Jum. Okt 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Busana Sabu di Kampung Adat Namata Memang Indah dan Unik

3 min read

Busana adat Sabu Raijua yang dikenakan para pengunjung di Kampung Adat Namata (Foto bungkornell)

NTTBANGKIT.COM,-Nama Kampung Adat Namata, di Kabupaten Sabu Raijua kini kian melambung di blantika pariwisata NTT. Kampung kecil dengan rumah-rumah adat yang mengitari bebatuan megalit penuh sejarah peradaban itu menjadi bidikan pengunjung saat ke Sabu Raijua. Ada turis-turis asing, ada wisatawan dari luar daerah dan ada pula warga lokal NTT yang datang menikmati keramatnya batu-batu sejarah di bawa rindangnya pepohonan.

Meski saat ini masih masa Pandemi Covid-19, para pengunjung yang datang ke Kampung Adat Namata tetap terlihat.Bila datang ke Sabu, mereka meluangkan waktu untuk menarik udara segar dan menikmati indahnya sun set disenja hari. Seringkali pengunjung yang datang mengenakan busana adat asli Sabu dan berfoto di sekitar batu-batu penuh nilai sejarah Suku Namata. Pakain-pakaian adat tersebut disediakan oleh para penjaga kampung yang berdiam di rumah-rumah adat yang mengelilingi kampung tua tersebut.

Mahari, salah satu pria keturunan Suku Namata yang tinggal di Kampung Namata, menerangakan, kain-kain tenunan asli Sabu Raijua itu memang disediakan khusus untuk para pengunjung. Bagi para pengunjung yang mau berfoto harus menyewa atau membayar sepasang pakaian adat, seharga Rp25.000.000,- Setelah itu, ada ibu-ibu yang sudah siap mamakaikan pakaian adat tersebut.Setelah usai berfoto-foto puas di atas batu-batu atau di sekitar bukit tersebut, pakaian tersebut harus dibuka dan dikembalikan lagi.

Dikatakan Mahari, sebelum Covid-19, ada banyak tamu wisatawan dari luar negeri dan dari luar NTT, seperti dari Jakarta. Namun selama Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, tamu-tamu wisatawan asing sudah jarang terlihat. Demikian pula tamu-tamu dari luar NTT. Kecuali warga lokal dari Kupang yang masih sesekali datang ke kampung Namata untuk jalan-jalan melepas penat sambil istirahat sejenak di rumah-rumah adat beratap daun-daun lontar dengan dinding kuat dari batang pohon lontar.Bangunan rumah adat itu telah lama dibangun dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

“Dulu sebelum Covid, sangat banyak yang datang ke sini.Selain jalan-jalan, berfoto selfi,ada pula yang membuat penelitian, dan karya tulis, film dokumenter, dan lain-lain. Namun, saat ini, agak sepi karena Covid-19 belum berakhir. Saat ini, memang ada tamu -tamu yang datang, tapi paling banyak dari Kota Kupang. Mereka rata-rata orang-orang Sabu yang pulang berlibur. Juga ada sedikit warga lokal yang datang menikmati bukit ini untuk bersantai,”ujarnya.

Beberapa waktu lalu, seperti disaksikan media ini, ada serombongan keluarga asal Kupang, tampak berada di bukit Namata. Sepasang suami istri bersama anak-anak mereka tampak memasuki salah satu rumah adat dan kemudian mengenakan pakain-pakaian adat Sabu. Mereka terlihat senang mengenakan pakain adat yang serasi dengan warna-warna dan corak yang khas.

Miko Boro, salah satu pengunjung dari Flores yang sudah ke Kampung Namata

Melihat indah dan uniknya kain tenun adat Sabu yang dikenakan sepasang keluarga tersebut, Miko Boro, seorang pria asal Adonara, Flores Timur rupanya terpukau dan meminta kepada para ibu untuk mengenakan pakain adat Sabu. Ia merasa senang bisa memakai tenunan Sabu dan mendokumetasikannya menjadi kenangan paling berkesan di kala jalan-jalan ke Sabu. Ia mengaku baru pertama kali ke Sabu dan pertama kali mengenakan pakain adat Sabu.

“Saya senang sekali bisa mengenakan pakaian adat Sabu kala berkunjung ke kampung ini. Tenun Sabu ini unik sekali motif-motifnya. Dengan mengenakan kain tenun ini, saya sudah mendukung pembangunan pariwisata dan mendukung tradisi menenun ibu-ibu di Sabu. Saya berharap, kain tenun Sabu tetap dilestarikan oleh generasi muda, secara khusus generasi Suku Namata,” aku Miko Boro, saat berkunjung ke Kampung Namata.

Untuk pergi ke Kampung Namata yang terletak di Kecamatan Sabu Barat, bila dulu jalan menuju Kampung Namata masih bertanah dan berdebu serta licin di musim hujan, saat ini kondisinya sudah jauh lebih baik karena telah diaspal. Dari Menia, Ibu Kota Kabupaten Sabu, kendaraan roda dua dan roda empat. Jadi para pengunjung sangat mudah mencapai bukit kecil yang dihuni para ahli waris suku Namata. (kornelismoanita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi