Ming. Feb 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

7 views

Gubernur Viktor Minta BOPLBF dan Pemda Selesaikan Desain Pariwisata Pulau Flores untuk Dipasarkan 2021

5 min read

Gubernur NTT, VIktor Bungtilu Laiskodat dan Presiden Joko Widodo saat berada di Labuan Bajo, Manggarai Barat, beberapa waktu lalu (*)

NTTBANGKIT.COM,-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat,SH, meminta Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) bersama masing-masing pemerintah daerah segera menyelesaikan rancangan pariwisata di Pulau Flores hingga Kabupaten Lembata dan Alor.

“Saya minta desain pariwisata kawasan Flores dan sekitarnya ini harus sudah selesai secepatnya. Badan otorita maunya seperti apa, kerjanya apa, dan masa depan pariwisata yang ingin dicapai seperti apa. Desain pariwisata seluruh kabupaten di Pulau Flores, Lembata dan Alor, harus menyatu di sana,” katanya dalam keterangannya beberapa waktu lalu, seperti dilansir Antaranews.com.

Ia mengatakan membangun pariwisata harus dimulai dari konsep yang jelas dan dimengerti, dimulai dari teori yang seperti apa, lalu turunan serta prakteknya harus dirancang dengan jelas, apalagi bicara tentang pariwisata yang premium dan berkelanjutan.

“Jangan kita bicara pariwisata dengan konsep yang wow tapi tidak kita mengerti. Harus jelas ilmunya seperti ini, turunannya bagaimana,” katanya.

Untuk itu Gubernur Viktor meminta BOPLBF bersama para kepala daerah di sembilan kabupaten se-daratan Pulau Flores, Lembata, dan Alor, agar merancang sedikitnya dua produk unggulan pariwisata untuk dijual pada 2021.

Produk unggulan tersebut, lanjut dia, harus disertai dengan narasi yang lengkap dan dibuat dalam agenda pariwisata untuk dipasarkan hingga ke tingkat mancanegara.“Ini tugasnya Badan Otorita Pariwisata. Harus bisa memastikan kedua produk unggulan itu bisa disuka, ditonton, dan diketahui oleh semakin banyak orang. Karena itu bisa menarik orang datang ke sini,” katanya.

“Rencana apa saja yang terkait pariwisata agar semakin dikenal dunia, BOPLBF ada di sana. Sale dan marketing-nya harus terintegrasi dengan baik. BOPLBF tidak perlu terlibat dalam pembangunan infrastruktur,” katanya.

Gubernur Viktor mengatakan untuk menghasilkan rancangan pariwisata di wilayah Pulau Flores, Lembata, dan Alor yang baik maka berbagai pihak tidak boleh berjalan sendiri.

“Tidak boleh BOPLBF jalan sendiri, pemerintah kabupatennya jalan sendiri, dan gubernurnya jalan sendiri. Cara kerja seperti ini harus dihilangkan,” tegasnya.

Labuan Bajo Harus Terintegrasi dengan Wisata lain di Flores

Sementara itu, pada bulan Oktober lalu, Komisi X DPR RI membidangi pariwisata ekonomi kreatif, pendidikan kebudayaan, pemuda olahraga dan perpustakaan nasional mengharapkan Pulau Flores yang terhubung dengan Labuan Bajo ke depannya bisa menjadi destinasi wisata yang terintegrasi sehingga wisatawan tak hanya mengenal Labuan Bajo, Manggarai Barat saja.

“Jadi memang kita mengharapkan agar ke depannya itu seluruh kawasan wisata di Pulau Flores ini dapat menjadi lokasi wisata yang terintegrasi dengan Labuan Bajo yang memang sudah dikenal hingga seluruh dunia,” kata anggota Komisi 10 DPR RI Andreas Hugo Pareira kepada wartawan di Labuan Bajo.

Hal ini disampaikan-nya berkaitan dengan persiapan Labuan Bajo menuju pariwisata premium yang tentu saja membutuhkan integrasi baik di Pulau Flores dan Bima, NTB, yang juga bagian dari cagar biosfer komodo. Ia menyebutkan kawasan wisata yang terintegrasi itu bisa dimulai dari Pulau Flores, kemudian Pulau Alor serta Lembata yang memang masing-masing mempunyai destinasi wisata unggulan tersendiri.k

“Tetapi ini kan bukan sekadar ngomong ya, tetapi diperlukan persiapan kemudian diusulkan kepada pemerintah pusat sehingga bisa terwujud hal ini,” ujar dia.

Menurut dia baik badan otorita pariwisata labuan bajo flores (BOPLBF) pemda setempat juga harus mulai membuat peta perjalanan yang rute-nya dari Labuan Bajo, menuju Wae Rebo, kemudian berakhir di beberapa daerah yang memang terintegrasi dengan Labuan Bajo itu. Politisi PDIP itu menambahkan bahwa DPR sendiri khususnya Komisi X selama ini memberikan dukungan yang besar untuk pembangunan pariwisata di Labuan Bajo.

Apalagi selama ini Labuan Bajo menjadi perhatian serius dari Presiden Joko Widodo serta para menterinya mengingat sudah ditetapkan sebagai kawasan super prioritas nasional. Menurut dia pariwisata itu diibaratkan dengan emas putih yang tidak akan pernah habis jika dijaga dan dimanfaatkan dengan baik.

Ia pun mengakui bahwa selama pandemik ini pariwisata dan beberapa sektor lainnya ikut mati suri. Namun ia menyakini juga jika pada awal 2021 pandemi ini berakhir, maka sektor pariwisata akan meningkat drastis dan hal ini akan meningkatkan pendapatan daerah

MPR-RI Dukung Pemerintah Kembangkan Wisata di Pulau Flores

Sebelumnya, pada bulan Juli 2020 lalu, Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid mendorong pemerintah pusat ikut turun tangan mengembangkan wisata di Pulau Flores. Ia menilai di wilayah tersebut ada Danau Kelimutu yang bisa dijadikan satu paket dengan wisata di Labuan Bajo, yang masih satu pulau di Flores.

“Agar pariwisata di Danau Kelimutu lebih semarak, danau yang terbentuk dari letusan gunung yang terjadi ribuan tahun yang lalu itu dijadikan satu paket dengan wisata di Labuan Bajo, yang masih satu pulau di Flores. Menjadi kawasan ekonomi khusus pariwisata, jadi nanti satu paket dengan Labuan Bajo,” kata Jazilul dalam keterangannya di Jakarta. Hal itu dikatakannya setelah dirinya mengunjungi Taman Nasional Danau Tiga Warna Kelimutu, Rabu (29/7).

Dia menilai untuk mencapai hal tersebut, tidak hanya bisa dilakukan Pemerintah Kabupaten Ende namun Pemerintah pusat disebut juga harus ikut turun tangan mengembangkan wisata di Pulau Flores. Menurut dia, untuk mengembangkan sektor wisata di Danau Kelimutu, Labuan Bajo, dan tempat wisata lain di Pulau FLores, langkah yang perlu dilakukan pemerintah adalah membangun infrastruktur jalan dan transportasi.

“Jalan-jalan yang ada perlu diperlebar, setelah infrastruktur terbangun, selanjutnya dan sama pentingnya adalah membangun sumber daya manusia yang ada,” ujarnya.

Pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu memberikan saran, perlu didirikan SMK di bidang pariwisata, lulusan sekolah tersebut akan diserap para pelaku di sektor pariwisata. Jazilul mengatakan masyarakat Ende dan Pulau Flores merupakan masyarakat terbuka sehingga mereka mau menerima wisatawan yang beragam. Untuk mengembangkan tempat wisata, Jazilul mengakui perlunya promosi, misalnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada masa lalu mempunyai anggaran yang besar, dari anggaran yang ada, separuh yang ada digunakan untuk melakukan promosi.

“Promosi belum dilakukan pemerintah secara maksimal, dalam mempromosikan tempat wisata, disebut jangan hanya mengandalkan pemerintah. Biro-biro travel yang ada diharap juga melakukan hal yang sama. Dirinya meminta agar biro travel aktif mempromosikan tempat wisata,” katanya.

Menurut dia, masyarakat luas juga bisa ikut mendorong sektor pariwisata di daerah dengan cara mengunggah status-status tempat wisata di media sosial. “Setelah dipromosikan, tinggal kita mempersiapkan tempat menginap dan transportasinya di tempat yang dituju,” ujarnya.

Dia mengakui, membangun sektor pariwisata sangat penting karena suatu negara dan masyarakat maju atau tidak, indikatornya adalah sektor tersebut, saat pandemi COVID-19, dampak yang diukur salah satunya adalah sektor pariwisata.

Menurut dia, sektor pariwisata sepi maka ekonomi juga akan turun, untuk itu tempat-tempat wisata yang aman, masuk dalam zona hijau, seharusnya dibuka untuk umum.

“Kami ke Danau Kelimutu karena tempat wisata ini masuk dalam zona hijau. Tempat wisata seperti Danau Kelimutu perlu segera dibuka agar sektor-sektor pendukung, seperti kerajinan tangan, oleh-oleh, dan usaha kecil dan menengah dari masyarakat, juga segera ikut menggeliat,” katanya. (Sumber Antaranews.com/ editor: kornelismoanita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi