Sab. Jan 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Dukung Pariwisata, Infrastruktur Sabu Terus Dibangun, Tahun Depan Rp90 Miliar untuk Jalan, Embung dan Perumahan

6 min read

pembangunan jalan nasional Bolou-Mesara Kabupaten Sabu Raijua (*)

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua Tidak berdiam diri dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan infrastruktur. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sabu Raijua getol melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat untuk mendapatkan perhatian anggaran infrastruktur. Alhasil, anggaran pun dikucurkan setiap tahun.

Pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Setiap tahun infrastruktur mulai dibangun. Wajah infrastruktur Sabu Raijua pun mulai terbentuk dan terbentang dari Sabu Timur, Sabu Tengah, Sabu Barat, Liae hingga Raijua. Memang belum sempurna seperti daerah lain, namun paling sudah jauh berbeda dari 15 tahun lalu. Di sana-sini terlihat riak pembangunan jalan, jembatan, embung, fasilitas listrik, sarana telekomunikasi, perumahan rakyat terlihat terus dilakukan pemerintah. Wajah kota kecil mungil Sabu Raijua kini mulai berbenah menuju masa depan yang gemilang.

Kepala Dinas PUPR, Eres Haba Radja, MT, mengatakan, berbicara mengenai pembangunan infrastruktur yang saat ini sedang dilakukan pemerintah, ada pembangunan jalan nasional dari Bolou-Sabu Timur hingga Mesara, Sabu Barat sepanjang 40 Km telah dikerjakan dengan dana APBN. Pembangunan jalan tersebut tahun ini selesai. Selanjutnya, ruas jalan dari Bolou Eige dan Mesara Eige juga akan dikerjakan dalam tahun depan. Sementera itu, untuk pemmbangunan jalan propinsi dari Seba-Liae, dan dari Seba Ege akan dikerjakan tahun 2021 termasuk dari Ledeana-Teriwu-Ledemanu- Lobodei. Diakuinya pihaknya terus membangun komunikasi dengan pemerintah provinsi NTT untuk terus mendapat perhatian anggaran setiap tahun, agar jalan provinsi bisa dikerjakan, terutama ruas-ruas yang sedang rusak.

“Tujuan dari pembangunan semua ruas jalan untuk membuka isolasi transportasi demi meningkatkan ekonomi dan mendukung pengembangan sektor pariwisata. Semua akses jalan utama ke daerah pariwisata itu jadi tujuan utama kita. Semua satu persatu kita kerjakan. Yang kedua, adanya interaksi antara kecamatan dan antar desa. Ada jalan kabupaten, jalan propinsi dan non status. Kita memang masih keterbatasan soal anggaran, namun kita tidak menyerah. Kita terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Dinas PU Propinsi dan Kementerian PUPR di Jakarta, agar kita mendapatkan dukungan anggaran setiap tahun,” kata kata Kadis Eres pekan lalu di ruang kerjanya.

Sementara itu, untuk mengatasi masalah air di Sabu Raijua, Eres menerangkan PU juga membangun sumber daya air dengan membangun embung berukuran besar. Tahun ini, ada 2 buah embung dengan kapasitas diatas 300 di bangun, satu embung dibangun di Lobodei dan satu lagi di Rainyale. Sumber dana dari pembangunan embung tersebut dari dana APBN. Menurutnya, dalam pembangunan embung ada beberapa hambatan utama, salah satunya masalah lahan. Dimana belum ada pelepasan hak atas tanah. Jika sudah ada pelepasan hak dari masyarakat maka akan mudah.

“Pihak pemerintah propinsi dan pemerintah pusat kita sama-sama mewujudkan pembangunan embung. Embung merupakan sumber air yang kita kembangkan, salah satunya adalah air bersih melalui embung.Contohnya, embung Guriola kita kerja sama dengan Balai Sungai dan Balai Pemukiman yang mengolah air untuk membantu air bersih bagi masyakarakat. Embung ini juga kita usulkan pengerukan agar lebih dalam. Jadi kita tidak berdiam diri. Kita terus berkoordinasi dan berkomunikasi. Kalau kapastias di atas 300 kita masih kesulitan lokasi soal lahan, ada masalah suku. Kita terus lakukan sosialisasi dan pendekatan kekeluargaan dan adat,” ungkap Kadis Eres.

Dia mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan air seluruh warga Sabu Raijua, estimasinya dibangun paling banyak 25 embung berkapasitas besar 500 M2. Jika sudah dibangun, maka semua sudah dapat mengatasi seluruh kebutuhan air minum. Pihaknya, terus berupaya mengusulkan sambil juga melihat anggaran di daerah. “Saya konsentrasi kepada embung besar, kalau yang kecil-kecil kan terbatas,” terangnya.

Mengenai jaringn air minum warga, lanjut Kadis Eres, saat ini masih memanfaatkan sumber-sumber mata air yang ada di Sabu. Ada beberapa sumber mata air seperti Lokoaemada. Ada banyak sumber mata air, tapi saat ini menurun mata airnya karena musim kemerau. Warga lebih banyak memakai sumur gali sebagai sumber air minum. Untuk sumur bor memang ada, namun perlu dilakukan kajian terlebih dahulu mengenai dampaknya.

“Kalau sumur bor kita harus lakukan kajian, tidak bisa kita lakukan penggalian sesuka hati. Kalau di daerah pinggir pantai kita gali di situ, mka air mulai asin karena air laut mulau masuk. Jadi kita masih fokus dengan pembangunan embung karen manfaat embung menetralkan kembali sumur yang sudah tercemar air asin. Tentu kita harus punya hutan untuk melindungi mata air kita. Pelestarian sumber-sumber mata air menjadi sanfat penting dilakukan oleh semua pihak,” beber Kadis Eres.

Disentil mengenai jaringan air minum perkotaan, dia menjelaskan bahwa saat ini masih dikaji karena kebutuhan air sudah melebihi sumber-sumber air yang ada atau yang tersedia.Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengelola air dari Embung Guriola untuk membantu kebutuhan air warga, termasuk sumber air dari Embung Lobodei dan Rainyale yang akan dibangun tahun 2021 mendatang.

Sedangkan untuk infrastruktur perumahan warga, dia mengungkapakan,selama ini pembangunan perumahan rakyat masih dari sumber dana DAK APBN karen APBD Sabu Raijua tidak cukup. Tahun ini ada 8 desa yang mendapatkan jatah pembangunan rumah.Satu desa mendapatkan 30 unit rumah layak huni. Jadi total rumah yang akan dibangun dari dana DAK sebanyak 240 unit rumah. Jumlah dananya sebesar Rp6 miliar yang kita peroleh.

“Kita juga terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi.Dari hasil koordinasi kita akan diberikan dukungan anggaran untuk pembangunan rumah dari APBD Provinsi NTT.Intinya, kita terus membangun komunikasi dan koordinasi supaya Sabu mendapatkan anggaran, jadi kita tidak diam. Yang penting keterbukaan kita pada pemerintah pusat dan provinsi karena kita tidak bisa berharap hanya dari APBD kita yang sangt kecil,” pungkasnya.

Dikatakannya, total anggaran untuk pembangunan infrastuktur pada tahun 2021 sebesar Rp90-an miliar. Total anggaran tersebut akumulasi dari dana DAK APBN dan APBD Sabu Raijua. Semua dana tersebut akan dipergunakan untuk pembangunan jalan, jembatan, embung dan perumahan warga. Diakuinya, bagi Sabu Raijua yang secara geografis terpisah dari pulau-pulau lainnya mempunya permasalahan tersendiri dalam bidang infrastruktur, selain masalah anggaran yang paling utama, masalah lainnya adalah material yang digunakan dalam pembangunan infrastruktur yang harus dipasok dari luar. Contohnya pasir yang diangkut dengan tronton dari Kabupaten Kupang, semen dari Sulawesi dan Kota Kupang, dan lain-lain. Tentunya, hal ini membuat biaya infrastruktur makin tinggi. Dampak dari itu, bisa berpengaruh pada proses tender dan molornya waktu penyelesaian pekerjaan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi keterlambatan kerja, maka proses tender dilakukan lebih cepat.

Lebih lanjut, mengenai kesiapan pelaku usaha jasa konstruksi, bagi Dinas PU sudah cukup tersedia. Namun dalam pelaksanaan, pihak Dinas lebih mengedepankan pengusaha yang sudah berpengalaman kerja dan memiliki peralatan kerja agar tidak terjadi masalah.’Sudah ada banyak pelaku usaha yang menjadi rekanan kita. Kita terus membangun kerja sama selama ini dan ke depan. Karena kita ingin pekerjaan tepat waktu dan berkualitas, maka kita utamakan yang sudah berpengalaman kerja dan mempunyai peralatan sendiri. Hal itu mempermudah dan mempercepat pembangunan infrasturktur.”ujarnya.

Raijua dapat Rp8 Miliar Bangun Jalan

Sementara itu, disentil mengenai pembangunan infrastruktur di Kecamatan Raijua yang masih jauh tertingal, Eres mengaku bahwa pihaknya memang perihatin dengan Raijua yang secara geogradis dipisahkan dengan lautan. Namun, Dinas Pu juga telah memberikan perhatian dengan membangun jalan dari pelabuhan Ledeunu hingga bagian barat pulau itu, dan pembangunan jalan ke lokasi tambak garam di bagian Timur, saat ini tinggal jalan as tengah dari timur ke barat yang akan dibangun. Memang keterbatasan anggaran memang masih menjadi kendala tersendiri. Namun, pemerintah terus memberikan perhatian dengan berupaya menaikan status jalan yang masih non status.

“Pekan lalu, kita ke Raijua bersama Bapak Gubernur NTT. Memang kondisi jalannya memperihatinkan. Kita terus berkoordinasi dan berusaha agar Raijua mendapatkan perhatian.Nanti pada tahun depan ada anggaran sebesar Rp8 miliar lebih untuk pembangunan jalan di Raijua. Kesulitan kita jalan di sana masih non status jadi kita usulkan agar naikan status jalannya,” terangnya sembari menambahkan bahwa pembangunan jalan difokuskan pada daerah-daerah akses pariwisata dan centra ekonomi. Prinsipnya, fokus dahulu membuka isolasi antar desa dan kecamatan. Tahun depan ada anggaran sebesar Rp7-8 Miliar untuk pembangunan infrastruktur jalan di Raijua.

Sementara itu, mengenai pemenuhan kebutuhan air, Kadis Eres mengatakan, pihaknya sudah dan sedang membangun sebuah embung berukuran besar yang sudah rampung tahun ini. Diharapkan dengan rampungnya embung tersebut, dapat dikelolah dan dipergunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air warga Raijua. Pihak dinas, kata dia, juga sedang melakukan survey dan kajian terhadap sumur-sumur yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi NTT yang tidak dipergunakan lagi saat ini.

“Banyak sumur-sumur itu masih ada airnya. Namun tidak dipergunakan warga secara baik. Oleh karena itu, kita akan kaji dan diperbaiki lagi agar bisa dipergunakan oleh warga. Kita harapkan juga warga menjaga atau memelihara fasilitas atau sarana yang dibangun pemerintah,” pintanya. (kornelismoanita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi