Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bercita-cita Jadi Penerjemah di PBB, Akhirnya Jadi Sosiolog di Universitas Indonesia

8 min read

Doktor (Dr). Fransisia Fransiska Sikka Seda (Foto:ungkornel/istimewa)

Penulis: Kornelius Moa Nita*

Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi negara di zaman Presiden Soekarno, Presiden Soeharto hingga Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia lahir di zaman yang pelik di kala ayahnya menjadi politisi di lingkaran kekuasaan. Meski sebagai anak pejabat negara, ia hidup dalam kesederhanaan yang penuh disiplin, tekun dan kerja keras. Ia membuktikan diri, walau sebagai seorang perempuan, ia mampu bersaing dengan kaum pria dalam mengenyam pendidikan di bangku sekolah hingga meraih gelar Doktor Sosiologi. Ia menolak terjun ke politik, dan tetap konsisten menjadi akademisi untuk  menyiapkan generasi masa depan.

Doktor (Dr). Fransisia Fransiska Sikka Seda adalah putri pertama dari Drs. Fransiskus Seda, tokoh Flores, NTT yang sukses menjadi politisi nasional di paruh awal kepempinan Presiden Soekarno melalui Partai Katolik. Ery Seda, demikian nama manis yang disematkan ayahanda Frans Seda dan ibunda Yohana Maria Seda setelah ia lahir pada 3 Desember 1962 di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. Kelahirannya tergolong unik, karena oleh dokter diprediksi Ery Seda akan lahir pada 25 Desember 1962. Namun fakta berbicara lain, Ery Seda kemudian lahir lebih awal atau lebih cepat dari prediksi sang dokter. Dengan kata lain, Ery  Seda lahir prematur pada tanggal 3 Desember yang bertepatan dengan hari pesta Santo Fransiskus Xaverius. Karena lahir prematur, Ery Seda dirawat secara khusus oleh tim dokter.

Lima hari setelah Ery Seda lahir, ia langsung dibabtis di Kapela St. Carolus, Jakarta. Ery Seda kecil mulai bertumbuh dalam lingkungan keluarga Katolik dan pejabat negara. Meski ayahnya hampir tak mempunyai waktu karena kesibukan yang tinggi sebagai pejabat negara, kala itu menjadi anggota DPR GR dari Partai Katolik pimpinan IJ. Kasimo, sang ibunda Yohana tetap berusaha merawat dan menjaga Ery Seda dengan sepenuh hati. Ibunda Yohana yang adalah perempuan berdarah Ambon dan Manado, yang setia mendampingi Frans Seda dalam tugas-tugas negara, selalu menyisihkan waktu untuk memperhatikan putrinya. 

Pada bulan Agustus 1963, Ery Seda kecil  pergi ke kampung halaman ayahnya di Lekebai, Maumere, Flores. Ayah dan ibunya membawa Ery ke Lekebai untuk melakukan upacara adat cukur rambut sesuai tradisi adat orang Lio. Ery yang baru berusia 1 tahun digendong ibunya menumpang pesawat Hercules dari Jakarta ke Maumere. Waktu itulah pertama kali Ery Seda bersama ibunya dibawa oleh Frans Seda ke Lekebai pasca pernikahan pada 16 Mei 1961.

Ketika memasuki usia sekolah, Ery kecil masuk di TK Tarakanita di Mampang Prapatan, Jakarta. Saat hari pertama masuk sekolah, ibunda Yohana mengantarnya sendiri. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke tingkat SD di Belgia karena sang ayah Frans Seda bertugas di negara tersebut. Ia bersekolah di Belgia hingga mendapatkan ijasah SD. Setelah itu, ia kembai ke Indonesia dan masuk SMP lalu ke jenjang SMA hingga mendapatkan ijasah SMP dan SMA di Tarakanita, Jakarta.  

Dari masa kecil hingga masa remaja, Ery mengalami pendidikan yang sangat keras dan sangat disiplin tinggi, serta hidup tidak sebagaimana anak dari kalangan pejabat. Selain pendidikan di sekolah, ayah dan ibundanya jauh lebih keras, tegas dan disiplin serta melarang anak-anaknya menggunakan fasilitas negara, seperti mobil dinas yang dipakai oleh ayahnya. Selain itu, sebagai orang tua, ayah dan ibunya juga memberikan uang yang terbatas sesuai kebutuhan dan semua uang yang diberikan harus dilaporkan dan jika sisa maka harus dikembalikan. Pendidikan lainnya adalah harus menghormati asisten rumah tangga, sopir dan semua orang yang membantu di rumahnya. Dimana, ketika marah kepada asisten rumah tangga atau juga sopir anak-anak tidak boleh mengutarakan langsung tetapi harus menyampaikan ke orang tuanya, agar orang tua yang menegurnya.

“Ayah saya sangat tegas dan keras. Dia larang keras kami marah dan menegus asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kami. Dia minta anak-anak tidak boleh menegur atau marah. Kalau ada yang tidak puas harus tegur tapi melalui ibu. Selain itu, kami juga tidak bisa memakai fasilitas negara, seperti mobil. Pernah satu kali saya masih SD. Waktu itu saya mau minta sopir antar saya untuk beli permen, tidak jauh sih dari rumah. Eh pas minta ijin mau pake mobil bapak bilang tidak boleh pakai mobil negara,”ungkap Ery.

Frans Seda dan Yohana Maria tak mau anak-anaknya tidak mengeyam pendidikan tinggi. Mereka tak mau memberikan Ery Seda harta benda, tetapi memberikan pendidikan yang baik untuk masa depan agar bisa pergi keliling Indonesia dan keliling dunia. Mereka berpandangan bahwa pengetahuan dan pengalaman sampai mati tidak bisa ada orang yang merampok, tetapi harta dan kekayaan bisa dirampok.

Setelah tamat SMA Tarakanita, Ery Seda bercita-cita menjadi seorang penerjemah dan mau bekerja di Kantor Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-Banga (PBB) di New Work, Amerika Serikat. Ia ingin memilih pekerjaan sebagai penerjemah karena ia menyukai bahasa asing, terutama sastra Perancis. Dengan bekerja di PBB, ia merasa yakin akan bertemau dan berkenalan dengan orang banyak dari berbagai negara di dunia. Namun cita-citanya tak terwujud karena sang ayah mendorongnya untuk kuliah jurusan Ilmu Sosiologi. Ia merasa sangat berat karena di SMA tak ada pelajaran Ilmu Sosiologi. Jadi ilmu tersebut sangat gelap di matanya. Ayahnya terus mendorongnya dengan memberikan buku Sosiologi karya Sosiolog terkemuka di Belanda bernama Boumann. Ia kemudian mulai membaca dan mengenal sosiolgi dari buku tersebut.

“Dulu saya SD di Belgia. Ijasah SD saya di Belgia. Setelah itu, saya pulang masuk  SMP dan SMA Tarakanita. Dulu saya punya cita-cita menjadi penerjemah dan mau bekerja di Kantor Dewan Keamanan PBB di New Work, Amerika  Serikat. Saya suka bahasa. Saya ingin tinggal di sana agar bisa ketemu banyak orang. Lalu bapak bilang, kamu ngapain ambil Sastra Perancis. Belajar bahasa itu pake kursus saja.  Beliau mendorong saya untuk kuliah Sosiologi. Saya rasa gelap karena dulu di SMA Tarakanita tidak ada mata pelajaran Sosialogi. Bapak kemudian  memberikan buku Sosiologi karya sosiolog terkemuka Belanda, Boumann,”ungkap Ery Seda.  

Ery Seda kemudian masuk kuliah di Universitas Indonesia (UI) mengambil jurusan Sosiologi Pembangunan. Perlahan-lahan Ery  mulai merasakan manfaatnya dan mulai merasa nyaman belajar Sosiologi. Menurutnya, sosiologi pembangunan sangat penting karena berkaitan dengan masyarakat dan dampak dari pembagunan yang dilakukan oleh pemerintahan. Memasuki tahun kedua, ia diminta dosennya yang bernama Tapik Omas untuk menjadi asisten dosen dan mengajar di Rawa Mangun. Ia mengajar mahasiswa baru yang baru masuk kuliah.

Ketika Ery belum meraih gelar S1, ayahnya sudah mendorongnya agar setelah tamat harus mengambil S2. Akhirnya, setelah tamat dari UI dengan Skripsi berjudul ”Kurikulum Terselubung dan Modernitas Individu: Studi Kasus Sekolah sebagai Agen Sosialisasi,” ia pergi ke Amerika Serikat untuk kuliah di Universitas Cornell, negara bagian New Work Utara. Ia kemudian menyelesaikan S2 dengan judul tesis,” “The Politics of Development: A Case Study of the Asahan (Aluminium) Project in North Sumatra (Indonesia). Ia pun meraih gelar Master of Art (MA) pada 25 April 1989. Suatu saat ketika ia pulang ke apartemennya di Itaka, saat membuka kotak surat, ia mendapatkan surat dari Paulus Wiratomo, Ketua Jurusan Sosilogi UI. Isi surat tersebut sangat membuat hatinya bergembira, karena ia diminta menjadi dosen tetap Sosiologi di UI.

Dengan penuh suka cita, Ery pun pulang ke Indonesia untuk mengikuti prajabatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ery Seda pun akhirnya menjadi dosen tetap di UI. Di sela-sela menjadi dosen di UI, Ery kemudian mengambil lagi S3 di Amerika. Ia kuliah di Cornell University, Ithaca, New York, America Serikat. Ia membuktikan diri mampu dan layak menyandang gelar doktor, setelah menulis Disertasi (2001) “Petroleum Paradox: Natural Resources and Development in Indonesia, 1967-1997.” Ia memilih disertasi tentang migas karena saat itu  di era Soeharto 70 persen penghasilan negara dari devisa migas. Oleh karena itu, maka pemerintahan sangat otoriter  dimana Presiden Soeharto tidak mengandalkan pajak rakyat namun tetap berhasil. Semua kekayaan itu didapat dari devisa negara, seperti Singapura di jaman Liee Kwan You atau Mahatir Muhammad di Malaysia. Hanya satu fakta yang membedakan adalah parahnya Indonesia karena korupsi merajalela. Akhirnya, Indonesia sama seperti rezim Presiden FerdinanMarcos di Filipina.

Ditengah kesibukannya sebagai dosen tetap dari tahun 1990 hingga saat ini, Ery Seda juga menulis jurnal, buku, riset dan menjadi pembicara di beberapa universitas baik di dalam dan di luar negeri. Selain itu, ia juga terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti aktif di Gereja,  KWI dan di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pengabdian itu baginya untuk membalas kebaikan Tuhan. Ia juga melakukan pernah melakukan penelitian di Papua dan Kalimantan Barat, tepatnya di Keuskupan Sanggau.

Selain itu, Ery Seda juga terlibat di sejumlah organisasi dan LSM, seperti Anggota Pengurus Yayasan Atma Jaya (2004-2006; 2018-sekarang), Anggota Pengurus Yayasan STF Driyarkara, Jakarta (2012-sekarang), Wakil Ketua Pengurus Yayasan Bhumiksara (2016-sekarang), Ketua Pengurus Yayasan Bhumiksara (2018-sekarang), Anggota Dewan Penyantun Fakultas  Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2014-2018), dan Anggota Pembina Yayasan Bina Swadaya dari tahun 2008 hingga saat ini.

Sejak diangkat jadi dosen tetap pada tahun 1990, Ery Seda telah berkarya dan menduduki sejumlah jabatan akademis, seperti antara lain;  Dosen tetap Departemen Sosiologi, FISIP-UI (1990-sekarang), Dosen PSIL UI (2012-2018), Dosen Kajian Gender UI (2012-sekarang), Dosen FEB UI (2008sekarang), dan Dosen luar biasa STF Driyarkara (2001-sekarang). Ketua Program Pascasarjana, Departemen Sosiologi, FISIP-UI (2005-2008); Ketua Dewan Redaksi Masyarakat Jurnal Sosiologi, Departemen Sosiologi, FISIP-UI (2008-2016), dan Ketua Departemen Sosiologi, FISIP-UI dari tahun 2017 hingga saat ini. 

Ery Seda mengaku, keberhasilannya sebagai seorang perempuan NTT di dunia akademisi nasional saat ini adalah buah dari didikan kedua orang tuanya yang sudah menanamkan kedisiplinan, ketekunan, kesederhanaan dan kejujuran dari masa kecil, remaja hingga dewasa. Ia terispirasi dan termotivasi dengan kehidupan ayahnya (Frans Seda-red) yang berjuang dari kecil hingga sukses dan berguna bagi bangsa dan negara juga bagi sesama.

“Bapa saya itu keluar dari kampung di Lekebai, Flores pada usia 8 tahun dan tidak pernah lagi pulang kampung. Dia ke Ndao kemudian ke Seminari Muntilan di Yogyakarta tinggal di asrama. Dia adalah generasi didikan pastor-partor Belanda dari asrama, sehingga tertib dan sangat disiplin. Setiap hari hidup mengikuti jam. Mereka sangat tegas dan keras. Saya dari kecil tinggal di rumah, tetapi diperlakukan seperti di asrama,”ungkap Ery mengenang.

Selain sosok ayahnya, Ery juga mengaku apa yang dicapai saat ini adalah berhat perhatian dan buah cinta kasih dari ibundanya, Yohana Maria Seda, yang meski sesibuk apapun tetap memperhatikan anak. Walaupun ayahnya sibuk, dan ibunya pun sibuk mendapingi, namun ibu Yohana selalu meluangkan waktu datang sendiri setiap ada pertemuan orang tua murid. Ia tak pernah menyuruh siapapun termasuk asisten rumah tangga untuk mewakili pertemuan orang tua murid di sekolah.

Nilai-nilai yang ditanamkan kedua orang tuanya, selain disipin, tekun, jujur dan sederhana dalam hidup, juga harus bersyukur kepada Tuhan karena semua yang diperoleh adalah berkat penyelenggaraan dari Tuhan. Setiap hari Minggu yang adalah hari ke gereja harus ke gereja, kecuali sakit. Selain itu, setiap berkat yang diperoleh harus dibagikan kepada orang lain melalui pengabdian kepada masyarakat dan gereja. Adapula ajaran yang unik, yaitu setiap kali Ery Seda bersama adiknya meraih prestasi di sekolah, tak pernah diberikan hadiah khusus  atau special sebagaimana anak-anak pejabat negara. Sebab menurut kedua orang tuanya, apa yang diperolah, termasuk prestasi di sekolah adalah buah dari kerja keras bukan karena hadiah orang lain. Jadi, ketika mendapatkan rangking di sekolah, Ery hanya diajak ayah dan ibunya untuk makan bersama merayakan keberhasilan.

Meskipun ayahnya adalah seorang tokoh politik yang pernah menjadi Ketua Partai Katolik, menjadi Anggota DPRGR, menjadi Menteri Kabinet di era Presiden Soekarno,  Soeharto hingga Presiden Megawati, Ery Seda mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik praktis. Ia pernah diminta untuk menjadi calon DPR-RI dari Flores, NTT, tapi ia menolaknya. Ia lebih memilih konsisten menjadi seorang akademisi untuk membangun sumber daya manusia Indonesia.

“Saya mencoba untuk selalu realistis. Kalau memberi untuk bangsa dan negara itu terlalu luas. Yang jelas, tugas utama saya adalah mencerdaskan mahasiswa dan mahasiswi saya untuk menjadi orang baik dan benar.” (Dr. Ery Seda).*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi