Ming. Feb 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

7 views

Pandemi Covid-19 Sebabkan Harga Rumput Laut Turun, Petani Resah

2 min read

Rumput laut siap jual milik petani di desa Lobodei, Kecamatan Mesara, Sabu Raijua.(*)

KUPANG,NTTBANGKIT.COM,- Kabupaten Sabu Raiju memiliki potensi rumput laut yang mumpuni. Para petani rumput laut dapat meningkatkan ekonomi mereka melalui usaha budidaya rumput laut. Dengan menjual rumput laut, mereka dapat menyekolahkan anak, membangun rumah, dan membiayai berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Lobohede adalah salah satu desa penghasil terbesar rumput laut di Kecamatan Mesara. Desa ini sangat terkenal karena mayoritas warga mengolah rumput laut hingga dijual menjadi jutaan hingga ratusan juta rupiah. Sebagai salah satu desa yang sangat berkembang di Sabu Raijua, Lobohede terlihat jauh lebih baik dari desa-desa lainnya. Di sana ada jalan raya yang sudah lebih baik, ada depot BBM, ada jaringan listrik, dan jaringan air minum warga dengan bak-bak penampung yang baik. Mereka hanya kekurangan jaringan internet sehingga masih sulit memasarkan rumput laut melalui teknologi digital.

Akhir-akhir ini petani rumput laut di desa Lobohede mengeluh karena harga rumput laut menurun. Anjloknya harga membuat penghasilan mereka menurun. Ditambah lagi Pandemi Covid-19, mereka merasa kian kesulitan mendapatkan harga rumput laut yang tinggi seperti tahun 2019 lalu. Mereka berharap, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan Pemerintah NTT dapat membantu membeli atau membuat aturan untuk mengendalikan harga rumput laut yang tidak menentu.

Bupati Nikodemus Rihi Heke (Calon Bupati incumbent saat ini), menerangkan bahwa Sabu Raijua memeng daerah potensial untuk pengembangan rumput laut. Soal turunnya harga, kata dia, disebkan oleh Pandemi Covid-19. Adanya Covid membuat pembeli dari luar tidak lagi datag ke Sabu Raijua.

“Harga turun karena Covid. Pembeli paling banyak dari Cina dan Korea melalu kaki tangannya dari Makasar dan Surabaya. Dulu harga Rp.10.000 dia kasih harga sampai Rp.9.000. Saya lepas tahun lalu dengan harga di atas Rp20.000 bahkan sampai Rp24.000. Menurunnya harga juga disebabkan oleh ada oknum yang main harga. Sekarang ini, kata dia, juga disebabkan oleh politik pilkada dimana para pengumpul yang mendukung paket tertentu,” terang Rihi Heke beberapa waktu lalu di Sabu.

Diterangkannya bahwa di Kecamatan Raijua juga ada banyak petani yang mengeluh. “Ini permainan kartel dengan macam-macam hitungan harga. Padahal sebenarnya harga Rp25 ribu per kg, tetapi mereka datang pura-pura tawar antara mereka dan pura-pura tidak baku kenal, akhirnya petani kita terkecoh dan menjual rumput laut mereka dengan murah,” beber Rihi Heke.

Dulu, terang dia, ada pengusaha yang mau kelola rumput laut. Mereka meminta pemerintah kendalikan harga, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan.

“Saya tolak. Kita himbau untuk jual ke prabrik, tapi kadang mereka lihat harga pengusaha lain lebih bagus mereka jual. Dalam kondisi sekarang ini, kita mesti cari pembeli, tapi cari dari luar sulit. Kemarin Pak Gubernur NTT, Viktor Laiskodat minta Bank NTT melihat peluang ini. Apa memungkinkan atau tidak jika Bank NTT yang beli, tapi tentu Bank NTT harus mengitung dengan baik. Dan mereka manyatakan siap,” ungkapnya.(KornelisMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi