Kam. Jan 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Membangun Rumah Adat dan Taman Miniatur NTT Sebagai Pusat Kebudayaan NTT

4 min read

Rumah adat Alor di Anjungan NTT, Taman Mini Indoensia Indah (*)

Oleh: Kornelius Moa Nita,S.Fil

Memasuki kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, terlihat ada begitu banyak rumah adat dari semua provinsi berdiri tegak nan kokoh syarat dengan latar belakang sejarah budaya masing-masing daerah. Di setiap anjungan masing-masing rumah-rumah adat itu telah lama dibangun oleh pemerintah sebagai perwujudan dari nilai-nilai budaya Indonesia yang terkonsentrasi di TMII, yang menjadi gambaran umum kekayaaan budaya daerah yang menjadi soko guru kebudayaan nasional. Ada rumah adat orang Jawa, orang Aceh, Batak, Minangkabau, Toraja, Manado, Dayak, Papua, Bali, Bima, NTT dan Maluku serta yang lainnya. Bangunan rumah adat dengan berbagai konstruksi dan arsitektur yang unik dan langkah itu menjadi bukti nyata bahwa Indonesia terdiri dari beraneka suku bangsa dari Sabang sampai Marauke dari Miangas hingga Pulau Rote.

Nah, sebagai orang NTT kita juga mempertahankan rumah adat yang diwarikan nenek moyang sebagai kebudayaan orang NTT. Bila memasuki anjungan NTT di TMII, kita pun tidak kalah dalam membangun rumah adat yang lengkap dengan acecoris dan simbol-simbol adat dan budaya NTT. Setelah memasuki gerbang utama yang diapit dua ekor komodo yang menjadi ikon pariwisata dunia milik NTT, kita melihat ada dua rumah adat. Di samping kiri ada beberapa Lopo yang merupakan rumah adat Timor dan di samping kanan ada rumah adat Bajawa, Flores berbentuk panggung yang berdinding kayu papan. Setelah itu, di bagian timur ada rumah adat Alor berbentuk panggung dan di sebelah barat ada rumah adat Sumba. Di dalam anjungan itu juga ada dua buah gedung. Gedung utama yang terbesar diberi nama Gedung Kelimutu yang diambil dari nama Danau Tri Warna di Kota Ende, lalu ada Gedung di sebelah kanannya yang berbentuk Tii Langga. Tii Langga adalah sebuah topi khas rakyat Rote Ndao.

Di kawasan anjungan NTT, hanya terlihat beberapa bangunan rumah adat saja. Tidak semua rumah adat orang NTT dari kabupaten lainnya dibangun oleh pemerintah. Padahal, NTT memiliki kekhasan konstruksi rumah adat yang unik, seperti rumah adat orang Sabu Raijua, rumah adat orang Manggarai, rumah adat orang Adonara, rumah adat orang Sikka, Ende, Belu, dan lain-lain. Mungkin saja semua rumah adat tidak bisa dibangun sekaligus karena luas lahan dan anggaran daerah yang terbatas. Padahal kalau semuanya dibangun dalam kawasan itu, maka terlihat lengkap memberikan gambaran yang utuh tentang kebudayaan NTT, dari ujung pulau Flores hingga ujung Pulau Timor dan Sumba. Ketika orang (wisatawan) memasuki anjungan NTT maka mereka akan melihat keutuhan dan kesempurnaan kebudayaan NTT dari rumah-rumah adat tersebut.

Namun, semua itu tak jadi soal. Pasalnya anjungan NTT di TMII hanya sebagi ikon kecil garda depan kebudayaan NTT untuk memperkenalkan sebuah eksistensi bahwa orang NTT sebagai bagian utuh dari kebudayaan Indonesia dalam bingkai NKRI. Hal terpenting yang harus dan perlu dilakukan sekarang baik oleh masyarakat adat atau para pemangku adat dan pemerintah NTT sekarang adalah bagaimana melestarikan dengan merekonstruksi rumah-rumah adat di seluruh kabupaten yang sudah ada maupun yang sudah mati atau hilang sebagai bagian integral dari misi membangun kebudayaan NTT yang utuh dan asli, bukan modifikasi. Jika ditelusuri dan diteliti secara mendalam, saat ini di NTT bukan hanya rumah-rumah adat yang tertancap di TMII saja, tetapi ada begitu banyak rumah adat yang dimiliki masyarakat adat di NTT. Sayangnya, seiring banjir kebudyaaan asing yang menerpa Indonesia dan NTT khususnya, begitu banyak masyarakat adat baik dalam suku yang besar dan suku yang kecil tidak lagi mempertahankan rumah adat mereka. Mirisnya, generasi saat ini malah sudah tidak ingat atau tidak tahu apa nama suku dan rumah adat suku mereka yang menjadi sumber asal-usul dan berbagai ritus adat yang dahulu kala dilakukan leluhurnya.

Selain membangun kembali seluruh rumah adat di seluruh kabupaten (semacam taman miniatur NTT), pemerintah dan para pemangku adat juga perlu memikirkan membangun sebuah kawasan pusat kebudayaan NTT yang di dalamnya terbangun seluruh rumah adat orang NTT dari Flores, Alor, Rote, Sabu, Timor dan Sumba. Kawasan pusat kebudayaan orang NTT ini bisa dibangun di ibu kota provinsi NTT, sehingga ketika semua orang dari luar NTT baik para wisatawan asing maupun domestik atau tamu-tamu lainnya tanpa perlu pergi ke kabupaten-kabupaten jika mereka ingin mereka ingin mengetahui tentang sejarah budaya dan ritus-ritus adat yang dimiliki oleh orang NTT. Selain mempekenalkan rumah-rumah adat yang lengkap dengan ciri khas dan simbol-simbol adatnya, juga menjadi tempat atraksi-atraksi adat istiadat dari seluruh kabupaten di NTT yang sangat uni.Taman Miniatur NTT ini, selanjutnya menjadi tempat bagi generasi muda NTT dari generasi ke generasi, secara khusus bagi seluruh siswa-siswi dari Paud, TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi belajar tentang sejarah dan budaya NTT secara lengkap dan terintegrasi dalam sebuah kawasan pusat kebudayaan NTT.

Mengapa rumah-rumah adat baik dalam suku besar dan kecil perlu dibangun kembali? Selain membangun Taman Miniatur NTT sebagai pusat kebudayaan NTT, seluruh rumah adat NTT perlu dibenahi dan diperbaiki menjadi lebih baik, dan terutama membangun kembali yang telah tiada atau ditinggalkan masyarakat adanya sendiri. Mengapa ini penting? Karena dalam sebuah sistem kebudayaan jika tidak terbangun dengan fondasi yang kuat melalui rumah adat sebagai sumber atau basis kebudayaan, maka sudah pasti tidak kuat alias runtuh diterpa kemajuan budaya modern yang kini makin menjadi merasuk dan merusak benteng kebudayaan daerah. Untuk itu, program pembangunan pariwisata NTT perlu didukung penuh. Salah satunya dengan membangun kembali dan atau merawat serta melestarikan rumah-rumah adat di seluruh NTT.

Masyarakat kebudayaan adalah masyarakat yang bertumbuh, berkembang atau bernaung dan bersumber dari rumah-rumah adat sebagai mata air adat istiadat. Dari dalam rumah adat mengalir tentang sejarah hidup, sejarah budaya, sejarah sistem pertanian, perkebunan, tatanan nilai dan norma, nyanyian syair adat, musik tari-tarian, pakaian adat, dan lain-lain. Rumah adat bukan sekedar sebuah konstruksi belaka, tetapi menjadi sumber kehidupan, sumber sebuah peradaban manusia dari waktu ke waktu. Rumah adat tidak boleh juga dilihat sebagai tempat hiburan, tetapi rumah yang sakral dan magis karena menjadi tempat tinggal para leluhur yang telah hidup jauh di masa lampau. Mereka yang mewarisi adat istiadat, maka masyarakat dari generasi ke generasi bisa hidup baik dan selanjutnya harus terus mewarisinya tanpa menghilangkan keasliannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi