Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gubernur NTT Minta Bank NTT Bidik Garam dan Rumput Laut Sabu Raijua

2 min read

Ladang garam Sabu Raijua di Kecamatan Sabu Barat (Foto: bungkornell)

Rumput laut milik petani di Desa Lobohede yang siap dijual

NTTBANGKIT.COM,-Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat, SH belum lama ini berkunjung ke Kabupaten Sabu Raijua. Dalam kunjungan tersebut, Viktor berkeliling Sabu Raijua bertemu dengan para tokoh dan warga. Ia menyatakan memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan Sabu Raijua, terutama pengembangan industri garam dan peningkatan produksi rumput laut.

Mengetahui Sabu Raijua adalah kabupaten penghasil garam dan rumput laut, Viktor berjanji akan mendukung para petambak dan petani rumput laut dengan membantu memasarkan ke berbagai pengusaha.Pasalnya, produksi garam sangat tinggi namun pembeli masih minim akibat serangan Pandemi Covid-19. Sementara, petani rumput laut pun mengeluhkan anjloknya harga rumput laut yang membuat mereka kurang bergairah.

Menghadapi masalah itu, dia meminta Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho, melihat peluang bisnis garam dan rumput laut dengan membeli produksi garam dan rumput laut petani.

“Saya berusaha mencarikan pembelinya. Saya minta Pak Dirut coba mengkaji kalau-kalau Bank NTT dapat membeli dan memasarkan Garam dan Rumput laut petani untuk meningkatkan produksi mereka,” kata Bupati Sabu Raijua, Nicodemus Rihi Heke kepada media ini mengutip pernyataan Gubernur Viktor, belum lama ini.

Rihi Heke menerangkan, saat ini produksi garam ditambak-tambak garam masih banyak yang belum terjual.Para pengusaha yang biasa membeli garam di Sabu selama ini berhenti karena Pandemi Covid-19. Beberapa pembeli yang sudah menyatakan siap membeli pun batal ke Sabu karena penetapan Zona Merah Covid-19.

“Kami sangat berharap bantuan pemerintah agar semua garam yang sudah dikumpulkan petambak dapat terjual.Jika tidak terjual atau dibeli pengusaha, garam-garam tersebut akan mencair ketika musim hujan makin tinggi,”terangnya.

Sementara itu, mengenai menurunnya harga rumput laut yang dikeluhakan para petani akhir-akhir ini, Rihi Heke mengungkapkan hal itu terjadi karena adanya permainan harga oleh para pengepul atau pengusaha lokal, adanya Pandemi Covid-19 dan situasi politik pilkada.(KornelisMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi