Ming. Nov 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

“Hidup Adalah Pilihan, Konsistensi Berbuah Kesuksesan”

19 min read

Tokoh Politik Nasional dari NTT, Doktor (Dr), Andreas Hugo Pareira (*)

(Kisah perjalanan Dr. Andreas Hugo Pareira, Aktivis, Dosen dan Politisi Nasional dari NTT)

Penulis: Kornelius Moa Nita. S.Fil*

Jalan hidupnya sistematis dalam alur masa. Dia dibesarkan dalam keluarga guru, sempat mengenyam pendidikan seminari, yang kemudian menempa dan membentuk dirinya menjadi seorang anak manusia yang disiplin dalam berpikir, tegas, serta konsisten dalam bertindak. Walau ditinggal sang ibu sejak usia sembilan tahun, dia tidak gentar dan menyerah. Dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pekerja keras. Seperti kata Bung Karno, “Gantungkanlah Cita-citamu Setinggi Langit,” dia pun bercita-cita tinggi, bekerja keras untuk meraih cita-citanya menjadi manusia terdidik yang cerdas agar bisa berkelana ke belahan dunia lain demi melihat dan menemukan pengalaman baru sebagai bekal kehidupannya. Alhasil, dia berhasil menyandang gelar doktor ilmu politik di Jerman dan melejit sukses menjadi politisi nasional.

Namanya Andreas Hugo Pareira atau biasa dipanggil Andre. Dia tekun berjuang menggapai cita-cita melalui sebuah proses panjang dan melewati berbagai rintangan di jaman sulit. Dia dilahirkan sang Ibu Maria Priscilla da Silva di Kota Maumere, Kabupaten Sikka dalam deburan suara lautan biru Teluk Maumere dan dekapan pohon nyiur melambai gembira pada tanggal 31 Mei 1964. Ayahnya Guru Jeremias Pareira yang berasal dari kampung Sikka adalah kepala sekolah pada SMP Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) yang didirikan oleh Raja Sikka Don Thomas Ximenes da Silva. Yapenthom adalah salah satu Sekolah Menengah Pertama tertua di Pulau Flores, didirikan pada tahun 1949.

Dr. Andreas Hugo Pareira dalam saat kunjungan kerja ke Pulau Komodo, Manggarai Barat.

Andre kecil yang lahir genetik dalam keluarga pendidik bertumbuh menjadi seorang anak yang terbiasa dengan lingkungan pendidikan, dan ketika usia sekolah, ayahnya Guru Jeremias  mengirim Andre masuk ke SD Katolik I Maumere pada tahun 1970. Di bangku SD Andre tumbuh menjadi siswa yang cerdas dan tanpa kesulitan mengikuti semua pelajaran dari guru-gurunya. Namun di tengah kebahagiaan masa kecilnya, Andre harus mengalami tragedi duka ditinggal ibunda yang dikasihi dan sangat mengasihinya. Sang Ibunda Maria Priscilia da Silva meninggal dunia pada saat Andre berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas empat SD.  Andre dan ayahnya Guru Jeremias sangat kehilangan. Dua tahun sepeninggal ibunda tercinta sang ayah kemudian menikah lagi, dan dari ibu tiri kemudian lahir dua orang anak sebagai saudara dari Andre. Andre kecil menamatkan pendidikan sekolah dasarnya pada tahun 1975. 

Oleh ayahnya, Andre kemudian dikirim masuk ke SMP Seminari Yoanes XXII pada Januari 1976. Sekolah dan asrama pendidikan calon pastor ini terletak di samping Gereja Katolik di kampung Lela, dua puluh empat kilo meter dari Kota Maumere, tak jauh dari deburan ganas ombak Pantai Selatan kampung Sikka tempat asal nenek moyang Andre. Di seminari Andre menekuni berbagai bidang ilmu pengetahuan dengan penuh semangat. Di sampingpengetahuan yang bertambah di Seminari, Andre mengalami pengalaman hidup yang baru dimana dia harus meninggalkan kebiasaan hidup bermanja bersama orang tua dan memasuki sistem kehidupan kolektif bersama rekan seasrama yang berasal dari berbagai daerah di pulau Flores dan Timor. Pendidikan di seminari mengajarkan Andre untuk hidup mandiri dalam komunitas asrama yang berdisiplin tinggi, sambil mengasah intelektualitas dan kerohanian. Bagi Andre, seminari merupakan kawah Candradimuka yang menempa dirinya dari seorang anak  menjadi remaja yang siap menempuh kehidupan masa depan.

Masih kuat dalam ingatannya, Romo Anton Konseng Pr, guru Bahasa Indonesia sekaligus Bapak Asrama, yang sering kali memberikan tugas kepada para siswa  yang mewajibkan mereka untuk membaca dan menuliskan kembali materi yang dibaca. Seusai misa pagi, setiap siswa harus membaca satu perikop kitab suci lalu menuliskan pesan dari perikop kitab suci tersebut,  untuk kemudian dinilai dengan komentar oleh Romo Anton pada akhir minggu. Mengerjakannya ketika itu memang terasa tidak mudah, namun manfaatnya baru terasa kemudian, kenang Andre. Itulah yang dimaksud dengan membaca untuk memahami (verstehen) atau ilmu hermeneutik, dimana setiap siswa “dipaksa” bukan hanya membaca perikop kitab suci tetapi wajib memahami isi dan menuliskan kembali dengan penafsirannya sendiri atas perikop yang dibaca. Begitulah gambaran kehidupan rutin sehari-hari di seminari yang dialami Andre bersama kawan-kawannya. Selain berdoa, belajar, berolahraga, dan berekreasi, mereka juga mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan.

Setelah tiga tahun empat bulan mengenyam pendidikan di SMP Seminari Yoanes XXIII Lela, Andre tamat pada April 1979. Dia kemudian meninggalkan seminari Lela dan memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMA Seminari di Mataloko Ngada, dan pulang ke rumahnya di Kota Maumere. Dia berkeinginan melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Dorongan yang kuat untuk menimba ilmu dan pengalamanmemacu Andre untuk meninggalkan kota kelahirannya Maumere, dan berangkat ke Jakarta. Atas restu dari sang ayah, pada bulan Mei 1979, Andre memulai kehidupan baru di luar pulau Flores yang dicintainya.

Dr. Andreas Hugo Pareira saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Ende, Flores.

Meskipun Jakarta bukan merupakan kota yang asing baginya, karena sudah beberapa kali bersama orangtuanya mengunjungi ibu kota negara sebelumnya, namun Perjalanan menuju Jakarta saat itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan, kenang Andre. Karena untuk pertama kalinya dia harus berangkat menyeberang pulau seorang diri tanpa didampingi oleh orang tuanya. Ayahnya tercinta, hanya mengantar Andre sampai di Dermaga Sadang Bui (sekarang Dermaga Lorens Say). Di usia lima belas tahun, masih dengan celana pendek, bermodalkan satu ransel pakaian dan sedikit uang dari orang tua, Andre menumpang Kapal laut Perintis Niaga XIII menuju Surabaya. Di atas kapal dia bertemu dengan orang-orang sekampungnya yang rata-rata usia dewasa dengan tujuan yang sama, kuliah di berbagai kota di pulau Jawa. Sebagai satu-satunya remaja belia yang menumpang kapal Niaga XIII, dia tidak gentar atau kehilangan percaya diri.

Perjalanan ke Surabaya, Jawa Timur memakan waktu satu minggu. Setelah berangkat dari Maumere, kapal barang dan penumpang tersebut kemudian menyinggahi beberapa pelabuhan, yaitu Pelabuhan Reo, Pelabuhan Bima Sumbawa, Pelabuhan Lembar di pulau Lombok dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Sesampainya di Surabaya, dia kemudian berangkat ke Jakarta dan tinggal di rumah paman, adik ayahnya. Tujuannya untuk menimba ilmu di Jakarta pun dimulai. Juli 1979 dia diterima di SMA St. Fransiskus Asisidimana dia menjadi remaja yang hidup di Metropolitan Jakarta di era Presiden Suharto berkuasa.

Meskipun dari SMP di kampung, Andre tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk menyesuaikan diri dalam belajar maupun bergaul dengan teman sekolahnya baik di SMA maupun kegiatan di luar sekolah. Usai menamatkan pendidikan di SMA Asisi Tebet Jakarta pada Juli 1982, dia menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Katolik Parahyangan, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional. Di kampus, selain belajar teori-teori ilmu sosial dan ilmu politik di bangku kuliah, Andre juga terlibat aktif di organisasi kemahasiswaan dan sempat menjadi wakil ketua Senat Mahasiswa Fisip Unpar 1984-1985. Di luar kampus,, Andre bergabung dan aktif pada organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sejak tahun 1984.

Menjadi aktivis GMNI adalah sebuah pilihan yang tidak lumrah bagi mahasiswa asal Flores yang nota bene kebanyakan beragama Katolik pada masa itu. Pasalnya, telah menjadi tradisi bagi mahasiwa Katolik bergabung di PMKRI, Andre bercerita, pada saat itu mungkin hanya dua atau tiga mahasiswa asal Flores yang bergabung di GMNI. Salah seorang yang Andre masih ingat adalah seniornya Anis da Rato, mahasiswa Fisip UGM yang bergabung di GMNI Yogyakarta. Saat dia memilih aktif di GMNI, beberapa sahabatnya mahasiswa Katolik baik yang berasal dari Flores maupun yang bukan Flores, melihat dirinya sebagai orang aneh. Pertama, karena GMNI bukan pilihan yang lumrah untuk mahasiswa Katolik Flores. Kedua, GMNI juga bukan organisasi kemahasiswaan yang favorable di mata rezim Orde Baru, karena ideologi Marhaenisme yang dianut organisasi kemahasiswaan ini. . Namun, dia tetap konsisten dengan pilihannya, dan tekun mengasah diri di jalur kritis diluar mainstream politik yang didominasi oleh kekuasaan bedil Tentara dan represi rezim Orde Baru.

Sejalan dengan aktivitasnya di GMNI, Andre tetap tekun belajar untuk meraih gelar sarjana. Dia akhirnya diwisuda menjadi sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu politik di Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1986. Seusai menyandang gelar sarjana, oleh pamannya yang adalah pejabat di salah satu Kementerian di Jakarta, dia ditawarkan untuk melamar pada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI). Juga Ben Mang Reng Say, salah seorang tokoh nasional asal NTT, mantan Wakil Ketua DPR RI, Dubes RI untuk Portugal  yang saat itu sedang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA RI) pun memberikan rekomendasi kepada Andre untuk melamar ke Kementerian Luar Negerimengingat disiplin ilmu yang digelutinya adalah hubungan internasional. Namun Andre memilih jalannya sendiri untuk tetap berada diluar jalur pemerintahan, diluar rezim Orde Baru.

Sejak kecil, Andre memang sudah bercita-cita ke luar negeri untuk melihat dunia yang lain dan mencari pengalaman yang baru. Namun mewujudkan cita-cita itu tidak mudah karena orang tuanya tidak mempunyai kemampuan sejauh itu. Jangankan ke luar negeri, untuk kuliah di Jawa saja orang tuanya harus berhemat dan Andre sendiri pun berupaya memperoleh beasiswa dari kampusnya. Oleh karena itu, untuk ke luar negeri dirinya harus mencari jalan sendiri. Kala itu ada dua profesi yang menurut Andresesuai dengan latar belakang keilmuannya dan  berpeluang besar untuk memberinya kesempatan studi di luar negeri, yaitu dosen atau wartawan. Untuk itu, Andre kemudian menjadi penulis artikel untuk beberapa media. Dia juga berkesempatan ikut test di Harian Kompas dan lulus, namun pada saat yang bersamaan dia diterima menjadi asisten dosen di alma maternya, Universitas Katolik Parahyangan. Januari 1988 Andre memulai karirnya sebagai dosen di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Pilihan menjadi dosen bagi Andre selain untuk memperoleh peluang studi di luar negeri, adalah untuk menyingkir sementara dari dunia politik praktis, namun tetap berada di dalam lingkaran ilmu dan pengetahuan politik.

Mimpi ke Luar Negeri Terwujud

Doa dan cita-cita Andre melihat dunia yang lain dan pengalaman yang lain akhirnya terwujud. Andre sangat gembira karena pada bulan April tahun 1992 dia berangkat ke Jerman, setelah mendapatkan beasiswa dari KAAD (Katholischer Akademischer Auslaender Dienst), sebuah yayasan yang didirikan oleh konsorsium Uskup-uskup Jerman atau semacam KWI di Indonesia. Di Jerman, Andre belajar di Universitaet Pasau, pada bidang studi Asia Tenggara, Sosiologi dan Politik pada Profesor Bernard Dahm. Bernard Dahm adalah seorang Indonesianist atau ahli Indonesia generasi pertama di Eropa, yang menulis disertasi doktoralnya tentang Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Sukarno’s Kampf um die indonesische Unabhaengigkeit).

Dr. Andreas Hugo Pareira saat berbicara di DPR-RI

Sebelum berangkat ke Jerman, pada bulan Januari 1992, Andre telah menikah dengan kekasihnya Chatarina Veronika Dwi Indarwati Pareira, yang juga adalah dosen di Fisip Universitas Parahyangan. Bak durian runtuh, bukan hanya dirinya yang mengenyam pendidikan di Jerman, tetapi juga sang istri tercinta pun memperoleh beasiswa dari KAAD untuk studi S2 di Universitaet Konstanz. Selama studi di Jerman, putra tunggalnya pun lahir di kota Konstanz dan diberi nama Christian Satriadamai Pareira. Syukur tiada terkira, menjelang akhir tahun 1995 Andre menyelesaikan thesis dan pada Januari 1996 lulus ujian thesis dengan predikat memuaskan. Dia resmi menyandang gelar Magister Artium (MA) bidang Politik di Asia Tenggara.

Setelah menyelesaikan studinya, Andre sempat kerja serabutan beberapa bulan di Konstanz sambil menunggu istrinya menyelesaikan ujian. Pada pertengahan tahun 1996, Andre bersama istri dan putranya kembali ke Indonesia. Di kala itu, di tanah air tengah bergejolak dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menuntut kemerdekaan dari Pemerintah Indonesia. Selain GAM, pada masa itu perlawanan terhadap rezim otoriter Suharto mulai berkecamuk di seantero nusantara. Salah satu tokoh dan symbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru adalah Megawati Sukarnoputri. Andre mengaku, pengetahuan tentang dinamika politik Indonesia selama dia berada di Jerman sangat minim. Pasalnya, selama di Jerman sangat sedikit memperoleh informasi aktual tentang Indonesia; internet dan email belum selumrah saat ini. Sumber informasi utamanya adalah Majalah Tempo dan Koran Kompas yang datangnya satu atau dua minggu sekali.

Mendukung Megawati Sukarnoputri

Kembali ke Indonesia, Andre kembali mengabdi di almamaternya Universitas Parahyangan. Selain mengajar para mahasiswanya, darah aktivis politik yang kuat mengalir mendorong dirinya terjun dalam dunia politik praktis. Dia bertemu dan berkumpul kembali dengan rekan-rekannya sewaktu aktif di GMNI. Bersama rekan-rekannya, mereka kompak bersatu mendukung penuh perjuangan Megawati dan bergabung dengan PDI Pro Mega Jawa Barat.

Karena militansi, loyalitas dan kompetensi akademisnya, Andre kemudian didapuk menjadi Sekretaris Litbang DPD PDI Pro Mega Jawa Barat. Praktis dalam semua kegiatan partai dia terlibat langsung, dan itu terus berjalan hingga dia terpilih menjadi fungsionaris DPD PDIP. Aktivitas di PD I Pro Mega sejalan dengan perjuangan Andre dan rekan-rekannya di jalur Gerakan Mahasiswa di tahun 1980an untuk menumbangkan rezim otoriter Suharto. Di Kampusnya, Andre dipercaya menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan. Dalam posisi ini, Andre ikut menggerakan diskusi-diskusi kampus dan kelompok-kelompok Gerakan Mahasiswa yang sedang tumbuh subur di Jawa Barat. Dalam banyak kesempatan bersama rekan-rekan aktivis, Andre memainkan perannya mempertemukan PDI Pro Mega dan Gerakan Mahasiswa yang bergerak dari dalam kampus untuk keluar dalam bentuk aksi-aksi di Jalan.

Pada bulan Mei 1998 sebelum runtuhnya rezim Suharto, Andre memotori mengundang tokoh-tokoh politik pro reformasi seperti Sabam Sirait dan Marsilam Simanjuntak masuk ke kampusnya dan berorasi di depan mahasiswa yang siap turun aksi ke jalan. Menjelang minggu ketiga Mei 1998, situasi politik semakin panas, kampus Parahyangan pun menjadi salah satu basis gerakan reformasi sampai dengan jatuhnya rezim Suharto pada tanggal 2I Mei 1998. Runtuhnya rezim Suharto disambut dengan tempik sorak genderang kemenangan di kampus-kampus pro-reformasi. Sementara di lingkaran aktivis PDI Pro Mega Jawa Barat disyukuri dengan tumpengan sederhana petanda awal era baru perpolitikan Indonesia pasca Suharto. Dengan berakhirnya era Suharto, Andre pun kembali dengan tugas akademis di kampus, sementara di lingkaran PDI Pro Mega  yang bermetamorfosa menjadi PDI Perjuangan, dia  dipercaya menjadi  sekretaris Pappuda (Panitia Pemenangan Pemilihan Umum Daerah) PDI Perjuangan Jawa Barat. Euforia dan dukungan yang luar biasa masiv pada figur Megawati Sukarnoputri menghasilkan PDI Perjuangan meraih kemenangan secara nasional. Di Jawa Barat, PDI Perjuangan menjadi pemenang pertama dengan raihan suara 33,6 % atau setara dengan 27 kursi untuk DPR RI dan 30 kursi DPRD Provinsi Jabar.

Raih Gelar Doktor dan Kursi DPR-RI

Meski sebagai sekretaris Pappuda PDI Perjuangan Jawa Barat, posisi strategis yang ikut mengantar kemenangan PDI Perjuangan, Andre tidak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif  dari Daerah Pemilihan Jawa Barat. Saat rekan-rekan perjuangannya terpilih dan dilantik menjadi anggota DPR-RI pada tahun 1999, Andre justru sedang mempersiapkan diri berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi program doktoral. Untuk program studi doktoralnya ini, dia memperoleh beasiswa dari pemerintah Jerman melalui Lembaga Pertukaran Akademis Jerman atau dikenal dengan DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dienst). Pada April 2000, Andre terbang ke Jerman untuk melanjutkan studi S3 nya di Universitaet Giessen, sebuah Kota kecil tujuh puluh kilometer sebelah utara Frankfurt, dibawah bimbingan Profesor Reymund Seidelmann.

Di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitatet Giessen, disamping mengikuti seminar perkuliahan, Andre pun membantu professor Seidelmann memberi kelas kuliah pada mahasiswa program Master yang berminat terhadap studi politik di Indonesia dan Asia Tenggara. Tiga tahun bergelut dengan literatur dan perkuliahan, pada pertengahan Mei 2003 Andre menyelesaikan disertasinya tentang ASEM (Asia-Europe Meeting), yang dua bulan kemudian diuji oleh para professor dari Universitas Giessen. Andre kemudian dinyatakan Lulus dengan predikat Magna cum Laude atau Sangat Memuaskan, sebuah predikat kelulusan pada Universitas Jerman yang mendekati kesempurnaan hasil (Summa cum Laude).  Sukses meraih gelar doktor dalam bidang ilmu Politik, dia kembali ke Indonesia pada bulan Juli 2003, kurang dari setahun menjelang Pemilu 2004.

Menyandang gelar doktor politik jebolan Universitas Giessen Jerman, membuat ketokohan Andre di dunia akademis mencapai titik optimal. Tidak menyia-nyiakan kualitas keilmuannya, dia kembali ke almamater yang telah membesarkannya, menjadi dosen bagi mahasiswa-mahasiswanya. Selain itu, Andre juga kembali ke kandang Banteng, rumah partai di Jawa Barat. Andre kembali dipercaya sebagai ketua Balitbang DPD PDI Perjuangan Jabar. Dia pun disodorkan formulir Calon Anggota Legislatif untuk ikut bertarung pada Pemilu 2004 mewakili Daerah Pemilihan Bogor. Tidak langsung terpilih, namun melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu, Andre kemudian lolos ke Senayan mewakili rakyat Jawa Barat. Sebagai anggota DPR-RI, awalnya selama setahun dia ditugaskan oleh fraksi nya di Komisi III dan kemudian pindah ke Komisi I DPR-RI. 

Dr. Andreas Hugo Pareira ketika berkunjung ke Bajawa, Ngada, Flores

Di Senayan langkah politik Andre kian bersinar, dan gaung suara kritisnya terdengar nyaring sebagai anggota DPR RI dari fraksi yang berada di luar pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Di lingkungan partai, Andre pun dipercaya sebagai salah satu Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat periode 2005-2010. Karir politik di partai mencapai puncak, ketika pada Konggres PDIP Perjuangan tahun 2010, dia ditunjuk langsung oleh Ketua Umum Megawati Sukarnoputri sebagai ketua DPP Bidang Pertahanan dan Hubungan Luar Negeri masa bakti 2010-2015.

Setelah periode perdananya di DPR RI 2004-2009, langkah Andre ke senayan untuk kedua kalinya sempat tersendat. Pada Pemilu 2009, dia gagal alias tidak berhasil meraih kursi DPR-RI. Menurut Andre, laju Partai Demokrat di era kejayaan Presiden SBY tak terbendung. PDI Perjuangan Jawa Barat banyak kehilangan kursi di daerah basis tradisionalnya, termasuk di Daerah Pemilihannya, Bogor, yang sebelumnya memperoleh dua kursi, hanya tersisa satu kursi untuk DPR RI.

Kegagalan meraih kursi DPR RI pada pemilu legislatif 2009 tidak membuat Andre patah semangat. Dia malahan semakin bertekad untuk kembali ke senayan. Sementara di partai, pada Kongres PDI Perjuagan ketiga 2015 di Bali, Andre kembali dipercaya oleh Ketua Umum Megawati Sukarnoputri menjadi salah satu Ketua. Kali ini Andre menempati pos Ketua DPP Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk periode 2015-2020. Dibawah komando Ketua Umum Megawati, seluruh jajaran partai bertekad untuk meraih kembali kemenangan yang tertunda di dua periode sebelumnya, 2004-2009 dan 2009-2014. Dalam perjuangan untuk meraih kembali kemenangan, Andre sangat bangga dengan sosok kepemimpinan Ketua Umumnya yang tegas, konsisten dan pro kepada rakyat, terutama mereka-mereka yang terpinggirkan dalam proses pembangunan. Karakter petarung PDI Perjuangan muncul kembali, kenang Andre. Dia pun bekerja keras membantu Ketua Umumnya mengembalikan marwah PDI Perjuangan sebagai partai besar, partai pelopor. Karena kerja keras, loyalitas dan integritasnya kepada perjuangan partai, pada pemilu legislatif 2014, dia ditugaskan oleh partai untuk kembali ke daerah asalnya NTT, bertarung sebagai Caleg DPR-RI dari Dapil NTT-1, mewakili Flores, Lembata, Alor-Pantar. Alhasil, tekadnya terwujud, dia kembali terpilih menjadi anggota DPR-RI 20014-2019.

Kerja keras, perhatian pada pembangunan di Dapilnya serta perhatiannya pada rakyat kecil selama menjadi anggota DPR RI 2014-2019 membuat Andre semakin dikenal di Dapilnya. Pada pemilu legislatif 2019, dia kembali dicalonkan oleh partainya untuk Dapil NTT-1, dan untuk ketiga kalinya Andre melenggang ke Senayan, meraih kursi DPR RI untuk periode 2019-2024. Pada pemilu legislatif 2019 suara yang memilih Andreas Hugo Pareira melonjak drastis menjadi 91.610 (suara PDI Perjuangan 215.282), hampir dua kali lipat dibanding dengan suara Andre pada Pemilu legislatif 2014. Pada periodenya yang ketiga di DPR RI, Andre ditugaskan oleh fraksinya di Komisi X, membidangi Pendidikan dan Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olah Raga. Selain itu, Andre juga menjadi anggota Badan Legislasi yang bertugas merancang dan mempersiapkan Program Legislasi Nasional, serta di MPR RI sebagai anggota Badan Pengkajian.  

Sikap Konsisten Jalan Menuju Sukses

Menurut Andre, hidup adalah sebuah pilihan, dan sikap konsisten adalah jalan menuju kesuksesan. Dia berprinsip bahwa jika ingin mencapai atau meraih sesuatu, harus ditekuni dan konsisten menjalankannya. Jika menyiapkan diri dengan baik dan konsisten, maka jalan menuju kesuksesan akan terbuka. Dia telah melewati berbagai pengalaman hidup pahit dan getir dalam meraih cita-cita. Pertama, dia kehilangan ibu kandungnya saat berusia sembilan tahun. Kedua, dia merantau ke Jakarta di usia relatif masih sangat muda, dan harus menghadapi kehidupan keras di megapolitan Jakarta. Ketiga, dia menghadapi situasi sulit di jaman Orde Baru, dimana peluang berpolitik berbeda pandangan dengan kekuasaan praktis tertutup rapat, sehingga butuh “nyali” politik untuk terlibat dalam situasi sulit, konsisten berjuang, kepercayaan diri dan keyakinan ideologis.

Selain itu, faktor keempat yang membuatnya sukses meraih cita-cita adalah sikap konsisten untuk tidak terperangkap pada pilihan yang tidak sejalan dengan nurani hanya karena iming-iming politik. Konsistensi sikap ini teruji, ketika pada tahun 1989 sebagai dosen di Universitas Parahyangan, dia bersama kolega dosen muda lainnya menjalani program penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Program penataran tersebut dilaksanakan parallel dengan rekrutmen kader politik untuk partai yang berkuasa pada saat itu. Ketika itu Andre pun dilirik untuk menjadi kader partai penguasa, namun secara politis pula dia menolak, dengan alasan lebih ingin berkarir di dunia akademis. Hal serupa yang dia lakukan, ketika memutuskan untuk tidak mendaftar menjadi PNS setelah menyelesaiakan studi S1.

Andre tumbuh menjadi seorang aktivis GMNI yang konsisten dengan jalan yang dia pilih, yaitu mendukung Megawati Sukarnoputri. Mengapa mendukung Megawati? Keputusan ini diambil melalui diskusi intensif di kalangan aktivis GMNI. Menurutnya, GMNI identik dengan Sukarnoisme dan Megawati adalah penerus Sukarnoisme. Meski ada beberapa puteri Sukarno yang melakukan perlawan terhadap rezim otoriter Suharto, seperti Rahmawati, Sukmawati dan Megawati dan ketiganya adalah pendiri partai politik, Andre bersama teman-teman aktivis GMNI memutuskan untuk mendukung Megawati karena konsistensi dengan jalan ideologis yang ditunjukan oleh Megawati, menjadi patron untuk Andre yang baru mulai terjun ke dunia politik. Bagi Andre, Megawati adalah role model politisi ideologis yang berintegritas tinggi. Pertimbangan inilah yang membuat Andre meyakinkan teman-temannya untuk bergabung dengan PDI pro Mega pada pertengahan dekade 1990an.

“Di kala itu kebanyakan kalangan aktivis fokus melawan rezim Suharto dan memikirkan seperti apa Indonesia ke depan. Kalau mau hidup tenang dan nyaman, dunia kampus dengan gaji yang cukup dan ruang gerak yang terbuka ke berbagai belahan dunia, merupakan pilihan ideal. Tetapi, saya memilih masuk ke dunia politik karena ingin terlibat dalam perubahan di Indonesia. Di dunia politik, apa yang kita pikirkan dan kita cita-citakan bisa diwujudkan melalui keterlibatan dalam menyusun regulasi perundangan di DPR-RI. Saya mempunyai referensi keilmuan yang cukup. Oleh karena itu, saya berani keluar dari zona nyaman kampus dan terlibat di partai politik. Pada awal sampai dengan pertengahan dekade 1990an bergabung di PDI kemudian PDI Pro Mega bukanlah hal yang populer dikalangan politisi. Hanya orang-orang nekat saja berani bergabung dengan Megawati,” kenangnya.

Kecintaan Andre kepada sosok Sukarno, ternyata bukan baru dimulai ketika bergabung dengan GMNI atau PDI Perjuangan yang kental dengan Sukarnoisme, tetapi kecintaan ini sudah lahir dan tumbuh sejak kecil ketika masih di Maumere. Di lingkungan keluarganya, ayahnya adalah seorang guru Sejarah yang mengagumi sosok proklamator bangsa Indonesia Bung Karno yang pernah dibuang Belanda di Ende, Flores. Selain itu, di rumah ayahnya memiliki sebuah buku tentang Sukarno yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” (DBR). Buku tersebut dibaca berulang kali oleh Andre kecil yang masih duduk di bangku SD.  Andre berkisah, bab favoritnya dalam buku DBR adalah “Surat-surat dari Ende”, dimana Bung Karno dan Haji Hasan yang tinggal di Bandung, berdiskusi, berpolemik mengenai Keislaman, pengalaman pertemuan Bung Karno denganrohaniwan-rohaniwan Katolik, aktivitas Bung Karno  dengan para pemuda dan tokoh masyarakat di Ende.

Ketika Andre menjadi dosen dan kemudian berkiprah di dunia politik, dia sering tampil di ruang publik, baik di radio, televisi dan media cetak lainnya. Dia sering tampil berbicara mengenai berbagai topik sosial politik yang tengah berkembang, termasuk memberikan motivasi bagi kaum muda dan para mahasiswa. Sebagai dosen dia selalu mendorong mahasiswanya agar selain belajar teori di bangku kuliah mereka perlu terjun di masyarakat melihat dan mengalami realita sosial. Apabila ingin sukses, seseorang yang belajar ilmu-ilmu sosial harus bisa dua hal, menulis dan mempresentasikan.  Jika dua hal itu dikuasai secara baik, maka orang tersebut berpeluang untuk maju dan menjadi leader. Jika tidak memiliki kedua-duanya, paling tidak salah satunya harus dikuasai, entah kemampuan menulis dengan baik atau kemampuan berbicara di depan publik dengan baik.

Di DPR RI maupun di Partai, Andre sering tampil sebagai juru bicara. Menurutnya, tugas tersebut gampang-gampang sulit, karena berbicara sebagai jubir, tidak hanya asal berbicara, tetapi harus memahami aturan dan kebijakan partai dan mampu mendengar, merangkum dan memahami terlebih dahulu aspirasi rakyat baik melalui media maupun dari pengalaman yang dirasakannya di tengah rakyat. Bagi Andre, sebagai wakil rakyat, mendengar, melihat langsung, memahami dan mengolahnya untuk diartikulasikan di ruang sidang DPR maupun MPR adalah persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh wakil rakyat. “Kalau anggota DPR tidak bicara ya percuma. Tidak ada manfaatnya untuk rakyat yang telah memilihnya. Oleh karena itu, menjadi wakil rakyat butuh kompetensi minimum,” ungkapnya.

NTT  Butuh Pembangunan Infrastruktur dan Peningkatan Kualitas SDM     

Sebagai wakil rakyat NTT, bagi Andre terasa lebih tertantang dibanding Provinsi Jawa Barat yang menjadi basis awal perjuangan politiknya.  Sejak 2013  ditugaskan ke NTT khususnya di Dapil Flores, Lembata, Alor-Pantar, dia telah mendatangi lebih dari dua ribuan titik  untuk menemui masyarakat. Setiap kali berkunjung, baik sebagai Ketua DPP PDIP, sebagai Caleg DPR-RI dan sebagai anggota MPR-RI, dia semakin mengenali Dapil yang menjadi tempat asalnya. Jika tidak menjadi anggota DPR, dia mengakui, bisa saja dia tidak akan pernah mengenal dari dekat masyarakat Flores Lembata dan Alor-Pantar.

Dengan menjadi wakil rakyat, dia merasa lebih mengenal berbagai adat istiadat, budaya, bahasa, suku dan agama masyarakat di Flores. Flores yang dari luar kelihatan homogen karena mayoritas penduduknya beragama Katolik, ternyata sangat heterogen dari segi suku, budaya dan Bahasa. Dia merasa perlu menjadi wakil rakyat dari daerah asalnya, karena masih banyak hal yang tertinggal, baik dari segi ekonomi, pendidikan, infrastruktur, transportasi, telekomunikasi, dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah PAD yang rendah, sehingga untuk melakukan pembangunan masih sangat tergantung dari pemerintah pusat. Semua kabupaten di Daerah Pemilihannya Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya dibawa 10 persen, bahkan ada daerah yang hanya 5 persen.

Dr. Andreas Hugo Pareira ketika berkunjung ke Ende, Flores.

Diakuinya, memang sudah ada Dana Alokasi Umum (DAU), tetapi Dana Alokasi Khusus (DAK) pun masih sangat dibutuhkan. Disinilah menjadi peran DPR-RI untuk menyampaikan aspirasi demi perubahan di  NTT. Tugasnya sebagaianggota DPR-RI adalah berbicara tentang Indonesia dan khusus tentang NTT.  Pemerintahan Presiden Joko Widodo mempunyai perhatian yang begitu tinggi terhadap wilayah-wilayah di luar pulau Jawa yang selama sekian dekade sejak kemerdekaan terabaikan dalam proses pembangunan. Dalam hal ini NTT memperoleh perhatian khusus dari pemerintah pusat melalui berbagai program pembangunan,

Dia merasa bersyukur beberapa tahun terakhir pembangunan di NTT sudah lebih baik, meskipun harus diakui bahwa pembangunan infrastruktur masih tertinggal. Sebagai orang Flores yang lama tinggal di Pulau Jawa dan di luar negeri, dia melihat Flores masih sangat butuh infrastruktur dasar Jalan, listrik dan air bersih. Kendatipun demikian, dalam pengamatannya sebagai wakil rakyat, dia merasa bersyukur, meskipun tidak banyak pembangunan industri, NTT khususnya Flores, Lembata dan Alor-Pantar tidak banyak rusak,alam dan lingkungan hidup daerah ini masih terawat baik secara natural. Fakta tersebut baginya merupakan rahmat yang sekaligus modal bagi rakyat. Ketika di daerah lain lingkungan hidupnya mengalami kerusakan akibat eksploitasi alam secara berlebihan, alam NTT tidak rusak karena memang juga minimnya sentuhan program pembangunan dari pusat ke NTT. Untuk itu, dia mengajak rakyat, terutama generasi muda menjaga alam, lingkungan hidup dan budaya yang merupakan anugerah sekaligus merupakan potensi pariwisata yang unik, berbeda dengan daerah lain.

“Ini potensi yang harus kita rawat dan kita kembangkan menjadi kekayaan NTT. Alam yang indah, laut yang kaya dengan berbagai jenis ikan dan sumber daya hayatinya menjadi andalan kita dalam pembangunan”,  tutur Andre, dalam sebuah percakapan dengan penulis.

Motivasi untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia dan pariwisata lah yang mendorong Andre untuk bergabung di Komisi X DPR RI. Pendidikan dan pariwisata harus menjadi skala prioritas. “Dahulu, pada periode DPR RI 2014-2019 ketika di komisi I, saya ngotot agar dalam program Indonesia Merdeka Signal, NTT harus ada didalamnya. Karena daerah ini termasuk wilayah sulit signal. Hasilnya, mulai terasa, pembangunan infra struktur telekomunikasi seluler di daerah ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Pada periode 2019-2024 ini, saya akan lebih fokus pada pembangunan SDM dan Pariwisata” ungkapnya.

Untuk kaum muda, dia menekankan pendidikan menjadi basis utama. Disamping pendidikan umum, perlu ada pendidikan keterampilan untuk mempersiapkan generasi muda masuk dalam dunia kerja yang produktif. Kalau bangsa ini mau berkompetisi dengan bangsa lain, maka generasi mudanya harus produktif. Tugas negara melalui pemerintah adalah memfasilititasi kaum muda untuk masuk dalam dunia kerja. Andre menegaskan bahwa apabila pemerintah menginginkan warga NTT tidak keluar daerah, menjadi TKI di luar negeri, maka mereka harus disiapkan agar menetap mengolah lahan pertanian dan kekayaan laut berlimpah di NTT untuk bisa menghasilkan nilai lebih ekonomi yang produktif. Namun, apabila warga pergi ke luar daerah atau keluar negeri, maka agar supaya mereka berkembang lebih baik, harus difasilitasi oleh pemerintah dengan ketrampilan agar tidak mengalami kesulitan di luar daerah asalnya, apalagi di kuar negeri. Intinya harus disiapkan ruang yang cukup terutama bagi generasi usia kerja agar mereka tidak terdorong keluar negeri, tetapi tinggal di daerah asalnya untuk mengolah potensi kekayaan alam di daerah asalnya.

*Penulis: Aktivis dan jurnalis, tinggal di Kupang dan Jakarta (Nomor Kontak: 0812 1227 5922)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi