Jum. Okt 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pembangunan Pariwisata NTT, Saatnya Rakyat Bangkit Tangkap Peluang

11 min read

Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek, saat membuka Diskusi Pengembangan Pariwisata NTT, di Rumah Rote Ndao Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (27/7/2019).

(Liputan khusus Diskusi Pengembangan Pariwisata NTT Badan Penghubung NTT, FKM Flobamora dan Kementerian Pariwisata)

Kepala Badan Penghubung NTT, VIktor Manek, Frans Teguh, Vinsen Djemadu dan Don Bosco Selamun,(para nara sumber), foto bersama peserta usai kegiatan Diskusi Pariwisata NTT di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (27/7/2019).

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,–Untuk mendukung pembangunan pariwisata Labuan Bajo, Manggara Barat, Pulau Flores,  Badan Penghubung NTT mengadakan diskusi bertajuk” Pengembangan Pariwisata NTT.” Diskusi yang dilaksanakan atas kerja sama dengan Forum Kekeluargaan Masyarakat (FKM) Flobamora), dan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, Kementerian Pariwisata ini diselenggarakan di aula Rumah Rote Ndao Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (27/7/2019.  Sebanyak 50-an warga NTT  hadir dalam diskusi seru yang berjalan dalam suasana kekeluargaan tersebut.

Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek, yang tampil berbusana kain adat Timor,  mengawali diskusi dengan memperkenalkan para nara sumber. Para nara sumber tersebut adalah Frans Teguh (Putra NTT yang kini menjadi pejabat di Kementerian Pariwisata, Don Bosco Selamun (Putra NTT yang saat ini menjadi Pemimpin Redaktur Metro TV), dan Vinsen Djemadu, dan Marsel Rengka (Mantan pejabat Lippo Bank yang saat ini menjadi peternak Babi di Labuan Bajo).

Sebagai penyelenggara diskusi, Viktor Manek, mengambarkan keunikan NTT. Dimana, NTT memiliki sumber daya  pariwisata , seperti Komodo, Gua Ular, 17 Pulau di Riung, Kampung Bena, Danau  Kelimutu, Taman laut yang indah, Ikan Paus di Lembata, Pesona Bawa Laut di Alor yang lebih indah dari Caribia, Padang Sabana Indah, Pasola, Kampung Tarung di Pulau Sumba, dan masih banyak lagi keunikan lain yang tidak ada di belahan bumi lainnya.

Menurut Viktor Manek, orang NTT di Jakarta begitu banyak meraih kesuksesan.  Putra-putra NTT menguasai  di semua media besar dan kecil nasional.  Ada di Kompas, ada di Media Indonesia, Metro TV, Berita Satu, TV One, Suara Pembaharuan, dan lain-lain, termasuk Badan Penghubung NTT juga mempunyai NTTbangkit.com. Selain begitu, banyak yang menjadi politisi hebat di berbagai partai politik, juga ada begitu banyak orang NTT yang sukses dalam dunia bisnis dan ekonomi.

Berdasarkan potensi hebat orang NTT, ia mengajak semua orang NTT harus bersatu, berdiskusi dan bekerjasama mendukung dan terlibat aktif dalam pembangunan atau pengembangan Pariwisata NTT, secara khusus di Labuan Bajo, dan Pulau Flores. “Saya ajak  kita berdiskusi. Mari kita tinggalkan perbedaan-perbedaan untuk bersama-sama membangun bangun pariwisata demi kemajuan daerah kita. Sekarang kementeraian pariwisata sudah siap 24 jam untuk bekerja. Jadi kita harus bangkit. Diaspora NTT ada di jakarta dekat dengan titik api, Jadi api ini harus mulai membara,”kata Viktor Manek.

Frans Teguh,  yang tampil sebagai pembicara pertama, menjelaskan kebijakan Kementerian Pariwisata terkait peranan dan tugas-tugas pokok kementerian pariwisata dalam pembangunan pariwisata di Flores. Menurut Frans Teguh, Labuan bajo saat ini telah menjadi bagian dari program pemerintah yang telah didukung dengan pembentukan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo melalaui Peraturan Presiden (PERPRES) 32.

Selama kurang lebih 5 tahun terakhir, lanjut dia,  pembangunan pariwisata di Labuan Bajo belum ada perubahan yang signifikan. Padahal, Labuan Bajo memiliki potensi yang lebih dari cukup, seperti memiliki potensi alam budaya, Komodo, dan potensi keindahan alam. Hanya memiliki potensi pariwisata saja tidak cukup, tetapi poensi pariwisata harus dikelolah. “Jangan sampai seperti tikus mati di lumbung padi. Sekarang ini NTT mau bangkit pariwisatanya. Pariwisata kini menjadi core economic karena chalengingnya banyak.  Untuk itu dibutuhkan manejemen dan bismis model serta skill-skill  yang harus dipersiapkan, termasuk sumber daya manusia (SDM) nya.

Menurut Frans, pembangunan pariwisata Labuan Bajo membutuhkan kesiapan pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah dan masyarakat di daerah, tidak bisa hanya landai-landai saja, tetapi harus sudah mulai bergerak mempersiapkan diri untuk menangkap peluang. Kebutuhan pangan untuk mendukung pariwisata sangat besar. Oleh karena itu, pertanian, perkebunan, ekonomi kreatif harus mulai dikembangkan. Kebutuhan pangan, seperti ikan, sayuran, buah, bunga, daging, telur dan lain-lain akan makin tinggi.

“Basis pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan center-center ekonomi kretif harus diperkuat. Untuk meningkatkan produksi, maka diperlukan pendampingan hingga pemasaran. Jangan sampai kita menjadi penonton di kampung sendiri,”katanya memotivasi sambil menegaskan kembali bahwa aspek terpenting adalah SDM. Palnya, jika SDM dengan service standar tidak dikelolah, maka akan ditinggalkan.  Soal SDM, tingkah laku dan tata kramah menjadi aspek yang sangat penting. Kalau kita masak bagus, itu bermanfaat, kalau tidak bisa masak bagus maka itu menjadi malapetaka. Fakta ini adalah pengalaman di beberapa negara,” ujarnya.

Peranan, Fungsi dan Tugas BOP Labuan Bajo

Mengenai Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo, Frans menjelaskan bahwa BOP adalah instrumen dari pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan pariwisata di daerah, dan dalam kontek ini bersama-sama menciptakan destinasi yang premium. Tugas utama dari BOP adalah menggerakan, mengkoordinasikan,dan memfasilitasi. Namun, tugas membangun pariwiata bukan hanya tugas pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah, dan kementerian-kemeterian yang mempunyai UPT di daerah. Semua harus menjadi bagian yang intergral, termasuk media massa dan pelaku pariwisata.

Dikatakannya, ada 19 menteri yang menjadi dewan pengarah BOP Labuan Bajo. Maka program dan anggaran harus dilarikan ke Flores dan Labuan Bajo. Memang, ada wacana Gubernur NTT bahwa peran pemerintah provinsi harus dioptimalkan. Namun masalahanya, ketika di level daerah sering  mengalami kesulitan, dimana  pemda mengalami kesulitan dalam melakkan koodinasi di pusat. Hal ini harus dioptimalkan ke depan, sehingga bila menjadi koordinator program di wilayah atau destinasinya harus didukung dengan anggaran.

Mengenai peranan pembangunan di bidang infrasturkur, badan otorita harus berkoodinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dia membangun komunikasi (Convergace meeting) sehingga proram bisa berjalan. Sementara itu, mengenai fasilitator untuk pengembangan skil, Gubernur NTT mengusulakan Politeknik Negeri Pariwisata untuk di bangun di Labuan Bajo. Pasalnya, di Bali, Lombok, Medan, dan lain-lain sudah ada, tetapi di Flores belum ada. Ke depan juga akan dibangun Pusat Riset Internasional Komodo. Pusat riset ini sebagai akan menjadi destinasi baru bagi para ilmuwan. Wadah ini sebagai sumbangan untuk dunia ilmu pengetahuan, juga sumbangan untuk peradaban dunia (Learning space). Dengan adanya pusat riset ini, setiap orang dari belahan dunia manapun akan belajar dan melakukan riset khusus tentang komodo.

Badan otorita sendiri, lanjut dia, mempunyai dua wilayah kerja, yaitu pertama di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat dan wilayah otorita di Pulau Flores dan NTT lainnya. Premiumnya di Komodo tetapi pergerakannya ke seluruh Flores dan bahkan NTT. Pergerakannya harus dari Babuan Bajo dan kemudian masuk ke seluruh wilayah lain di Flores dan NTT. Badan otorita menciptakan aktivias-aktivitas wisata di wilayah koordinasi kabupaten-kabuatan bersama pemerintah dan masyarakat. Jika pusatnya di Kampung Cancar, maka amenitas dan aktivitasnya harus bagus, tentu terutama infrastrukturnya.

“Kami di BOP sampai hari ini belum dapat wewenang untuk kelolah otorita ini. Kami masih nego dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Kita masih pastikan lahan. Setelah lahannya (400 hektar) di kawasan pariwisata akan diserahkan Kementerian ke BOP Labuan Bajo baru kita mulai bekerja. Saat ini, prosesnya masih di KLH, yaitu penentuan batas-batas wilayah mana saja,” terangnya sambil menambahkan bahwa tugas khusus BOP nanti dikasih mainan membangun di wilayah otorita (bisnis model dan manajemen model). Ada amenitasnya, ada produk-produk baru, seperti di Nusa Dua bali.  Dan ada pula lahan-lahan yang dikelola menjadi daya tarik pariwisata termasuk juga masyarakat.

Hak kelola BOP, kata dia, bisa mencapai 25-30 tahun. Jika pemda melihat bagus dan mampu kelolah sendiri, maka tidak bisa dikelolah BOP. Namun, bisa saja terjadi deal kerja sama dalam membangun bisnis modelnya. Pusat-pusat pertumbunhan pariwisata dapat dikerjakan bersama-sama, tetapi BOP harus bagus dahulu. Jikalau buruk maka para pengusaha bakal tidak berminat. Pengalaman buruk dengan BOP Toba yang tidak berhasil harus menjadi contohnya. Untuk itu, harus clear dahulu mengenai ocupasy lahan supaya tidak ada distorsi. Hal ini harus diklarifikasi untuk mendapatkan solusinya.

Fungsi lain dari BOP, tambah dia, untuk memerpcepat pembanguan pariwisata, seperti infrastruktur, SDM, bisinis model, amenitas, dan lain-lain. Indikatornya banyak yang berkunjung dan datang kembali. Sementara itu, tantangan yang dihadapi adalah membuat promosi. Pekerjaan rumah (PR), saat ini adalah menjaga reputasi. BOP harus memastikan bahwa ada project manajemen dan bisines model yang menjadi tugas khusus di otorita. Apa yang menjadi kewenangan pemda tetap menjadi hak pemda, kewenangan TNK tetap menjadi kewengan TNK, BOP hanya menjalankan fungsi koodinatif. Jadi tidak berati seluruh persoalan di Flores dikendalikan BOP. BOP melink semua isu tetapi dikoodinasikan.

NTT Masa Depan Pariwisata Indonesia

Vinsensius Djemadu, nara sumber kedua yang tampil  dengan judul materi “Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas,” memberikan apresiasi terhadap peningkatan pembangun pariwisata Indonesia dan NTT. Diungkapkannya, saat ini Indonesia mendukuki rangking pertama (I) wisata halal di dunia, peringkat ke-6 negara terindah di dunia, dan masuk dalam 10 negara top pariwisata dunia. Selain itu, beber dia, Indonesia juga berprestasi dalam pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia, memiliki Kementerian Pariwisata terbaik di dunia, dan juga sebagai negara TOP ke-20 tercepat di dunia dalam perkembangan dan pertumbuhan pariwisata.

Sementara itu, di tingkat negara-negara ASEAN, Indonesia berada di peringkat 12. Peringkat pertumbuhan pariwisata teritnggi adalah Vietnam, 20 persen. Sedangkan daya saing yang menjadi perhatian saat ini, Indonesia meraih rangking 42 dari sebelumnya rangking 70. Target Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2019 ini harus naik ke peringkat 30. Melihat kondisi ini, Presiden Jokowi menyebut pariwisata menjadi core economic. Jokowi ingin menjadikan penghasilan terbesar bagi ekonomi ke depan dari bidang pariwisata.

“Kekuatan ekonomi Indonesia ke depan hanya di tourism. Di bidang pertanian, tidak mungkin kita menang dengan Cina, dan di bidang industri otomotif tidak mungkin kita menang dengan otomotif Korea. Jadi secara khusus NTT, ke depan akan menjadi kawasan pariwisata baru berkelas dunia. Jadi kita harus siap,”tegasnya.

Untuk itu, dia berharap, para kepala daerah harus mempunyai komitmen yang tinggi. Komitmen tersebut bukan hanya dalam bahasa verbal saja, tetapi harus dijabarkan dalam bentuk angaran untuk mendukung pembangunan pariwisata di daerah. Hal ini sangat penting bagi NTT.”Setiap kepala daerah harus komit. Ada beberapa cotoh daerah yang PAD nya meningkat, seperti Toba Samosir yang PADnya sangat tinggi,” imbuhnya.

Tantangan Kesadaran dan Keterlibatan Masyarakat

Sementara itu, Don Bosco Selamun, Pemimpin Redaksi Metro TV, tampil semangat memberikan catatan-catatan kritis terkait peluang dan tantangan untuk pengembangan pariwisata Labuan Bajo ke depan. Ia mengaku bahwa saat ini ada ekspetasi publik yang kurang sabar. Padahal, ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Lompatan yang paling bagus adalah quantum leap, tetapi jika kondisi belum siap pasti ada resiko-resiko.

Dia juga menyoroti soal identitas dan produk ekonomi serta eksistensi budaya Manggarai Barat yang tidak boleh hilang atau dilenyakkan atas nama pembangunan pariwisata. Diakatakannya, sense of place atau arsitektur lokal harus ditunjukan, seperti makanan lokal, pakain adat. Selain itu, harus ada ornamen-ornamen identitas daerah. Identitas lokal, menurutnya, tak boleh hilang. “Sekarang ini sudah ada Kopi Sturbuch. Saya bilang pak bupati, Kopi Manggarai warungnya harus ada. Jangan semua poduk diambil dari luar. Jangan sampai 5 tahun ke depan kita ke sana sudah modern lalu semua identitas lokal hilang,”ujarnya.

Tantangan lainnya, dalam membangun pariwisata di Labuan Bajo, kata Don Bosco, masyarakat masih belum optimal bergerak menangkap peluang. Salah satunya, tourism is hospitality (keramahtamahan). Orang NTT sulit tersenyum (hospitalitynya terburuk). Masalah lain adalah kesadaran menjaga kebersihan masih rendah, tidak tempat sampah, toilet dan air bersih,  belum maksimalnya wisata halal (hidangan khusus bagi kaum Muslim). Jadi harus ada ada wisata makanan khusus. Pembagunan di Labuan Bajo, harus ada gunanya bagi masyarakat, jadi kesadaran dan keterlibatan masayarakat harus dimulai. Masalah yang muncul saat ini, lanjut dia, spekulan tanah makin maha, tidak adanya tata ruang yang baik, dan harga tanah sudah di atas 4 juta rupiah.

Ditegaskannya, Presiden Jokowi mempunyai hati yang luar biasa untuk NTT, dan secara khusus Labuan Bajo.  Perhatian begitu besar ini tentu melibatkan banyak stakeholder dan banyak investor terlibat di dalamnya.”Saya sudah datang ke sana dan saya ingin cepat. “Saya bisa ubah perpres jika ada yang bekerja lebih cepat.Jangan klaim mengklaim apalagi klaim palsu. Kita harus hentikan polemik soal BOP,” kata Don mengutip pernyataan Presiden Jokowi.

Labuan Bajo ke depan, kata Don Bosco, akan jauh lebih maju dari saat ini. Pertanyaanya, orang NTT mau buat apa? Lalu bagian kita apa? Untuk itu, dia berharap semua pihak harus duduk bersama. Gubernur dan para bupati harus duduk bersama agar Labuan Bajo tidak fantastis dengan pengembangan setengah liar. “Kita harus hentikan joak (omong besar atau omong kosong). Jangan bikin desa wisata, tetapi Labuan Bajo seluruhnya harus jadi desa wisata. Hanya hotel bintang 4 dan home stay. Hotel melati tidak boleh ada. Tentunya harus ada subsidi bagi warga untuk bangun home stay. Masyarakat tak boleh jadi penonton,”tutupnya.

Dijelaskannya, ada titik-titik destinasi yang sangat unik. Hal ini adalah DNA nya pariwisata, tinggal dipilih destinasi mana yang mau diperkuat. “Jika Pulau Komodo yang akan ditata, maka jangan sampai salah dalam mengelolah atau salah mengemas. Dengan membangun pariwisata jangan sampai kita membunuh pariwisata. Kalau modernisasi maka kita harus cari lokasinya di mana, karena penduduk juga ingin, misalnya rumah modern dengan tembok,” ujarnya.

Sedangkan Marsel Rengka, mengajak warga masyarakat dan kaum muda Labuan Bajo harus mulai bergerak dengan masuk ke dunia kewirausahaan dengan membangun dan mengembangkan bisnis pangan untuk siap memenuhi kebutuhan wisatawan yang datang ke Labuan Bajo. Salah satunya adalah memelihara berbagai ternak untuk memasok daging, agar daging tidak dibawa dari luar. Pengusaha ternak Babi ini mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan daging Babi yang sangat diminati para wisatawan asing, ia telah membangun peternakan Babi.

“Saya sudah menjadi petani dan peternak saat ini. Secara pro aktif, saya mengambil peran apa yang bisa dilakukan untuk mendukung pariwisata. Saya tidak mau terjebak dalam sensasi atau omong doang saja. Para wisatawan, sebanyak 47 prosen konsumsi daging Babi. Indonesia tingkat konsumsi daging Babi masih kekurangan 2.000 ribu ekor, di NTT populasi Babi 1,8 juta. Yang ada di NTT adalah Babi kampung.Saya siapkan Babi khusus yang dalam waktu 4 bulan sudah bisa dikonsumsi dengan berat 100kg. Mari kita mengambil peran untuk mendukung pembangunan pariwisata, demi meningkatkan ekonomi kita,”tutupnya.

Ketua Umum FKM Flobamora, Marsel Mudja, dalam sesi tanya jawab mengangkat persoalan penerangan listrik yang sampai saat ini masih menjadi masalah utama di Pulau Flores. Menurut dia, saat ini, enegi di NTT sangat minim atau terbatas. Masalah ini diperkeruh lagi dengan regulasi pemerintah terkait pengelolaan energi. Dia menegaskan pembangunan pariwisata di NTT akan berjalan lancar apabila infrastrukturnya sudah dipersiapkan secara baik, termasuk pemenuhan kebutuhan energi listrik.Dia juga berharap agar Presiden Jokowi memberikan perhatian khusus terkait pembangunan dan pengelolan energi terbarukan di NTT.

“NTT memiliki potensi energi terbarukan, seperti Ulumbu, Mataloko, Atadei, Angin, Matahari, dan lain-lain, namun semua belum diolah dan dikelolah secara maksimal dmei pemenuhan kebutuhan energi listrik. Saya mencurigai ada sekelompok orang mau dorong NTT agar pakai batu bara. Kita punya energi terbaru. Pak Presiden Jokowi mau bangun pariwisata di NTT, tetapi kalau tidak ada listrik di NTT pasti jadi masalah.Jadi harus ada komitmen bersama pemerintah segera membangun energi terbaru di NTT untuk mendukung pariwisata kita,”pinta pria asal Bajawa, Flores ini. 

Setuju dengan para nara sumber, Mikhael Kleden, salah satu anggota FKM Flobamora mengatakan, ujung tombak dari pembangunan pariwisata adalah SDM. Peluang emas pembangunan pariwisata di Labuan Bajo dan Flores harus ditangkap oleh warga. Selain itu, pria yang pernah menjadi peternak kambing dan ayam ini di Sukabumi, Jawa Barat ini, mengajak warga, secara khusus kaum muda untuk mulai terlibat dalam berbagai kegiatan usaha ekonomi kreatif.”Kita harus siapkan diri. Mari kita tangkap peluang emas ini. Jangan sampai kita akhirnya hanya menjadi penonton,”kata pengusaha yang kini menekuni bisnis home stay di Sukabumi.

Sementara, tokoh muda Manggarai Barat, Maksimus Ramses Lalangkoe, menilai pembangunan saat ini di Labuan Bajo masih belum berkembang. Guna mendukung pengembangan pariwisata di Labuan Bajo, dia menegaskan bahwa tergantung pemimpin politik  yang kuat (strong leader), yang mempunyai kepedulian tinggi. Untuk strong leader harus didesain bersama. Dia juga mendukung penuh pembangunan pariwisata Labuan Bajo. Namun, menurut dia, untuk menyukseskan pembangunan pariwisata di Labuan Bajo harus ada komitmen BOP. Harus ada ikon khusus, dan tak boleh ada misi tertentu di balik Komodo (mission Behind of Komodo) yang mau diutamakan.

Kepala Badan Penghubung NTT, Viktor Manek, yang juga sekaligus menjadi moderator, dalam kata penutupnya, menegaskan bahwa diskusi bersama yang terbuka dalam suasana kekeluargaan ini, merupakan bentuk komitmen dukungan masyarakat Flobamara (NTT diaspora) dalam pembangunan pariwisata di Labuan Bajo. Selanjutnya, kata dia, komunikasi dan kerja sama sangat diharapkan untuk memuluskan pembangunan pariwisata. Ke depan, akan dilaksanakan lagi bergai diskusi, dialog dan festival seni budaya NTT.  

Acara diskusi yang dihadiri pula Direksi Bisnis dan Lembaga BOP Labuan Bajo, Djarot Trisunu ini kemudian diakhiri dengan foto bersama dan ditutup dengan lantunan doa oleh Viktor Manek, dan jamuan makan siang bersama. Djarot Trisunu, dalam kesempatan wawancara media, mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi terhadap acara diskusi Pengembangan Pariwisata NTT. Dia berharap dan meminta agar masyarakat dan kaum muda harus terlibat aktif dalam pembangunan pariwisata Labuan Bajo. (Kornelis Moa Nita/ NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi