Kam. Jan 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Undang Ahli, Radio Swara NTT Lakukan Wawancara Eksklusif Tentang Ikhtiar Pengembangan Ekonomi NTT

5 min read

NTTBANGKIT.COM, KUPANG — Pasca diselenggarakannya Webinar kolaborasi dengan tema, “mengembangkan ekonomi kreatif dan inovatif berbasis kearifan lokal di NTT,” Radio Streaming Swara NTT milik Pemprov NTT mengadakan wawancara eksklusif.

Adapun tiga narasumber yang hadir adalah Dr. Asep Dedi Sutrisno, Dr. Henni Gusfa, dan Co-founder Du’anyam Hanna Keraf.

Tampil sebagai host dalam wawancara eksklusif yang berlangsung sekitar hampir dua jam tersebut, Kasubag Pelayanan Masyarakat dan Hubungan Kelembagaan, Frans Tiran dan Ketua Umum Formapena Jabodetabek serta Founder Kalira Institute, Emild Kadju.

Dalam wawancara tersebut, Dr. Asep Dedy Sutrisno yang merupakan ahli teknologi pangan dari Universitas Pasundan sekaligus Auditor Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam materinya mengataka bahwa ia bersama tim ahlinya bisa berkunjung ke NTT melihat kemungkinan diversifikasi produk pangan lokal NTT bila pemerintah daerah setempat mengizinkan suatu waktu nanti, seperti kelor, rumput laut, dan lain sebagainya.

Ia juga menjelaskan bahwa diversifikasi produk berfungsi untuk mendesain berbagai produk sesuai dengan keinginan pasar yang notabenenya memiliki selera yang beragam. 


Dr. Asep Dedi Sutrisno

Semakin beragamnya produk yang dihasilkan dari bahan-bahan mentah yang terbatas, akan memperluas pangsa pasar dengan sendirinya. Dengan demikian, tentunya ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat kecil akan bertumbuh dan berkembang.

Soal teknologi, Dr. Asep katakan bahwa pihaknya memilikinya dan karena itu daerah tidak perlu cemas. Soal pangsa pasar pun demikian, Dr. Asep menurut bahwa pihaknya akan melakukan survei pasar terlebih dahulu, lalu kemudian survei produk lokal yang memungkinkan dibuatnya diversifikasi sesuai ekspektasi market place.

“Pastinya kita akan melakukan survei pasar terlebih dahulu, kemudian disinkronkan dengan produk-produk yang bisa dihasilkan dari bahan-bahan pokok kita. Soal mesin, jangan khawatir, punya kita lengkap. Soal SDM jangan takut, kita akan mendampingi masyarakat dan memberikan pelatihan-pelatihan teknis yang berguna dan bermanfaat dalam hubungan dengan diversifikasi produk dan marketing berbasis digital,” tutur Kang Asep yang adalah juga Dosen Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung.

Sementara itu co-Founder Du’anyam, Hannah Keraf mengatakan bahwa NTT begitu kaya akan budaya dan produk-produk kerajinan tangan khas, yang bila di-manage dengan baik, akan membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat kecil.


co-Founder Du’anyam, Hanna Keraf

Setelah lulus dengan gelar B.B.A. dari Universitas Ritsumeikan di Jepang (2007 – 2011) dengan full beasiswa baik dari Ritsumeikan, maupun dari pemerintah Republik Indonesia, Hanna pulang ke NTT untuk melihat kemungkinan-kemungkinan mempraktikkan social entrepreneur.

Pada tahun 2015, Hannah dan dua orang temannya membangun Du’anyam, yang mana masih eksis dan terus berkembang hingga saat ini.

Du’anyam sendiri, menurut Hannah, merupakan program untuk mengembangkan ekonomi masyarakat lokal di Indonesia Timur. Berawal dari NTT, kini Du’anyam sudah memperluas wilayahnya ke Papua dan Kalimantan Timur, dan memiliki lebih dari 450 pengrajin perempuan asli daerah sebagai partner Du’anyam. 

Puteri mantan Menteri Lingkungan Hidup (1999-2001) ini memaparkan bahwa hingga saat ini, Du’anyam sudah memasarkan produk-produk di Jepang dan beberapa negara lainnya, bahkan secara perlahan mulai merambah ke pasar-pasar internasional.

“Kami bermitra dengan banyak ibu-ibu di daerah, tetapi dengan menerapkan standar dari sisi kualitas, kuantitas, dan time management yang tinggi. Kami tentunya membeli kerajinan tangan dan memesannya sesuai ekspektasi yang dibutuhkan pasar-pasar multi-nasional dan global. Dengan demikian, ibu-ibu di kampung tidak perlu takut lagi soal pasar, karena kami yang mencarinya, dengan harga yang sebanding dengan keringat yang mereka cucurkan,” tutur Hanna. 

Tentang produk yang dihasilkan, Hanna katakan bahwa Du’anyam lebih berfokus pada barang-barang yang useful, seperti tas, tempat laptop, alas cangkir, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, Dr. Henni Gusfa, sebagai narasumber ketiga mengatakan bahwa dibutuhkan kaum muda sebagai agen perubahan. Tanpa kaum muda, perubahan akan sulit dicapai.

Dr. Henni juga mengatakan bahwa dengan menerapkan diversifikasi produk, seperti yang disampaikan Dr. Asep, dirinya meyakini bahwa sebuah produk lokal akan bisa merebut pangsa pasar.


Dr. Henni Gusfa, M.Si.

“Tentunya kita akan survei dulu kebutuhan pasar apa saja. Dari situ, kita kemudian merumuskan, kira-kira barang apa yang mau kita produksi jadi apa. Tentunya kita akan datangkan ahli-ahli,” tutur Dr. Henni yang adalah juga Sekretaris Prodi Komunikasi program Pascasarjana Universitas Mercu Buana Jakarta, dan melanjutkan, “Dalam hal diversifikasi pangan lokal misalnya, kita akan mengundang ahli teknologi pangan seperti kang Asep (Dr. Asep, red.) untuk memberikan bimbingan yang intensif secara berkala bagi masyarakat lokal.”

Pembina komunitas Adhikartes ini juga mengatakan bahwa di beberapa Kementerian, ada program pendampingan UMKM yang biasanya dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan, dengan koridor kerjasama antara Kampus dengan daerah.

Soal buaya pun, pelaku UMKM tidak perlu cemas, karena semua ditanggung oleh pemerintah, melalui kementerian-kementerian terkait.

Hal ini dikatakan Dr. Henni, karena dirinya sudah pernah melakukan beberapa pendampingan ke daerah-daerah, khususnya terhadap masyarakat yang masih menerapkan local market place.

“Tujuan pendampingan kami sebagai akademisi adalah, selain sebagai wujud pengabdian masyarakat, kami juga ingin membantu meningkatkan ekonomi kerakyatan masyarakat kecil dimanapun mereka berada,” tutur Dr. Henni.

Selanjutnya Frans berharap agar para ahli, khususnya Dr. Asep dan Dr. Henni bisa terlibat dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat NTT berbasis produk kearifan lokal.

Lebih lanjut, Ketua Formapena, Emild Kadju mengatakan bahwa marketing promote berbasis digital adalah hal yang harus dilakukan untuk memperluas pangsa pasar. 

Putera Ngada, provinsi NTT ini juga mengatakan bahwa untuk berkembang, masyarakat mau tidak mau harus beradaptasi dengan digitalisasi teknologi.

“Ini soal mindset juga. Teknologi digital jangan dilihat sebagai tantangan, melainkan harus dilihat sebagai peluang yang berpotensi mendukung ekonomi kerakyatan, bila di-manage secara baik,” tutur Emild dan melanjutkan, “Sudah saatnya bagi NTT untuk menggandeng teknologi digital sebagai salah satu bentuk marketing, selain gaya marketing konvensional seperti yang selama ini kita praktekkan dari masa-masa lalu.”

Alumni STFK Ledalero ini juga mengatakan bahwa Desa-desa di NTT pun perlu berpikir kreatif dalam memanfaatkan Dana Desa khususnya untuk mengembangkan BUMDes berbasis digital.

“Kita tahu bahwa beberapa waktu lalu, ada dua BUMDes dari NTT yang masuk nominasi 10 besar BUMDes terbaik di Indonesia karena berhasil memasarkan produk lokal mereka dengan menggunakan teknologi digital seperti Buka Lapak dan OLX,” tutur Emild dan melanjutkan, “Hendaknya Desa-desa lain juga mengikuti jejak kedua Desa tersebut, dan bila perlu desa-desa di NTT bisa membuat aplikasi penjualan sendiri untuk memasarkan produk lokalnya.”

Hal ini penting diusahakan kedepannya, karena menurut Emild, dengan menggunakan aplikasi sendiri yang dikembangkan melalui pemanfaatan dana desa, sebuah BUMDes akan mendapatkan dua hal sekaligus yaitu income dari adsense aplikasi dimana semakin banyak orang yang membuka aplikasi tersebut, maka semakin aplikasi tersebut akan dihargai oleh google atau pun mesin pencarian lainnya, dan pangsa pasar yang semakin luas.

Pada akhir sesi diskusi, baik itu Dr. Henni maupun Hanna Keraf percaya dan meyakini bahwa ketertarikan kaum muda NTT terhadap social entrepreneur semakin baik dari waktu ke waktu, sehingga bisa diarahkan untuk menjadi the agent of change.  (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi