Jum. Des 4th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

NTT Masih Butuh Penambahan Jaringan Internet, Masih Ada 645 Titik Tanpa Sinyal

3 min read

Ilustrasi pemasangan jaringan/ internet di NTT (*)

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur Abraham Maulaka mengatakan masih ada 645 titik wilayah di provinsi berbasiskan kepulauan itu saat ini yang tidak terjangkau sinyal telekomunikasi atau merupakan area blank spot.

“Sampai dengan 2020 ini, masih ada 645 titik blank spot di NTT artinya tanpa ada sinyal telekomunikasi maupun internet,” katanya ketika dihubungi Antara di Kupang, Sabtu (10/10), terkait kondisi terkini infrastruktur telekomunikasi di NTT.

Ia mengatakan, pemerintah telah berupaya mengatasi persoalan ini dengan menghadirkan infrastruktur Palapa Ring.Namun demikian, lanjut dia, infrastruktur Palapa Ring saja tidak cukup karena perlu didukung dengan pembangunan tower atau Base Transceiver Station (BTS) yang mampu menjangkau hingga ke berbagai wilayah pelosok.

Abraham Maulaka menyebutkan, sampai dengan 2019, di NTT telah terbangun sebanyak 133 BTS yang menyebar di berbagai daerah serta pelayanan internet di 753 titik.

“Ini langkah strategis yang diupayakan pemerintah dan ke depan tentu akan terus ditambah hingga menjangkau titik-titik blank spot yang ada,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di NTT juga menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat termasuk jaringan internet yang saat ini sudah menjangkau semua wilayah kota dan sekitarnya di NTT.

Karena itu, Abraham mengaku pihaknya optimistis daerah-daerah di NTT yang sampai saat ini belum menikmati sinyal telekomunikasi, ke depan akan teratasi secara bertahap. Dia mengatakan, pemerintah menargetkan pada 2021 wilayah NTT semuanya sudah terlayani jaringan telekomunikasi dan juga internet.

Sebelumnya, beberapa bulan Oktober 2019 lalu, Wakil Gubernur NTT, Drs. Joseph A Nae Soi,MM, mengharapkan, agar pemerintah pusat lebih banyak membangun Base Transmission Station (BTS) di provinsi berbasis kepulauan itu.

“Dalam konferensi video dengan bapa presiden, pak Wagub mengharapkn agar lebih banyak membangun BTS di NTT, mengingat NTT terletak di daerah perbatasan dengan Timor Leste dan juga Australia,” kata Kepala Biro Humas Setda NTT, Marius Ardu Jelamu, Senin (14/10).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan materi konferensi video Presiden Jokowi dan Wakil Gubernur NTT Josef A Nae Soi dan Bupati Rote Ndao Pauluna Haning Bullu pada peresmian proyek Palapa Ring.

Wakil Gubernur NTT Nae Soi juga menyampaikan terimakasih kepada Presiden Jokowi yang telah memberikan perhatian yang besar kepada NTT.

“Rakyat NTT mencintai Bapak Presiden, dan Bapak Presiden juga mencintai rakyat NTT,” kata Marius Ardu Jelamu mengutip percakapan Presiden Jokowi-Wagub NTT.

Menurut Marius, dalam acara peresmian itu Presiden Jokowi juga melakukan konferensi video dengan Bupati Rote Ndao, Paulina Haning Bullu. Dalam konferensi video itu, Bupati Rote meminta perpanjangan landasan pacu bandara udara DC Saudael dari 1,6 ribu meter menjadi 2,2 ribu meter.

“Selain meminta agar dibangun banyak BTS karena akses internet di wilayah terselatan Indonesia itu masih lamban,” demikian Marianus Ardu Jelamu.

Presiden Joko Widodo, Senin meresmikan Palapa Ring. Proyek yang digaungkan sejak lama itu bukan sekadar menyalurkan internet cepat ke seluruh Indonesia, tapi lebih dari itu.

Selain menandatangani prasasti digital, Presiden Jokowi juga melakukan konferensi video dengan Bupati Merauke Danlantamal, Wakil Gubernur Papua Barat, Wakil Walikota Sorong, Wakil Gubernur NTT, Bupati Kabupaten Rote Ndao, Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Panajam Paser Utara serta Wakil Walikota dan Sekda Sabang.

Diketahui, Palapa Ring adalah suatu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer.

Belakangan, proyek ini dijuluki tol langit, sebagai perumpamaan yang dimaksudkan Rudiantara sebagai kehadiran sinyal yang membuat masyarakat Indonesia bisa lebih mudah berkomunikasi satu sama lain, baik di perkotaan maupun pelosok, berkat eksistensi infrastruktur telekomunikasi. (Antaranews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi