Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pemprov NTT dan Jawa Timur Bangun Kerja Sama Ekonomi Melalui Misi Dagang

5 min read

Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi di sela-sela Kegiatan Misi Dagang Jawa Timur dan NTT. (Foto Pos Kupang)

NTTBANGKIT.COM,-Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Jawa Timur membangun kerja sama ekonomi melalui kegiatan Misi Dagang Provinsi Jawa Timur dan NTT yang digelar. Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef . A. Nae Soi,MM dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak meresmikan kerja sama itu melalui penandatangan Momorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan di Aston Kupang Hotel & Convention Hotel Center, Senin (26/10/2020) lalu.

Seperti dilansir PosKupang.Com, Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi, dalam kesempatan itu, mengatakan bahwa kerja sama ini sangat strategis untuk meningkatkan ekonomi NTT dan Jatim. Ia juga menegaskan bahwa NTT memiliki visi, Kita Bangkit Kita Sejahtera dan hampir sama dengan Jawa Timur yang mempunyai visi misi terwujudnya Jawa Timur yang adil dan sejahtera.

“Saya membaca visi dari Ibu Khofifah dan Pak Emil, hampir-hampir sama yaitu terwujudnya masyarakat Jawa Timur yang adil dan sejahtera. Tapi saya hafal kata sejahtera itu jadi memang ada keserasian perasaan antara Gubernur, Wakil Gubernur Jatim dan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT,” kata Nae Soi.

Dikatakan Nae Soi, di Indonesia, provinsi yang ada timurnya hanya tiga, yakni Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. “Jika di Amerika orang mengatakan go to west, di Indonesia mengatakan go to east. Oleh sebab itu, wajar kalau Jawa Timur datang ke NTT,” ujarnya.

Kerjasama yang digagas ini, kata Nae Soi, harus dilaksanakan bersama-sama untuk saling mendukung. Saat ini,  angka kemiskinan di NTT begitu tinggi, sehingga kerja sama yang digagas oleh Jatim dan NTT, ini tujuannya bagaimana mengentaskan kemiskinan. Meningkatkan derajat manusia supaya bisa lebih baik dari hari ke hari.

“Sumber potensi kita sangat besar. Kita memiliki fauna kita memiliki flora. Oleh sebab itu, interaksi dan interrelasi antara dua provinsi ini sangat dibutuhkan untuk saling menghidupkan satu sama lain. Atau istilah yang populer mutual simbiosis. Artinya, saling menghidupkan kedua provinsi yang kita cintai ini,” ungkap Nae Soi.

Dalam kesempatan tersebut Nae Soi juga memperkenalkan pohon ajaibnya NTT, yakni kelor. Di NTT, ada satu pohon yang sangat luar biasa. Saya tahu juga di Jawa Timur itu ada. Tetapi menurut penelitian, kelor nomor satu di dunia hanya ada dua. Satu di Spanyol, satunya di NTT,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyambut baik kegiatan ini. Dia juga mengamini apa yang disampaikan Wagub Nae Soi. “Sebagaimana tadi disampaikan Bapak Wagub NTT, sama-sama kita punya visi Sejahtera. Kita ingin sejahtera, kita sama-sama ingin sejahtera. Kita ingin sejahtera bersama-sama. Inilah sebabnya kita membangun persahabatan, persaudaraan agar kesejahteraan bisa kita raih bersama-sama. Kita percaya kepada kolaborasi yang membuat kita menjadi sama-sama pemenang,” kata Emil.

Menurut Emil, misi dagang ini memang sebuah upaya karena NTT memiliki potensi yang luar biasa, begitu pula Jawa timur. Namun potensi ini tidak bisa maksimal kalau tidak saling berdagang. Ini harus benar-benar dirorong. Perdagangan memungkinkan untuk fokus kepada keunggulan masing -masing sehingga bisa memproduksi dengan lebih efisien.

Dengan luas wilayah yang hampir sama, yakni kurang lebih 47 ribu kilometer persegi dan keindahan alam dari berbagai pulau di NTT, Emil meyakini bahwa NTT, The New Teritory of Tourism akan terwujud dengan kehadiran Jatim sebagai sahabat.  Meski di NTT sudah ada pabrik semen, pembangunan di NTT akan perlu banyak semen, bisa dari Jatim atau dari daerah-daerah lain di pulau Jawa melalui pelabuhan-pelabuhan di Jatim.

“Banyak sekali peluangnya. Inilah sebabnya kami berharap walaupun masih pandemi, kita jangan pesimis terhadap masa depan kita. Ini ibaratnya sugesti. Kalau orang pesimis akan masa depan dia akan berhenti berkegiatan, berhenti belajar, berhenti berinvestasi,” ujar Emil.

Lanjut Emil, kalau hak itu terjadi, justru terjadi efek kebalikan dari bola salju. Kalau bola salju makin didorong makin besar, tapi kalau ini makin didorong makin kecil atau hilang. Oleh karena itu, optomisme harus dibangun sehingga akan bisa keluar dari pandemi.

Dikatakan Emil, dibandingkan dengan awal merebaknya pandemi di Maret, kini Indonesia jauh lebih siap. Bukan untuk jumawa atau takabur, tetapi maksudnya dalam kondisi banyak yang mengatakan kok perintahnya berubah-ubah.

“Awal-awal stay at home, di rumah saja jangan kemana -mana. Tetapi sekarang kita didorong untuk beraktivitas, berwisata, berdagang, bersekolah dan lain sebagainya. Yang benar yang mana? Semua benar pada waktunya,” paparnya.

“Saya yakin di NTT sudah jauh lebih baik, kita tidak bisa katakan sudah siap tapi lebih siap. Tergolong lebih siap. Kalau kita bilang siap nanti kita takabur mendahului Yang Maha Kuasa, tetapi kita lebih siap untuk menyelamatkan kesejahteraan kita bersama. Nenyelamatkan kesejahteraan bersama dengan menjaga ritme ekonomi,” tegasnya.

Di triwulan kedua, lanjut Emil, ekonomi Jawa timur dan provinsi lain di Pulau Jawa juga di seluruh Indonesia mengalami kontraksi penurunan.Tetapi pemerintah tetap yakin triwulan ketiga lebih baik dan triwulan keempat akan jauh lebih baik.

“Karena untuk bisa menjaga nafas kita, untuk membiayai sistem kesehatan, sistem pendidikan, pertolongan terhadap bencana dan juga lain sebagainya, ekonomi harus berputar. Tidak mungkin ekonomi tidak berputar,” katanya.

Emil mengungkapkan bahwa di Australia, satu di antaranya di Victoria sudah berbicara mengenai kebutuhan melonggarkan ekonomi karena tekanan mental dan ekonomi yang luar biasa. Jadi bukan menganggap remeh Covid-19, bukan menyepelekan Covid-19, tetapi kita sedang mengelola bagaimana agar tetap bertahan, bernapas di tengah covid.

“Kesejahteraan bisa diraih, karena dengan 40 juta penduduk kami memang mau tidak mau harus mendorong industri. Saat ini, industri Jawa Timur menyumbang 30 persen (pendapatan) perdagangan menyumbang 18 persen, pertanian sekitar 10 sampai 11 persen. Bukan tidak mungkin polanya kami berinvestasi untuk kemudian membangun suplai C atau rantai pasok sehingga produksi industrialisasi terjadi di NTT tetapi bisa meningkatkan juga perdagangan di Jatim,” lanjut Emil.

Ia mengatakan, ini merupakan sinergi dan kolaborasi yang diharapkan benar-benar mendorong terjadinya perdagangan antara NTT dan Jatim. Menurut Emil sudah saatnya Indonesia wilayah Timur juga akan menjadi akselerator lokomotif kemajuan ekonomi Indonesia.

Kenapa sinergi jadi penting? Menurutnya, Kalau berbicara mengenai kapal, tol laut tidak bisa efektif kalau tidak ada muatan balik. Jadi tidak bisa bicara Jawa timur menjual barang tanpa berpikir beli apa.” Kami mencita-citakan untuk menjadi HAP atau pusat perdagangan. Saat ini kurang lebih seperlima perdagangan di Indonesia dihasilkan Jawa Timur,” ujarnya.

“Nah, bagaimana kemudian kami bisa menjadi jembatan dari timur ke barat. Di internal, intra pulau Jawa sudah ada tol dari Surabaya ke Jakarta. Mmudah-mudahan kalau misalnya kita ngirim barang ke Surabaya itu bisa menguasai pasar Jawa Tengah dan Jakarta. Ini yang kita dorong. Saat ini, Pemerintah Jawa Timur tidak hanya berpikir bagaimana bisa menjual tetapi juga bagaimana menfasilitasi dari NTT agar bisa jual ke daerah Jawa Timur. Jadi kerja sama kuncinya kepercayaan (trust),” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Addin mengatakan, kerja sama ini merupakan dukungan yang luar biasa bagi para pelaku UKM. Dukungan ini karena sudah ada MoU antar  Wakil Gubernur Jatim dan Wakil Gubernur NTT yang  langsung memberikan pengarahan.

Dari Kabupaten Ponorogo, Addin membawa empat pelaku usaha untuk mewakili Jawa Timur dalam kegiatan tersebut. Ada yang membawa bibit jagung, kedelai, dan ornamen. Addin juga mengakui, kerjasama ini memudahkan ijin baginpara pelaku usaha yang mau memasukkan dagangannya ke pulau lain. Selama ini  untuk memasukkan produk antar pulau kesulitan karena terkait perizinan, namun dengan MoU ini maka sudah lebih mudah. (Sumber: Poskupang/Editor: Kornelis Moa Nita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi