Sel. Nov 24th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gerakan Revolusi Pertanian NTT Tingkatkan Produktivitas Menuju Kesejahteraan Rakyat (2)

9 min read

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat melakukan panen jagung di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) beberapa waktu lalu (Dok: Pos Pukang)

NTTBANGKIT.COM,-Gubernur NTT dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat-Yosep A. Nae Soi terus bekerja keras membangun pertanian NTT demi mewujudkan ketahanan pangan dan kemakmuran rakyat NTT. Melalui program besar Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), kedua pemimpin di provinsi pertanian ini optimis rakyat NTT yang mayoritas petani dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan meningkatkan ekonominya dengan memaksimalkan seluruh lahan yang dimiliki, termasuk lahan tidur yang jumlahnya masih sangat banyak.

Gubernur Viktor dan Wakil Gubernur Nae Soi tidak hanya duduk dan memberikan perintah, tetapi langsung turun ke sawah-sawah petani, langsung turun ke kebun-kebun petani dan mendatangi warga tani memberikan arahan, dorongan dan ikut dalam aksi penanaman dan panen padi dan jagung yang menjadi andalan program Tanam Jagung Panen Sapi. Maksud dan tujuan dari program ini, jagung tidak hanya bermanfaat bagi kebutuhan pangan manusia, tetapi juga batang dan daun jagung menjadi pakan ternak sapi. Dia berharap, program ini menjadi modal besar untuk mengembalikan kejayaan NTT sebagai Gudang Ternak Sapi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan daging rakyat NTT maupun untuk ekspor ke daerah/ negara lain.

Sejak dua tahun lalu pasca dilantik, keduanya langsung turun menggerakan sektor pertanian dan peternakan menjadi sektor utama selain pariwisata dan infrastruktur. Dalam siaran pers yang diterima media dari Biro Humas Setda NTT, Sabtu (8/9/2018), menyebutkan, Gubernur NTT yang baru dilantik pada Rabu (5/9/2018) itu mulai melakukan kunjungan. Kunjungan itu salah satunya ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kegiatan utama Gubernur NTT dalam kunjungan perdana itu adalah melakukan penanaman jagung secara simbolis di Desa Nifuboke dan Desa Bijeli Kecamatan Noemuti. Gubernur Viktor ke TTU untuk melakukan penanaman jagung sebanyak 58 hektar.Setelah penanaman di Oemenu, Nifuboke, Gubernur Viktor melanjutkan ke Desa Bijeli untuk melakukan penanaman jagung yang sama. Di desa ini, jagung yang akan ditanam masyarakat di lahan seluas 10 hektar.

Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes tanpa menggunakan dana APBD.”Kehadiran saya hari ini merupakan bentuk apresiasi atas program yang luar biasa dari Bupati TTU. Ini inovasi yang luar biasa karena sebelumnya ini adalah lahan sawah tadah hujan dan irigasi. Namun karena kurang air maka diubah jadi lahan jagung penggunaan teknologi pertanian sistem tetes,” kata Viktor

Dia berharap program ini tidak hanya bersifat sementara tetapi harus berlangsung terus, karena itu dirinya berjanji akan datang lagi untuk mengecek lagi tanaman jagung itu. “Saya akan datang lagi untuk mengecek hasilnya. Kalau gerakan seperti ini menjadi gerakan pangan seluruh kabupaten/kota di NTT, maka Provinsi ini akan mencapai kedaulatan pangan. NTT bisa bangkit menuju sejahtera.Dan saya akan bekerja all out untuk memastikan hal ini, “katanya.

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes saat itu menyampaikan rasa bahagia dan terima kasih karena TTU menjadi daerah pertama yang dikunjungi Gubernur Viktor setelah dilantik oleh Presiden RI di Istana Negara Jakarta. Kunjungan ini, kata dia, merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar bagi masyarakat TTU. Ini juga memotivasi petani untuk memanfaatkan dan memaksimalkan semua lahan yang ada untuk meningkatkan produksi pertanian. Dia menjelaskan, ide untuk memperluas lahan pertanian dimotivasi oleh gelitikan Gubernur Viktor saat debat pasangan calon Gubernur saat kampanye sebagai calon gubernur. “Saat itu pak Gubernur mengatakan bukan lahan yang tidur, tetapi orangnya yang tidur. Setelah saya pulang, saya coba berinisiatif untuk melakukan pemanfatan dan perluasan lahan pertanian pada musim kering. Kegiatan ini tidak dibiayai APBD Kabupaten. Masyarakat hanya pinjam traktor dari dinas pertanian untuk balik tanah. Masyarakat hanya siapkan makan untuk operator,” jelasnya dilansir Pos Kupang.Com.

Menurut Fernandes, upaya perluasan lahan pertanian pada musim kering itu merupakan upaya pemanfaatan lahan sawah tadah hujan dengan menanam tanaman holtikultura seperti jagung dan pepaya. Untuk mengatasi kekurangan air, kata dia, digunakan teknologi pertanian sistem tetes. Lahan besar tersebut diolah oleh masing-masing warga dengan luas beraneka ragam bergantung kemampuan masing-masing. Dia juga mengatakan,upaya itu menjadi bagian nyata dalam mendukung Program Padat Karya Pangan (PKP) yang jadi Program unggulan Dinas Pertanian Kabupaten TTU ,selain program Desa Mandiri Cinta Petani (Sari Tani) periode 2016-2021.

Rekayasa Teknologi Air

Selain ke TTU, Gubernur Viktor juga melakukan panen jagung Hibrida Varietas Nasa 29 di Oesao Kabupaten Kupang. Seperti dikutip dari Pos Kupang.Com, Viktor meminta para petani di Kabupaten Kupang memanfaatkan lahan tidur meskipun musim kering. Soal ketersediaan air bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi. Hal ini disampaikan Gubernur melalui Kadis Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanes Tay Ruba, MM, Rabu (17/10/2018). “Saat menghadiri panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Bapak Gubernur meminta kepada para petani untuk memanfaatkan lahan tidur disaat musim kering ini. Soal ketersediaan air itu bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi,” kata Yohanes.

Selain memanfaatkan lahan kering, Gubernur NTT juga meminta kepada para petani untuk mengembangkan penangkaran benih jagung hibrida varietas Nasa 29 di Provinsi NTT. Jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao yang dipanen Gubernur NTT itu merupakan Demplot teknologi jagung hibrida varietas baru jenis Nasa. Jagung tersebut dikembangkan di lahan milik kelompok tani di Oesao seluas 5 hektare. Walaupun di lahan milik petani, namun tetap dalam pendampingan BPTP dan Dinas Pertanian NTT.

Jagung di Demplot ini merupakan benih bantuan Dinas Pertanian NTT. Demplot ini juga hasil penelitian nasional dari peneliti Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Potensi produksinya bisa mencapai 12 ton/hektar. Tapi khusus di Oesao baru-baru ini produksinya sekitar 7 ton/ hektar. “Panen kemarin (Jumat, 12/10/2018) juga dilakukan secara manual sekaligus kita perkenalkan alat panen jagung bernama Corn Combaine,” kata Yohanes.

Mengenai bantuan pemerintah untuk pengembangan jagung di NTT, Yohanes mengatakan, untuk tahun 2018 ini benih jagung bantuan pemerintah, antara lain jagung komposit sebanyak 550 ton untuk dikembangkan di lahan seluas 22.000 Ha, dan jagung hibrida 975 ton untuk dikembangkan di 65.000 Ha. “Benih yang dibantu pemerintah tahun 2018 ini untuk ditanam pada musim tanam 2018/2019 yang akan datang atau pada awal musim hujan mendatang,” katanya. Saat ini, tambahnya, sementara dalam proses panen benih jagung komposit di penangkar lokal di kabupaten seluas 400 Ha. “Hari ini (Rabu (17/10/2018) sedang dilakukan panen penangkaran benih jagung komposit di lahan Seminari Mataloko, Ngada seluas 5 Ha,” katanya. Penangkaran benih ini untuk memenuhi kebutuhan benih sebanyak 550 ton.

Dorong Rekayasa Pertanian

Dalam mempercepat peningkatan produksi pertanian, Gubernur VIktor juga mendorong adanya teknologi rekayasa pertanian di NTT. Dia mendorong rekayasa pertanian untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah Provinsi NTT dukungan pemanfaatan alat-alat pertanian dan pendampingan intensif. Hal tersebut disampaikan Laiskodat dalam kunjungannya ke Kabupaten Alor untuk melakukan penanam padi di Desa Tuleng, Kecamatan Lembur, seperti dilansir Pos Kupang.com, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Viktor mendorong agar proses penanaman padi dapat dilakukan tiga kali dalam setahun. Jika tidak dapat dilaksanakan tiga kali makan rekayasa dilakukan dengan menanam jantung usai memanen padi. “Karena kalau cuma sekali atau dua kali, maka kita harus bisa lakukan rekayasa. Setelah proses menanam padi maka berikutnya kita menanam jagung guna memenuhi kebutuhan pangan kita juga,” beber Viktor.

Dia meminta instansi teknis untuk mendukung proses pengolahan sawah masyarakat dengan alat-alat pertanian dan pendampingan yang intensif. Secara substansial, kata Viktor, pemerintah harus menyiapkan dana dan harus melayani rakyatnya untuk memastikan kecukupan pangan. Dia mendorong peningkatkan kualitas produksi petani dengan mencoba untuk melakukan penanaman jenis padi hibrida. Dengan kualitas hasil produksi lebih tinggi tentunya dapat meningkatkan ekonomi petani petani NTT.

Viktor menjelaskan, hal tersebut sesuai dengan instruksi Presiden kepada seluruh kepala daerah se Indonesia agar menyediakan dan menyiapkan lahan untuk kepentingan ketahanan pangan. “Bapak Presiden dalam arahannya telah menginstruksikan kepada seluruh Gubernur dan seluruh bupati agar dapat menyiapkan lahan untuk kepentingan pangan dengan memanfaatkan lahan yang telah tersedia maupun dengan membuka lahan baru,”ungkap Viktor.

Dalam kondisi pandemi COVID-19 saat ini, lanjut dia, ketersediaan pangan menjadi hal yang sangat penting. Ia berharap, masyarakat NTT dapat bertahan dengan mengoptimalkan lahan bila sewaktu waktu terjadi krisis pangan. “Kita ketahui bersama bahwa saat ini dunia mengalami Wabah Covid-19. Bilamana kondisi ini berlanjut maka akan berkorelasi dengan krisis pangan. Kalau terjadi kelaparan di dunia, maka diharapkan rakyat Nusa Tenggara Timur dapat bertahan hidup dengan mengoptimalkan lahannya,” tambah Viktor.

Bupati Alor, Amon Djobo dalam kesempatan itu, menegaskan, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Alor siap mendukung tekad pemerintah pemerintah Provinsi dalam bidang ketahanan pangan. “Kami siap bersama dengan masyarakat untuk memastikan ketersediaan pangan di daerah ini. Tentunya kami tetap fokus pada sektor pertanian karena kami bukanlah orang upahan di tanah ini melainkan kami pemilik sah dari daerah ini,” tegas Bupati Amon Djobo.

Atasi Kelangkaan Pupuk

Dalam mengatasi kelangkaan pupuk di NTT yang masih sering terjadi, Gubernur Laiskodat menargetkan dan bahkan menjamin tidak akan ada lagi kelangkaan pupuk bagi para petani di di NTT mulai tahun 2020. Dia mengaku telah berbicara dengan beberap parbrik pupuk. Ia mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pemerintah provinsi telah melakukan kerja sama dengan para produsen pupuk agar penyalurannya tidak terlambat lagi.

Pemerintah daerah, lanjutnya, melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga dapat mengambil peran sebagai penyalur pupuk bagi petani. Ia menegaskan, pihaknya sangat serius untuk membangun sektor pertanian di NTT. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan ia meminta masyarakat petani untuk memberdayakan semua lahan yang ada dengan berbagai tanaman pertanian yang bernilai ekonomis. “Petani harus bisa tanam apa saja untuk kebutuhan sendiri dan dijual, ada jagung, ubi, pisang, kacang-kacangan, semangka, kemiri, menteh, kelor dan termasuk juga ternak sapi,” katanya.

Lebih lanjut, Gubernur Viktor juga menekankan pentingnya peran BUMD dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar bisa berperan menampung hasil panen petani dengan harga beli yang layak. Menurut dia, pemerintah punya kewajiban membuat nilai tambah (value added) terhadap berbagai hasil olahan masyarakat dengan bahan baku dari hasil pertanian. “Bisa dibuat keripik, jus, sabun, pakan ternak dan masih banyak lainnya. Saya juga sudah minta para pengusaha dan pemilik toko untuk memasarkan hasil olahan ini sebagai bentuk motivasi untuk masyarakat kita,” tandasnya dilansir Antaranews.com, belam lama ini.

Mentan Dukung Tanam Jagung Tingkatkan Produktivitas

Gerakan membangun sektor pertanian oleh Gubernur Viktor dan Wakil Gubernur Nai Soi, mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian RI. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan perhatian khusus dengan berbagai bantuan alat-alat pertanian dan berbagai program lainnya bagi NTT demi mewujudkan ketahanan pangan. Menteri Syahrul langsung turun ke NTT mendukung program Tanam Jagung Panen Sapi (SJPS) yang digalakan Gubernur Viktor. Beberapa waktu lalu, ia turun ke Sumba Tengah melakukan penanaman jagung, sekaligus meresmikan Food Estate di Desa Umbul Pabal Kecamatan Umbu Rato Nggai Barat.

Mentan mengatakan kedatangannya di Sumba Tengah, selain untuk tanam jagung, ia juga ingin memastikan produksi jagung cukup sesuai kebutuhan bulanan. Menurutnya, harus ada peningkatan luas tanam dan produktivitas sebagai upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor dan meningkatkan volume ekspor. Saat ini, beberapa sentra penghasil jagung sudah mencapai target produktivitas sekitar 8-9 ton/ha, walaupun rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini masih sekitar 6,4 ton/ha. “Untuk itu, Kementan memberikan bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, serta mendorong para petani untuk menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR), pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster,” ungkap Syahrul

Menurut Mentan, peran penting komoditas jagung diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani.“Alhamdulillah, kinerja ekspor pertanian kita periode Agustus 2020 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni sebesar 8,6 persen atau naik menjadi Rp 36,5 Triliun, dibanding periode yang sama pada tahun 2019 yang hanya Rp 32,6 Triliun. Ini adalah hasil kerja keras kita semua,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mentan menjelaskan bahwa dengan pemasaran yang baik, di luar maupun di dalam negeri khususnya penyediaan bahan baku jagung untuk industri pengolahan, diharapkan akan memberikan nilai yang sangat besar bagi kesejahteraan petani. Ditegaskannya, hanya nilai ekspor, Nilai Tukar Petani (NTP) periode Agustus 2020 juga naik sebesar 100,65 atau meningkat 0,56 persen dibanding bulan Juli 2020 yang hanya 100,09.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, menambahkan, menindaklanjuti kebijakan Mentan dalam menggenjot produksi jagung nasional dan pengembangan food estate, Kementan telah mengimplementasikan Program Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan Korporasi (Propaktani). Korporasi petani diperkuat melalui pola kemitraan dengan berbagai pihak yakni Bank untuk memperoleh fasilitas KUR, asuransi, unit pengelola jasa alat mesin pertanian atau mekanisasi, penyedia benih, pupuk, pestisida, Kostraling (Komando Strategi Penggilingan), industri olahan, pedagang, eksportir dan lainnya dalam ikatan bisnis yang saling menguntungkan.

Di NTT, kata dia, khususnya Kabupaten Sumba Tengah ini akan digenjot produksi jagung dan tanaman pangan lainnya, hingga kesejahteraan masyarakat dengan pengembangan pertanian berbasis korporasi. Propaktani terintegrasi on farm dan hilir sampai industri turunan hingga pemasaran. Semua pihak bersinergi membangkitkan pertanian NTT yang lebih maju, mandiri dan modern.
“ke depan, jagung dari NTT dapat memasok dalam negeri dan bahkan ekspor. Dengan demikian, melalui program korporasi petani jagung ini kesejahteraan masyarakat terus kita tingkatkan,” pinta Suwandi.

Sedangkan, Bupati Sumba Tengah, Paulus SK Limu, pada kesempatan itu menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat Sumba Tengah menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan peternakan. “Salah satu pilihan cara yang paling rasional untuk meningkatkan pendapatan masyarakat adalah dengan secara serius mengembangkan berbagai potensi pertanian, peternakan dan perkebunan,” ungkapnya.

Sebelumnya,dilansir Republika.co.id, pada 29 Mei 2020 lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo turun ke Kabupaten Kupang, NTT. Ia meninjau pertanaman jagung, melepas jagung hasil panen program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) sebanyak 3 kontainer yang disiapkan untuk dikirim ke Surabaya dan sekaligus meninjau Toko Tani Indonesia Center (TTIC) dan penyerahan bantuan 40 unit handtraktor kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di Desa Manusak, Kecamatan Kupang. Kunjungan ini juga dimaksudkan memastikan stok pangan di NTT khusus di tengah pandemi virus corona aman.

Mentan mengatakan kunci daerah yang bisa maju itu bila kepala daerahnya mau ikut bergerak. Sebab kebijakan dan program Pemerintah Pusat yang dijalankan melalui Kementerian Pertanian dapat berjalan optimal jika Pemerintah Daerah dapat mensinergikan dengan kebijakannya, salah satunya menghidupkan kelembagaan pertanian. (Dari berbagai sumber liputan media/ editor: Kornelismoanita/NBC) (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi