Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Sabu Raijua Harus Didesain Khusus, Gubernur NTT Akan Bicara dengan Presiden dan Para Menteri Dukung Pembangunan

5 min read

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,SH saat disambut di Kampung Adat Namata, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. (Bungkornell foto)

SEBA, NTTBANGKIT.COM,-Pemerintah Provinsi NTT dibawah pimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH dan Yosep A. Nae Soi, MM, terus memberikan perhatian kepada Kabupaten Sabu Raijua. Pasalnya, kabupaten baru berusia 15 tahun tersebut masih tertinggal dalam riak pembangunan.Selain memberikan dukungan anggaran melalui APBD NTT untuk kegiatan pembangunan di berbagai bidang, Gubernur Viktor juga turun langsung ke Sabu Raijua untuk melihat langsung berbagai kondisi dan kendala pembangunan yang sedang dialami masyarakat. Ia juga siap membangun komunikasi dengan Presiden Jokowi dan para Menteri untuk mendukung anggaran pembangunan Sabu Raijua yang berbatasan dengan Negara Australia.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 23-25 Oktober 2020, Gubernur Viktor bersama seluruh kepala dinas dan badan melakukan kunjungaan ke Sabu Raijua. Dengan menumpang Kapal Cepat KM. Cantika, Gubernur Viktor tiba di Pelabuhan Seba dan disambut Penjabat Bupati, Ferdy Kapitan bersama pimpinan OPD. Setelah itu, orang nomor satu NTT tersebut kemudian bertolak ke Kecamatan Raijua untuk bertemu warga Raiju dan memberikan sejumlah bantuan untuk menopang kehidupan warga di pulau yang kering-kerontang tersebut.

Sebagaiamana dikutip dari Pemkabsarai.go.id, kunjungan kerja (Kunker) Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat tersebut diawali dengan tatap muka dengan forkompimda, sekda, para asisten, pimpnan OPD, para camat, kepala desa, lurah, kepala puskesmas se-kabupaten sabu raijua, serta tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para kepala sekolah se-Kecamatan Raijua. Dalam sambutannya, Gubernur Viktor mengatakan bahwa Kabupaten Sabu Raijua mempunyai sejarah yang hebat, salah satu pulau yang punya peradaban maju. Menurutnya, dalam sejarah dan dokumen resmi, James Kock, pada saat perjalanannya menemukan benua Australia, ia lebih dahulu menginjakan kakinya di pulau Sabu.

Gubernur Viktor pun bersyukur dapat berkunjung ke Sabu Raijua yang memberikan energi besar untuk kembali membangun Kabupaten Sabu Raijua dimana sejak 10 tahun terakhir kurang mendapat perhatian dari pemerintah provinsi NTT. Untuk itu, ia berjanji akan memberikan perhatian khusus di berbagai bidang pembangunan, seperti pembangunan infrastruktur sebagai lokomotif menuju kesejahteraan. “Pertama kita harus membangun bandaranya duluan. Ini harus melalui perencanaan yang baik. Setelah itu kita harus fokus infrastruktur jalan,jembatan, perumahan dan air minum. Dan juga sektor pendidikan, kesehatan, peternakan, pertanian, perikanan serta pariwisata,”ungkap Viktor.

Gubernur Viktor dalam kesempatan itu, mengatakan, Sabu Raijua harus didesain secara khusus, secara baik sesuai dengan kebutuhan yang paling utama dari seluruh warga. Jika infrastruktur dan air menjadi kebutuhan utama, maka dua bidang tersebut harus didahulukan. Bidang lainnya ditahan dulu karena anggaran yang sangat kecil. Dia berharap dengan postur anggaran kecil tersebut harus fokus pada program berskala besar yang berdampak luas. Ia berjanji akan membangun komuniksasi intensif dengan pemerintah pusat untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur di Sabu Raijua. “Khusus pelabuhan laut, bandar udara serta dermaga yang sudah rusak, saya akan bertemu dengan menteri agar dibantu,” katanya.

Strategi Triple Helix

Dalam pembangunan, tegas Gubernur Viktor, unsur Triple Helix (sinergi kerjasama antara tiga pihak atau tripatrit), yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta ketiganya harus berjakan bersama. Dalam konteks pembangunan Sabu Raijua sebagai kabupaten yang memiliki potensi produksi garam yang bagus, dia menegaskan harus didorong menjadi triple helix. “Tidak bisa pemerintah yang kerja, masyarakat yang terima gaji tanpa hasil produksi. Tahap awal boleh saja untuk perkenalkan produk, tetapi secara berkesinambungan hal itu tidak boleh. Pemerintah harus mundur dan serahkan pengelolaanya kepada masyarakat dan pihak swasta, atau Triple Helix. Dikatakannya, Sabu Raijua harus didesain dengan baik, agar pengusaha yang masuk tidak “main garam,” tetapi membeli garam. Jika mau terlibat untuk kerja boleh-boleh saja, namun harus bekerjasama dengan para petani, karena kualitas garam di Sabu Raijua sudah berstandar impor,”terangnya.

Gubernur anak petani ini,mengatakan dirinya sangat yakin Sabu Raijua akan bertumbuh dengan baik di masa mendatang, baik di bidang kesehatan, infrastruktur, pendidikan, pertanian, peternakan, pariwisata serta kelautan. Menurutnya, sesuai data,Sabu Raijua adalah urutan kedua dari kabupaten termiskin di NTT, yaitu Sumba Tengah, Sabu Raijua dan Sumba Timur, Sumba barat, Sumba Barat Daya. Untuk mengatasi kondisi ini, maka cara penanganannya harus serius, dan pejabat yang menangani program ini harus baik dan sukses, jika gagal dan buruk harus diberhentikan.

Siap Bicara ke Pemerintah Pusat

Menyikapi kondisi pembangunan Sabu Raijua yang selama ini macet, Gubernur Viktor menegaskan bahwa kondisi tersebut terjadi bukan karena kesalahan pimpinan di daerah, tetapi karena selama ini pemerintah provinsi tidak pernah mengurus dengan baik. Sabu raijua, harus diurus oleh pemerintah pusat, dan pemerintah provinsi NTT agar dapat maju berkembang ke depan. “Saya akan memfasilitasi untuk sampai ke pemerintah pusat agar berperan secara aktif dalam penanganannya. Oleh karena itu desainnya harus betul. Kepala Bappeda segera mendesain apa saja fokus pembangunan tahun 2021 – 2022, sehingga pemerintah pusat dan provinsi fokus membangun Sabu Raijua bergerak maju,”pintanya.

Lebih lanjut, Viktor mengakui masih adanya kendala anggaran pembangunan NTT. Dimana, dengan keterbatasan kemampuan APBD yang hanya 600 Miliar Rupiah, (belum lagi bayar gaji, sisanya lagi harus dibagikan sama rata) masih menjadi masalah tersendiri. Oleh karena itu, pembangunan harus fokus pada kebutuhan yang paling mendasar lebih dahulu. Untuk mengatasi masalah keterbatasan anggaran tersebut, pihaknya harus berkomunikasi dengan Presiden Jokowi dan para menteri di Jakarta.

Sementara itu, dalam kaitan dengan status miskin, menurut dia, Sabu Raijua miskin bukan hanya karena pemimpinya. “Siapapun yang menjadi pemimpin di Sabu Raijua tidak akan sanggup dengan kondisi APBD yang minim. Jika tidak diintervensi oleh pemerintah pusat dan provinsi maka tidak akan berhasil. Pemerintah Sabu Raijua harus fokus berkomunikasi dengan pemerintah pusat minta dukungan,demikian pula ke pemerintah provinsi. Bila memungkinkan, pemerintah Sabu Raijua juga harus melakukan pinjaman daerah. Saat ini, Pemprov NTT juga akan mengajukan pinjaman sebesar Rp1,5 T untuk pembangunan infrastruktur,” ungkapnya.

Menyentil pembangunan bandara yang sedang dalam tahap perencanaan,Viktor mengingatkan, panjang bandara haruslah minimal 1.600 sampai dengan 1.800 meter, sehingga saat dipromosikan keluar, orang dari Bali, dari Labuan Bajo, bahkan dari tempat lain pun bisa terbang langsung ke Sabu Raijua. Jika nanti Presiden Jokowi berkunjung ke kabupaten Sabu Raijua sudah harus bisa menggunakan pesawat berbadan besar. Karena itu, dia meminta Pjs Bupati Sabu Raijua bersama Sekda agar segera menyelesaikan menyelesaikan Fisibility Study (FS) karena menteri perhubungan sudah siap untuk membangun bandara.

Beri Sejumlah Bantuan

Dalam rangkaian kunjungan Gubernur Viktor ke Sabu Raijua, ia memberikan sejumlah bantuan bagi warga petani.Ia memberikan bantuan bibit Jagung dan Sorgum kepada petani di Kecamatan Raijua agar di tanam dan dikembangkan.Ia juga menyerahkan bantuan dana kepada 10 orang warga masing-masing sebesar Rp5 juta, diantaranya petani rumput laut untuk mengembangkan usahanya. Menjawab masalah air minum yang dialami warga Sabu Raijua akibat musim kemerau panjang yang disampaikan warga dalam sesi dialog, Gubernur Viktor memberikan bantuan 2 buah mobil tanki air bagi warga Sabu Raijua.

Setelah melakukan kunjungan kerja pada Jumat,(23/10) di Kecamatan Raijua, Gubernur Viktor bersama rombongan pada Sabtu pagi (24/10) meninggalkan Kecamatan Raijua menuju Seba, Kecamatan Sabu Barat. Di Seba, ia meninjau pembangunan proyek jalan provinsi, mengunjungi obyek wisata Kudjiratu, Kampung Adat Namata, dan Kelabba Madja. Ia juga berdialog dan mendengarkan harapan-harapan masyarakat di desa Teriwu, Raenyale, Raekore, serta di tempat wisata Nyiuwudu, Kecamatan Sabu Timur.(Sumber:pemkabsarai/ Editor: KornelisMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi