Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Membangun Kota Dengan Gagasan Pasca Pandemi Covid – 19

8 min read

Don Ara Kian, MT, IAI, Arsitek & Urban Designer, Deputi Ketua V Ikatan Arsitek Indonesia Staf Pengajar Pada Prodi Arsitektur Unwira Kupang

Penulis: Don Ara Kian. MT,IAI (Arsitek & Urban Designer,
Deputi Ketua V Ikatan Arsitek Indonesia Staf Pengajar Pada Prodi Arsitektur Unwira Kupang

  1. Pendahuluan

Kejadian luar biasa (force mayor) yang dipicu oleh pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 ini telah menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan sosial masyarakat pada semua level termasuk pengelolaan kota. Dan dampak dari kejadian ini akan memberikan warnah baru kehidupan ruang kota di masa mendatang. Pandemi yang di hadapi hari ini akan terus menjadi
bahan referensi bagi perencanaan dan perancangan kota masa depan agar menjadi lebih layak huni dan BERKETAHANAN serta BERKELANJUTAN/SUSTAINAMBLE.

Sejarah mencatat wabah penyakit ikut membentuk perkembangan ruang/spasial kota. Pemerintah Kota London memperbaiki jaringan drainase kota pada pertengahan abad ke-19 untuk menanggulangi wabah kolera. Wabah kolera juga pernah menyerang Kota Jakarta (Batavia saat itu) di awal abad ke-19. Hal ini mendorong pemindahan pusat kota lebih ke selatan ke daerah Weltevreden (Lapangan Banteng). Di Kota Kupang, peristiwa kekerasan pada 1998, setidaknya tidak hanya mengubah lansekap kota yang terpolarisasai berdasar suku dan ras,
tetapi juga perilaku warganya.

Gambaran singkat di atas menunjukan bahwa ruang kota pasca pandemy covid 19 sebagai wabah, akan mengalami perubahan paradigma dalam pengelolaan terutama dalam rancang ruang kotanya. Berbagai prediksi aktivitas dominan yang menjadi menjadi aktivitas new normal telah di lakukan di antaranya ; Lebih banyak interaksi contactless, Memperkuat
infrastruktur digital, Pemantauan dilakukan dengan IoT atau Big Data, Pengembangan obat yang diaktifkan AI (Artificial intelegence), Telemedicine, Lebih banyak belanja online, Lebih banyak belanja online, Pengembangan Esports.

Dan menurut prediksi saya keseluruhan aktivitas di atas akan didominasi oleh kelompok masyarakat yang sudah terbiasa dengan teknologi IT, terkhusus pada segmen anak-anak muda yang progresif serta melek dengan teknologi. Karena itu bisa jadi masa depan kota dunia adalah masa depanya kelompok umur ini, sehingga alokasi ruang kota dalam rencana dan rancangan ruang kota memang harus lebih banyak mengakomodasi aktivitas warga kota yang dinamis utamanya anak muda.

2. Belajar Dari Pengalaman

Pada 187 negara yang terdampak covid 19, hingga saat ini sudah mencapai angka tiga juta lebih orang terpapar, isu penanganan pandemi menukik pada persoalan teritorial dan tarik ulur peran pemerintah pusat/daerah dengan pemerintah lokal kota/kecamatan mulai terbuka. Di Indonesia kita bisa saksikan dengan penerapan kembali PSBB di Ibukota Jakarta yang dapat berdampak langsung pada wilayah aglomerasinya yakni Jabodetabek telah banyak menuai pro dan kontra atas kebijkan ini. Karena di samping aspek politis antar-pemimpin, kita melihat usaha mengendalikan pandemi ini sangat erat kaitannya dengan sebaran pandemi secara ruang/spasial.
Sebagian besar birokrasi kota fokus pada manajemen red zone, dan melaksanakan contact tracing yang harus mewakili luas kotanya. Semua initiatif-inisiatif kedaruratan ini harus dilakukan di tengah keterpurukan ekonomi.

Dalam disiplin ilmu perkotaan, pandemi adalah kejadian luar biasa yang “anti-tesis kota”. Semua ukuran-ukuran dalam mengatasi pandemi seperti social distancing maupun contact tracing, menyebabkan pemakaian ruang yang lebih boros. Demikian halnya dengan rasio penduduk per ruang aktifitas yang luas, penutupan fasilitas sosial dan publik seperti taman dan lapangan olahraga, penyelenggaraan utilitas, dan trasportasi publik dengan low capacity. Padahal, ciri kota adalah densitas, atau kepadatan penduduk ideal per hektar, yang memungkinkan masyarakat berinterkasi sehingga kota dapat bertumbuh dan berfungsi sebagai kutub pertumbuhan dan pusat kekuasaan de facto.

Di sisi lain, kota juga adalah kontributor utama dalam pandemi, karena sifat terbukanya kota sebagai melting pot/meleburnya berbagai suku dan kompleksitas kota secara langsung berpengaruh pada peningkatan penyebaran melaui kontak warga. Dengan 60 persen atau 156 juta penduduk Indonesia tinggal di perkotaan, jelas teknis menghentikan penyebaran melalui lockdown serta merta menjadi beban kota itu
sendiri. Kota dan desa pada masa depan dengan dunia yang semakin menjadi perkotaan akibat urbanisasi, kita melihat sendiri pandemi ini otomatis memengaruhi hubungan kota-desa. Terutama dalam hal manajemen red zone.

Khusus kawasan pedesaan, selain dianggap sebagai “korban” penerima penyakit dari kota, juga tiba-tiba diharapkan bisa mandiri memberikan layanan kesehatan dan manajemen penanganan pandemi sejajar seperti kota-kota di bagian dunia mana pun. Peran yang diharapkan ini merupakan tekanan besar bagi pemerintah kota kecil dan aparat pedesaan. Amerika Serikat (AS) sebagai negara besar, telah memberi contoh buruk dalam hal penanganan covid 19, padahal negara ini dianggap memiliki kota-kota yang baik. Kegagapan koordinasi pusat dan daerah, menyebabkan korban sepertiga kasus dunia, dan kematian akibat pandemi di kota-kota Paman Sam ini mencapai 270.000 jiwa atau seperempat
kematian di dunia.

Para wali kota dan gubernur di seluruh negara bagian AS, terperangkap dalam buruknya tarik ulur pemerintah federal dan daerah. Lain lagi dengan kota Hangzhou di China, yang secara integratif melaksanakan pengawasan proaktif, social distancing, protokol isolasi dan perlindungan warga. Ini dilakukan segera seketika mempelajari apa yang terjadi di
Wuhan. Kasus Indonesia dalam skala provinsi seperti Jawa Barat (Jabar), dengan 27 kota dan kabupaten, berpenduduk lebih dari 40 juta jiwa, sebanding dengan Spanyol, Argentina, dan Korea Selatan. Sama seperti negara-negara tersebut, penanganan pandemi yang dipimpin

Ridwan Kamil harus bisa berjibaku menerapkan PSBB se-provinsi yang berarti pengaturan aktivitas warga di ruang-ruang kota dan desa.

3. Membangun Kota Dengan Gagasan

Berikut ini beberapa gagasan membangun masa depan kota pasca pandemy covid 19 :

a. Penguatan hubungan Kota dan Hinteland

Membangun kota kota ke depan salah satunya dengan meningkatkan integrasi hubungan kota-daerah belakang/hinterland, terutama dari aspek pilar-pilar ketahanan terhadap pandemi. Perencanaan harus fokus pada menjadikan hubungan kota dan hinterland maupun wilayah pedesaan pada umumnya, untuk menjaga rantai pasok, penyediaan energi, dan
ketersediaan pangan. Perencanaan menghadapi pandemi, juga harus didukung oleh data dan latar statistik yang kuat.

Perencanaan kota berketahanan harus memiliki model mitigasi pandemi yang mumpuni. Ada banyak model penanganan pandemi, namun harus disuperimpose tematik-tematik kota, misalnya sebaran kepadatan (density ratios) dan sebaran kualitas hunian. Data tersebut digabung dengat profil tingkat mortalitas karena penyakit bawaan atau kerentanan kelompok umur, profil psikografik penduduk, termasuk peta red zone dari epidemi-epidemi sebelumnya. Sudah saatnya pemerintah pusat, gubernur,
wali kota, bupati bekerja dengan para perencana kota dan arsitek, untuk segera mencari rumusan sistem kota dan pedesaan Indonesia dengan memasukkan unsur sebagai prasyarat
kota yang layak huni dan berketahanan.

b. Kota Yang Memadat/Densification vs Kota Memisah /Disaggregation

Dengan pandemy covid 19 ini pengembangan kota di hadapkan pada dua pilihan pengembangan kota yang memadat (densification) atau memisah (disaggregation). Pada praktek perencanaan dan perancangan kota beberapa tahun belakangan ini para arsitek dan perancangan kota cenderung mendorong kota berkembang memadat melalui optimalisasi
lahan. Pilihan ini sekaligus untuk mewujudkan ide ”kota hijau” yang berkelanjutan. Pilihan konsep kota memadat ini karena akan menghasilkan efisiensi energi yang lebih baik (terutama energi untuk mobilitas manusia dan barang) dibanding dikembangkan memisah, Pandemi Covid-19 memberi pelajaran pentingnya menjaga jarak (distancing).

Hal tersebut akan tercapai jika kota dirancang memisah. Pengembangan kota memisah membuat penyekatan wilayah menjadi lebih mudah dilakukan dalam rangka membatasi persebaran wabah. Satu hal yang mesti disepakati bahwa pengembangan kota masa depan harus mempertimbangkan kemungkinan menyebarnya lagi wabah penyakit yang menurut WHO akan lebih sering terjadi. Pengelola kota perlu menyiapkan konsep pembangunan pascapandemi dengan memberi perhatian pada ketahanan kota terhadap serangan wabah penyakit pada masa depan, menyiapkan kondisi hidup berdampingan dengan wabah
penyakit.

Jika selama ini kota selalu mengejar pertumbuhan ekonomi dengan prioritas pada pembangunan infrastruktur ekonomi seperti pasar, transportasi, dan sarana penunjang pariwisata, pada masa depan kota menggeser prioritas ke sektor kesehatan publik. Rumah warga di kampung kota dan lingkungannya mutlak harus dibenahi. Kualitas interior rumah,
termasuk di antaranya aspek penghawaan, pencahayaan, dan sanitasi perlu dibenahi. Kualitas lingkungan, misalnya drainase lingkungan, akses jalan untuk mobil ambulans dan pemadam kebakaran, serta penerangan lingkungan pada malam hari wajib dipenuhi.

c. Pengembangan Kampung / Kampung Improvement

Program pengembangan kampung bukanlah hal baru dalam upaya pengembangan kota, bahkan istilah kampung suda di gunakan juga oleh PBB dalam penanganan permasalahan perkotaan di negara berkembang seperti di Indonesia. Dalam konteks pengembangan kota pasca pandemy covid 19 di wilayah kota yang memang sulit dibenahi, tidak menutup
pilihan membangun ulang hunian (hunian vertikal maupun hunian tapak) dengan pola pengembangan kampung. Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah keterlibatan komunitas warga/kampung. Kualitas ruang dan fasilitas publik harus mendapat perhatian serius. Standar higienitas yang selama wabah Covid-19 telah diusahakan perlu
dipertahankan dan dijadikan standar minimal fitur desain.

Pada masa depan kota perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kelompok masyarakat yang rentan ketika menghadapi serangan wabah penyakit. Warga miskin kota merupakan salah satu kelompok
yang perlu mendapatkan perhatian. Kelompok ini menghadapi ancaman tidak hanya dari penyakit, melainkan juga dari berkurangnya pendapatan ekonomi. Suatu jaring pengaman sosial yang tangguh di level kota perlu didesain ulang agar masyarakat miskin mendapat jaminan perlindungan sosial ekonomi ketika wabah menyebar. Kelompok rentan lainnya adalah warga lanjut usia. Mereka perlu mendapat perhatian karena ketahanan tubuh mereka yang lebih lemah.

Pengelola kota perlu merancang pula sistem perlindungan khusus terhadap warga lanjut usia. Pelajaran penanganan wabah dari beberapa kota di dunia menunjukkan peran penting teknologi informasi dalam mengolah data untuk pengambilan kebijakan. Korea Selatan dan Jepang siap dengan dukungan terknologi yang memungkinkan penelusuran jejak (tracing) pasien Covid-19 selama 14 hari ke belakang. Dalam kondisi
normal, pengelolaan data yang akurat bisa memudahkan pengelolaan kota, sedangkan pada saat wabah menyerang, bisa menjadi senjata ampuh untuk menentukan langkah-langkah pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan pascawabah. Ide ini bisa diintegrasikan dengan konsep smart city. Kritiknya adalah tanpa kontrol yang memadai sistem itu dikhawatirkan akan mengawasi (surveillance) berlebihan terhadap setiap individu warga kota. Potensi ini dikhawatirkan menjadi alat bagi penguasa kota untuk menjalankan kebijakan otoritarianisme, dengan melakukan represi kepada warga yang berusaha menentang, karena seluruh informasi dan pergerakan mereka diawasi. Pengembangan sistem teknologi informasi perlu diawasi bersama.

Warga kota perlu dilibatkan dalam proses desain sistem tersebut. Langkah pelibatan warga adalah untuk memastikan kinerja sistem tersebut bertujuan meningkatkan pelayanan terhadap warga. Dengan partisipasi warga dalam proses desain sistem teknologi informasi tersebut, maka sistem itu akan secara efektif bekerja untuk memitigasi ketika kota mengalami serangan wabah penyakit, tanpa terlampau jauh membahayakan privasi warganya, sehingga sistem yang di rancang harus friendly.

d. Menghadirkan dan Menjalankan Sistem

Selain proses desain sebagai upaya menghadirkan sistem, yang tidak kelah penting untuk perhatian adalah pada saat sistem tersebut dijalankan. Pelajaran dari beberapa kota seperti Daegu di Korea Selatan di mana transparansi data aktual penanganan Covid-19 begitu pentingnya. Data aktual yang selalu diperbaharui dan bisa diakses publik membuat
masyarakat waspada dan mampu mengambil langkah mitigasi pribadi yang tepat dalam menghadapi persebaran wabah. Pelajaran dari respons warga kota di Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19 adalah menonjolnya peran komunitas warga yang secara mandiri mengorganisasi dan bersolidaritas melakukan langkah-langkah pencegahan maupun
penanganan dampak wabah.

Kita bisa menyebut penyekatan wilayah yang dilakukan kampung-kampung secara swadaya dan berbagai solidaritas untuk mengumpulkan bantuan dan menyalurkan kepada kelompok yang sangat membutuhkan. Kondisi ini juga terliat di sebagian besar wilayah di NTT termasuk Kota Kupang. Oleh karenanya pengembangan kota pasca pandemi tentu perlu memberi ruang kepada komunitas warga semacam ini. Komunitas warga merupakan aktor yang dalam keseharian bergerak berdampingan dengan masyarakat. Merekalah yang memahami situasi riil di lingkungan mereka. Peran mereka sangat vital dalam merancang kota yang berketahanan. Menjaga kualitas manusia penghuni kota dengan sendirinya akan menjaga keberlangsungan ekonomi kota. Kota masa depan harus mempunyai sistem ketahanan yang memadai agar penduduknya mampu menghadapi
wabah penyakit dan aspek kebencanaan lainya/ living harmony with disaster. (Editor: Kornelis Moa Nita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi