Jum. Des 4th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pesta, Budaya Orang Flores Yang Membumi

6 min read

Ilustrasi sebuah pesta warga NTT di Jakarta (*)

Pesta bagi warga (orang) Flores sudah mendarah daging. Sejak dahulu kala pesta telah menjadi bagian integral dalam proses kehidupan masyarakat Flores. Budaya pesta yang diwariskan sejak dulu masih bertahan hingga saat ini. Meski jaman sudah berubah dari klasik ke modern, pesta masih menjadi sebuah tradisi (kebiasaan) yang terus mengalir mewarisi generasi ke generasi. Hampir setiap momentum dirayakan dengan pesta. Dengan berbagai corak dan warna khas sebuah pesta dilakukan dan dirayakan.

Ada ragam dan jenis pesta yang biasa dilakukan orang Flores. Ada pesta adat, seperti syukuran atas hasil panen, pesta perkawinan, Sambut Baru (Komuni Suci) dan penerimaan tamu penting dan syukuran pentabisan imam baru (pastor) dan lain-lain.

Pesta adat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sesuai dengan aturan dan kesepakatan para tua adat di dalam suku tertentu. Dalam pesta adat, apapun nama dan jenisnya, biasa dirayakan secara khusuk dan meriah dengan berbagai persembahan adat di rumah adat, seperti babi, kuda, kerbau, kambing, kambing, ayam, dan beras dan berbagai macam makanan lainnya. Peserta pesta adat yaitu para tua adat dan seluruh warga kampung, dari anak-anak, remaja hingga para orang tua. Mereka hadir dan terlibat aktif dalam pesta dengan mengenakan busana adat, dari kain sarung, baju hingga ikat kepala dan acecoris gelang tangan kalung dan lain-lain. Pada umumnya, dalam pesta adat selalu dimeriahkan dengan doa adat dalam bentuk syair-syair adat yang dilantukan kepada leluhur. Selain itu, pesta adat biasanya ditandai dengan perjamuan adat, nyanyian dan tarian dengan iringan musik khas seperti musik suling, gendang dan gong. Semua peserta pesta terlibat aktif dalam seluruh rangkain pesta dari awal hingga pesta berakhir. Ada pesta yang berlangsung sehari, ada yang seminggu dan ada yang dilaksanakan dengan rangkaian prosesi yang panjang hingg berbulan-bulan. Prosesi ritus-ritus adat sangat kental dalam pesta adat ini.

Selain itu, pesta kedua adalah pesta syukuran atas hasil panen. Pesta ini dilakukan sebagai tanda syukur kepada sang pencipta, alam dan para leluhur yang telah memberikan hasil panen yang berlimpah bagi warga kampung. Dalam pesta ini warga membawa persembahan ke rumah adat bagi para leluhur dengan doa dan hewan kurban sebagai simbol memberi makan pada Tuhan dan para leluhur. Persembahan itu berupa padi, jagung, dan umbi-umbian dan daging babi, tuak, kerbau, ayam dan lain-lain sesuai aturan adat suku masing-masing. Orang Flores yang terdiri dari ratusan suku besar dan suku-suku kecil sangat percaya dan yakin seluruh sumber kehidupan mereka, termasuk hasil panen adalah pemberian dari Tuhan, Alam dan Leluhur mereka. Oleh karena itu, mereka melaksanakan pesta syukuran panen ini dengan doa, nyanyian dan tarian panen. Alat musik tradisional juga digunaan sebagai bagian integral dari prosesi adat yang lengkapi dengan busana adat. Seiring waktu berjalan, memang pesta-pesta syukuran panen ini saat ini mulai jarang terlihat. Namun demikian, beberapa suku masih mempertahankan tradisi ini dari masa ke masa.

Selanjutnya, ada pesta perkawinan (pernikahan). Pesta ini menjadi pesta kedua terbesar setelah pesta adat. Pesta perkawinan antara seorang gadis dan seorang laki-laki dari dua keluarga yang berbeda sering dirayakan secara meriah. Namun, meriahnya pesta ini tergantung kekuatan ekonomi dari dua keluarga besar yang terlibat dalam pesta perkawinan. Tahapan atau rangkaian pesta ini dimulai dari prosesi adat mempelai perempuan dan laki-laki, prosesi pernikahan di gereja, dan puncaknya pada malam resepsi yang dihadiri dua keluarga besar, para tamu undangan dan semua warga kampung. Pesta nikah ini kadang dilakukan di rumah keluarga laki-laki atau juga di rumah mempelai perempuan sesuai kesepakatan antara kedua keluarga besar. Soal kebutuhan pangan dan anggaran (biaya) juga disekati bersama kedua keluarga. Ada beras, ada babi, sapi,tuak, kerbau, kambing, ayam menjadi pangan yang dikorbankan untuk melaksanakan pesta ini Sejak dahulu kala, dalam pesta perkawinan ini kedua mempelai dan orang tua saksi atau wali bersama semua keluarga mengenakan busana adat khas daerah masing-masing. ada dua jenis alat musik yang biasa digunakan untuk meriahkan pesta yang biasa dilangsungkan semalam suntup (dari mata hari terbenam hingga matahari terbit) bahkan gilanya bisa beberapa hari tergantung kemampuan tuan pesta. Ada alat musik tradisional yang mainkan para pemain musik seperti musik suling, musing gong gendang, musik kampung lainnya. Memasuki jaman modern, ada pergeseran dimana musik tradisional yang biasanya dimainkan manual oleh anak muda dan orang tua kini sudah direkam dan diputar lewat sound sistem. Selain musik tradisional kolaborasi, saat ini musik-musik modern seperti disco dangdut telah membumi menguasai tenda-tenda pesta nikah di Flores. Pesta nikah ini nyaris tidak pernah sepi. Ratusan bahkan ribuan orang hadir dalam pesta ini. Selain untuk memberikan doa restu pada kedua mempelai yang menikah,pesta ini juga ramai sekali karena menjadi ajang hiburan warga dan ajang bagi kaum muda mencari jodoh.

Pesta besar dan ramai lainnya yang ddilaksanakan secara masal di Flores adalah pesta Sambut Baru (Komuni Pertama). Pesta ini sejak lama telah dilaksanakan oleh seluruh umat Gereja Katolik di Flores. Ketika anak mereka menerima tubuh dan darah Kristus (komuni suci pertama) di gereja. Pesta ini sudah menjadi sebuah tradisi lama yang masih bertahan hingga saat ini. Setelah menerima komuni di gereja, selanjutnya ditandai dengan pesta Sambut Baru di rumah yang dihadiri oleh kedua keluarga besar dari orang tuanya dan seluruh warga yang diundang dalam pesta tersebut. Pesta ini dilaksanakan setahun sekali sesuai dengan jadwal anak sambut baru yang diselengarakan gereja Katolik. Meski Pesta Sambut Baru telah menjadi sebuah tradisi umat Katolik di Flores, tidak semua orang tua atau keluarga Katolik menyelenggarakannya secara meriah. Ada yang membuat pesta besar tapi ada yang membuat syukuran biasa saja, dan adapula yang tidak membuat pesta. Semua tergantung kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Meski sering diperingatkan pihak gereja dan pemerintah agar pesta sambut baru tidak dirayakan dengan pesta pora meriah, tidak semua orang tua mengamininya. Hingga saat ini masih begitu banyak keluarga merayakan Sambut Baru dengan pesta besar yang meriah. Dalam pesta ini alat musik yang digunakan untuk memeriahkan pesta lebih banyak musik modern dengan sound sistem dari pada dengan musik tradisional. Muda-mudi lebih banyak terlibat dalam pesta ini dari malam hingga pagi hari.

Selain pesta adat, psta hasil panen, pesta nikah dan pesta sambut baru, di Flores yang kental dengan tradisi Katoliknya ada pula pesta pentahbisan imam baru. Seorang calon imam (pastor) yang telah puluhan tahun mengikuti pendidikan imam dari seminari rendah, menengah hingga seminari tinggi yang telah mengikuti seluruh proses pendidikan imam kemudian ditahbiskan menjadi imam oleh pimpinan gereja (uskup). Bagi pihak keluarga dari imam yang telah ditahbiskan, momentum ini menjadi puncak kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan iman mereka yang patut untuk dirayakan secara meriah sebagai tanda syukur kepada Tuhan yang telah mengutus putra mereka menjadi pastor untuk melayani umat Katolik. Momentum ini dibuat pesta besar juga sebagai tanda syukur pada para leluhur dan alam yang telah memberi restu kepada putra terbaik mereka. Panitia pesta imam baru dibentuk oleh pihak paroki bersama pihak keluarga untuk penyelenggaraan pesta yang diawali dengan perayaan ekaristi.
Usai perayaan ekaristi dan sambutan-sambutan, puncak kebahagiaan dirayakan dengan beragam musik dan tarian tradional dan modern. Pesta besar yang meriah ini diikuti hampir seluruh warga paroki dan juga paroki sekitarnya. Mereka beramai-ramai terlibat dalam pesta ini dari awal hingga akhir, termasuk bersuka cita dengan bergoyang menari riang dari malam hingga pagi hari. Kebutuhan pangan dan biaya pesta biasaya dipersiapkan oleh panitia pesta dan pihak keluarga orang tua imam yang ditahbiskan.

Itulah beberapa jenis pesta besar yang masih bertahan hingga saat ini. Pesta telah menjadi budaya yang terus dilestarikan generasi orang Flores. Pesta-pesta tersebut bukan hanya dilaksanakan di kampung halaman saja, tetapi terus bertumbuh-kembang di luar Flore-NTT oleh generasi Flores yang hidup di tanah rantau, seperti di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan Kepualaun Riau. Dimana ada orang Flores berkumpul, di situ tradisi dan budaya pesta pasti berkembang dan dipertahankan. Mulai dari orang Flores Manggarai, Ngada, Ende, Sikka hingga Lembata yang hidup di tanah rantau seperti Jakarta masih tetap mewarisi budaya pesta sebagai ciri khas budaya atau identitas budaya orang Flores.

Mengapa orang Flores menjadi salah satu kelompok besar warga yang melekat dengan pesta-pesta? Ada beberapa fakta yang telah dianggap sebagai pegangan atau pedoman hidup yang sudah terjadi sejak dahulu, yaitu pesta adalah ucapan atau tanda syukur kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemberi hidup dan rejeki. Kedua, pesta adalah ucapan syukur kepada alam atau bumi tempat hidup. Ketiga Pesta sebagai tanda syukur kepada nenek moyang atau leluhur yang telah lebih dahulu membuka jalan kehidupan di dunia. Dan keempat, pesta sebagai momentum memberi makan banyak orang ibarat Yesus yang memberi makan lima ribu orang. Memberi makan dan minum dalam kepercayaan adalah simbol pengorbanan dan persaudaraan tertinggi agar anak dan cucu dilapangan jalan dan banyak memperoleh rejeki dan kehidupan baik dikemudian hari. Budaya pesta memang sangat sulit dihapus atau dilarang bahkan ditinggalkan. Meski acapkali pihak pemerintah dan gereja melarang jenis-jenis pesta tertentu yang dinilai pemborosan uang dan jauh dari semangat religus dan edukasi, tetapi masih begitu banyak warga Flores di berbagai kampung bahkan kota-kota tetap menyelenggarakan pesta sebagai bagian integral dari kehidupan orang Flores.
(Penulis: Kornelis Moa Nita, SFil/ NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi