuti delegasi beranggotakan empat menteri dan sekitar 200 pengusaha dari Belanda dengan fokus kerja sama di sektor ekonomi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan pariwisata.

Sanggar Kotakeo merupakan salah satu komunitas tari asal Flores di Jakarta yang lolos seleksi oleh Staf Protokol Kenegaraan untuk tampil di Istana Bogor. Bersama grup musik Keroncong Toegoe dan siswa siswi pembawa bendera penyambut tamu negara, tampil mempesona di pelataran Istana Bogor.

Atas prakarsa putera terbaik Flores, NTT, Marsekal Pertama TNI Epi Embu Agapitus asal Ladolima, Nagekeo, maka sanggar seni besutan Kayetanus Feto itu menampilkan kearifan lokal Flores di hadapan Raja dan Ratu Belanda, serta Presiden Jokowi dan para tamu undangan.

Tarian ‘Sa Fai’ merupakan tarian yang dipersembahkan saat menyambut tamu agung (VVIP) dan syukur panen. Tarian tersebut sangat merakyat. Hampir semua orang Nagekeo akrab dengan tarian tersebut.

‘Sa’ artinya ‘khas’ atau ‘hanya’. Sedangkan ‘fai’ artinya ‘wanita.’ Lazimnya, para wanita yang membawakan tarian tersebut. Dengan iringan 5 gong dan beberapa gendang—laba meze (gendang mayor) dan laba toka (gendang minor)—turut menambah semarak alunan musik etnik khas Nagekeo dalam satu ensemble musik.

Pembawa tarian kebanyakan mahasiswi asal Nagekeo di Jabodetabek, selain pekerja swasta. Penabuh gong dan gendang pun demikian. Saking mencintai budayanya sendiri, maka Koordinator Umum penari Istana Bogor, Robert EppeDANDO tak kesulitan mempertemukan mereka dalam satu event bersejarah ini, yang mungkin saja sekali seumur hidup.

Harapan pak Embu, yang juga adalah Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II Bandung (Kaskogartap)—dengan hadirnya tarian etnik Nagekeo, Flores di Istana Bogor diharapkan agar publik Nagekeo semakin bangga dengan harta kulturalnya dan berupaya melestarikannya. Dengan demikian, milenial Flores semakin mencintai budayanya dan memperkenalkannya kepada dunia luar, bahwa betapa kayanya harta kearifan lokal yang selama ini terkubur di bumi Nagekeo.

Wujud nyata kepedulian kultural lainnya, yakni pak Embu yang adalah Perwira Tinggi TNI turut membaur dalam barikade penari sebagai penabuh gong—hal yang tak lazim dilakukan oleh Perwira Tinggi TNI.

Paduan corak busana etnik Nagekeo dalam kombinasi warna kuning dan hitam turut melengkapi kekayaan budaya Nusantara yang beragam nan satu Indonesia yang merupakan seni meniru dari indahnya alam yang kaya warna (pepatah latin—ars imitatio naturae).

Pada sesi akhir kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu Belanda, Sanggar Kotakeo diminta tampil lagi di sayap kiri pelataran untuk mengantar Tamu Negara menuju beberapa kota lain di Indonesia. Tampak keduanya menurunkan kaca mobil sambil melambaikan tangan dan tersenyum gembira tatkala melintasi dua baris penari Sa Fai diiringi pengawalan pasukan Paspampres dan protokol kenegaraan. (Robert EppeDANDO, Koordinator Tarian Flores Istana Bogor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi