Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

FORKAPPSI Gelar Rakernas di Labuan Bajo, Wagub Nae Soi Perkenalkan NTT dan Promosikan Pariwisata

4 min read

Para peserta Rakernas Forkappsi sedang berpose di Bandara Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat. (*)

LABUAN BAJO, NTTBANGKIT.COM,-Forum Komunikasi Pemerintah Penghubung Seluruh Indonesia (FORKAPPSI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rakernas ini oleh seluruh peserta dari Kantor Badan Penghubung se-Indonesia.Rakernas ini berlangsung sejak 28-30 Agustus 2020 dan dibuka oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM dan dihadiri pula oleh Kepala Pusat Kerjasama Kemendagri, Nelson Simanjuntak dan Ketua Umum Forkapsi, Drs. Viktorius Manek, M.Si serta seluruh Kepala Badan Penghubung se Indonesia.

Digelarnya Rakernas Forkapsi di Labuan Bajo ini menjadi momentum emas bagi Pemerintah Provinsi NTT karena baru pertama kali Forkapsi yang baru terbentuk menggelar Rakernas di Labuan Bajo. Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi memberikan apresiasi dan ucapan kegembiraan atas pelaksanaan Rakernas tersebut. Ia merasa bangga karena NTT diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah pelaksanaan Rakernas Forkappsi. Moment emas tersebut, menjadi ajang memperkenalkan atau mempromosikan potensi-potensi NTT secara khusus di bidang pariwisata.

“Saya ajak kita semua bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih dan anugerah-Nya yang memperkenankan kita semua ada di sini, di Labuan Bajo Manggarai Barat untuk acara Rapat Kerja Nasional Badan Penghubung se Indonesia Tahun 2020. Atas nama Pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur saya ucapkan selamat datang di Labuan Bajo,” ucap Nae Soi semangat.

Dalam sambutannya, Wagub Nae Soi memperkenalkan kondisi NTT kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai provinsi. Ia menegaskan bahwa Labuan Bajo adalah gerbang barat NTT yang menjadi salah satu destinasi pariwisata super premium di Indonesia. Dijelskan Nae Soi, Provinsi NTT terkenal dengan kering dan panas. NTT juga dijuluki dengan “Nasib Tidak Tentu.” “Nanti Tuhan Tolong.” Manusianya hitam kulitnya, keriting rambutnya dan kasar-kasar kelihatannya. Di benak orang luar dipenuhi dengan ragam persepsi masing-masing tentang NTT.

Oleh karena itu, lanjut Nae Soi, agar ada kesamaan pemahaman peserta tentang NTT, sebagai Wakil Gubernur NTT ia menyampaikan secara terbuka berbagai informasi tentang NTT. Hal itu, agar sekembalinya dari Labuan Bajo para peserta dapat memiliki informasi yang benar tentang NTT.

“Berceritalah tentang NTT dengan informasi dari sumber yang terpercaya. NTT provinsi kepulauan dengan gugusan 1.192 pulau. Terdiri dari 22 kabupaten/kota, 309 kecamatan, 327 Kelurahan dan 3.026 Desa. Musim kemarau 8 bulan dan musim hujan 4 bulan.

Fakta NTT saat ini, beber Nae Soi, kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, stunting dan perdagangan manusia masih melanda masyarakat NTT. Dari penduduk NTT berjumlah 5,4 juta, data penduduk miskin NTT tahun 2018 berjumlah 1,1 juta jiwa atau sekitar 21,38 persen mencakup satu per lima penduduk NTT. Atau di antara lima penduduk NTT, terdapat satu orang miskin. Padahal angka rata-rata kemiskinan nasional telah menurun menjadi satu digit, yakni 9,82 persen. Kualitas manusia NTT melalui indeks pembangunan manusia (IPM), 63,73 dan sebagai provinsi ranking ketiga dari belakang yang masih terpaut jauh dari rata-rata IPM nasional, yaitu 70,81.

“Kami mengeluh karena musim panas yang panjang, padahal matahari menjadi sumber energi dunia. Kami mengeluh sebagai daerah kepulauan yang sulit dikelola, padahal dalam perspektif pariwisata, NTT adalah the ring of beauty, ibarat gadis cantik yang menawan hati dengan keindahan alam dan pesona budaya yang tiada tandingannya. Kami mengeluh sedikit curah hujan, padahal padahal negara lain bertani di gurun pasir dan menjadi pengekspor hasil pertanian berkelas dunia. Kami mengeluh, di atas cadas dan tanah kering hanya bisa tumbuh marungga, dan ternyata marungga adalah pohon ajaib, “emas hijau.” Kami mengeluh luas laut empat kali daratan NTT walau sesungguhnya adalah “emas biru” untuk NTT,” ungkap Nae Soi.

Di atas semua keluhan dan potensi yang ada, kata mantan Anggota DPR-RI Fraksi Partai Golkar ini, pembangunan NTT lima tahun ini difokuskan pada lima misi, yaitu pembangunan pariwisata, kesejahteraan rakyat, pembangunan sumberdaya manusia, infrastruktur dan reformasi birokrasi. Sektor pariwisata diandalkan sebagai penggerak ekonomi NTT ke depan, mengingat Indonesia telah masuk kelompok 20 negara papan atas yang mengalami pertumbuhan pesat di bidang pariwisata.

“Sektor pariwisata dipilih karena sangat prospektif dengan potensi pariwisata NTT yang berkelas dunia, antara lain: Komodo, Sumba sebagai pulau terindah di dunia, Danau Kelimutu tiga warna, keindahan bawah laut di Alor, tantangan gelombang di Pantai Nembrala Rote-Ndao, Pasola budaya, berburu ikan paus di Lembata, dan berbagai atraksi budaya lainnya yang indah dan eksotik,”papar Nae Soi.

Karena itu, terang Nae soi, sebagai pemimpin daerah, pihaknya mengupayakan secara serius 5A, yaitu atraksi, aksesibilitas, akomodasi, amenitas, dan awareness dengan dukungan peningkatan kapasitas serta profesionalitas sumberdaya manusia di bidang pariwisata. Pengembangan pariwisata estate pada destinasi-destinasi baru akan terus diupayakan dengan menggandeng semua sektor untuk meningkatkan rantai nilai ekonomi. Dengan ditetapkannya Labuan Bajo oleh Pemerintah Pusat sebagai 10 destinasi wisata nasional (emerging tourist destination) diikuti dengan dibukanya rute penerbangan langsung Jakarta-Labuan Bajo telah meningkatkan arus wisatawan ke NTT.

Ia menegaskan bahwa dirinya dan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat sedang memfokuskan pada percepatan penanggulangan kemiskinan dengan pembangunan sektor pertanian, peternakan dan perikanan dengan penekanan kuat pada kedaulatan pangan. “Kami juga fokus membuka isolasi fisik kedaerahan dengan membangun infrastruktur jalan yang ditargetkan selesai dalam 3 tahun.

Dikataknnya pula, sehubungan dengan tekad pemerintah dan masyarakat NTT untuk bangkit melalui pariwisata sebagai prime mover, saya menyambut dengan gembira kehadiran wakil dari semua provinsi di Indonesia. Untuk itu, NTT butuh dukungan dan kerjasama semua komponen bangsa ini termasuk masyarakat dari semua provinsi di Indonesia yang badan penghubungnya.

“Saya harap rakernas ini tidak usah lama-lama. Panitia kalau bisa rapat malam ini langsung selesai. Esok pagi, gunakan waktu semaksimal mungkin untuk menjelajahi destinasi super premium Labuan Bajo. Sekalipun penjelahan kali ini tidak mencapai semua destinasi. Setidaknya kehadiran di sini menjadi gerbang untuk menjelajahi eksotisme NTT,” kata Nae Soi.(kornelismoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi