Sab. Jan 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Koala Terancam Punah, Apakah Komodo Juga?

4 min read

Koala yang terancam punah (Sumber: savethekoala.com)

AUSTRALIA, NTT BANGKIT.COM – Populasi koala di Australia dan habitat pohon gum tree-nya di kawasan pesisir pantai terancam hancur akibat naiknya permukaan air laut, kondisi ini akan memicu penyakit mematikan yang beracun. Demikian terungkap dalam sebuah konferensi ilmiah di New South Wales.

Koala hanya memakan daun pohon gum alami atau ‘gum tree’, dan menghabiskan sebagian besar hidup mereka terlindungi di dahan tinggi pohon-pohon tersebut. Namun sayang, penebangan liar dan kebakaran hutan membuat pohon gum semakin sedikit. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup Koala. Marsupial ikonik ini terdaftar secara nasional sebagai spesies yang rentan, dan jumlahnya terus berkurang.

Hutan Australia yang rusak membuat Koala mengalami kepunahan fungsional (Sumber: republika.co.id)

Dr Rebecca Montague-Drake, ahli ekologi pada Dewan Port Macquarie di New South Wales, telah menerbitkan pemodelan yang menunjukkan 14 persen habitat koala di daerah itu akan mengalami penggenangan air asin dalam kurun waktu 50 tahun tahun ke depan, dan akan terus meningkat menjadi 22 persen pada abad berikutnya.

Dia mengatakan meningkatnya salinitas akibat pasang surut dan banjir yang lebih besar akan meningkatkan racun di pohon gum tree dan “mengurangi ketersediaan makanan koala”.

“Koala berada dalam situasi yang sulit di antara daun yang mereka makan, tingkat racun yang tinggi yang terkandung dalam daun eucalyptus, dan jumlah toksin yang dapat mereka ekstrak dari daun itu,” katanya.

“Ketika kita mulai bermain dengan keseimbangan salinitas di dalam tanah, keseimbangan halus di dalam daun, antara racun dan nutrisi, konsekwensinya itu akan mengeluarkan keteraturan.” Data menunjukkan saat ini hanya ada kurang dari 40.000 ekor koala bertahan di alam bebas.

Dr Montague-Drake memperkirakan penghancuran lebih lanjut pohon-pohon gum tree di jalur pesisir sepanjang 1.000 kilometer antara Jervis Bay dan Moreton Bay, berpotensi menghilangkan sepertiga dari habitat koala di wilayah ini. Dia juga mengatakan pemodelannya memberikan gambaran skenario terbaik, bukan kasus terburuk, skenario peningkatan permukaan ait laut.

“Kami hanya menggunakan perkiraan konservatif, karena kami tahu karakter pohon-pohon gum tree di daerah ini, pohon mahoni rawa dan hutan pohon gum tree merah, sedikit lebih tahan terhadap salinitas daripada beberapa spesies eukaliptus lainnya,” katanya.

Bukan satu-satunya masalah

Ahli ekologi, Steve Philips, seorang anggota Panel Penasihat Koala di NSW, mengatakan bahwa hutan asli di negara bagian tersebut “telah ditebangi hingga tinggal berjarak satu inci saja dari kehidupan ekologis koala”. Setelah bertahun-tahun melakukan survei lapangan, dia memperingatkan dalam Konferensi Koala Nasional yang berlangsung akhir pekan ini bahwa populasi hewan ikonik Australia ini bisa punah.

“Gambar itu terbentuk selama beberapa dekade penelitian,” katanya.

“Kami telah mendatangi kawasan yang masih memiliki hutan yang dahulu kita kenal memiliki koala di dalamnya, dan sering kembali tanpa data apapun, tanpa penampakan koala.”

Dr Oisin Sweeney, seorang ilmuwan dari Asosiasi Taman Nasional, mengatakan populasi koala bisa punah jika penebangan berskala besar terus berlanjut. “Kami tahu bahwa koala tidak menyukai penebangan kayu, mereka tidak menyukai gangguan, mereka lebih memilih pohon yang berukuran lebih besar karena mereka menganggap ini sebagai sumber makanan yang lebih besar,” katanya.

“Jadi, tidak perlu jenius untuk mengetahui bahwa menjadikan seluruh sumber makanan mereka di daerah yang terkena penebangan merupakan ancaman utama bagi koala.”

Dr Sweeney mendesak Pemerintah untuk melindungi lebih banyak habitat koala ini dan mengatakan bahwa dia mendukung sebuah Taman Nasional Koala Besar (GKNP) yang diusulkan dihutan-hutan yang terdapat di negara bagian itu. “Itu adalah kawasan paling penting dari habitat koala, sebuah Taman Nasional Koala Besar di daerah pedalaman di Harbour Coffs yang akan meliputi beberapa habitat koala yang benar-benar bagus,” katanya.

Peringatan meningkatnya air laut menambah daftar ancaman habitat yang ada untuk koala, seperti pembukaan hutan dan lahan yang tidak sah.

Peta Perusahaan Kehutanan yang baru dirilis dan didapatkan dokumennya oleh ABC News menunjukkan penebangan yang intensif diperkirakan akan terjadi di dalam area habitat utama koala di sekitar Coffs Harbour.

Koala Australia yang terancam punah (Sumber: mnn.com)

Kepunahan fungsional sendiri terjadi ketika populasi suatu spesies sangat rendah sehingga tidak lagi bisa memengaruhi lingkungan atau kemungkinan berkembangbiaknya sangat kecil. Jika bisa berkembang biak pun, ada kemungkinan spesies tersebut terkena penyakit genetis.

Dilansir dari laman unilad.com, terdapat sekitar 80.000 ekor Koala yang tersisa di seluruh dunia. Sepintas jumlah tersebut memang terdengar banyak, namun nyatanya Koala tetap dikategorikan mengalami kepunahan bila tidak ditangani secara serius oleh pemerintah Australia dan pemerintah negara-negara lain dimana Koala berada.

Apakah Komodo akan punah?

Bila di Australia, banyak pihak mendesak pemerintah untuk segera membuat Taman Nasional khusus untuk Koala agar kepunahan fungsionalnya bisa diatasi, maka di NTT justru sebaliknya. Itikad baik Pemprov untuk melestarikan kawasan Taman Nasional Komodo dari sentuhan manusia dipandang sebagai kejahatan melawan kemanusiaan (crime against humanity). Tidak sedikit aksi protes dilakukan oleh beberapa denominasi masyarakat NTT.

Pandangan berbeda datang dari para wisatawan asing yang berkunjung ke pulau Komodo. Mereka justru mendukung konservasi di Pulau Komodo. Salah satu alasan pembanding yang mereka katakan adalah demi kelestarian ekosistem sehingga nasib komodo tidak sama seperti Koala di Australia yang mengalami kepunahan fungsional.

TNK adalah taman nasional yang memiliki kurang lebih 147 pulau. Dari 147 pulau terdapat lima pulau besar, yakni Pulau Gili Motang, Pulau Padar, Nusa Kode, Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Luas area TNK sendiri mencapai 137 ribu hektare, dan dari jumlah tersebut 60 persennya adalah perairan. Balai Taman Nasional Komodo (TNK) melaporkan bahwa saat ini jumlah komodo di taman nasional itu kurang lebih 2.800 ekor. Kurang lebih 1.040 ekor diantaranya berada khusus di Pulau Rinca. Sisanya berada di pulau-pulau lainnya dalam kawasan TNK.

Bila habitat komodo tidak diperhatikan secara baik, bukan tidak mungkin komodo juga akan mengalami kepunahan fungsional seperti Koala di Australia.

Komodo di kawasan TNK (Sumber: straitstimes.com)

Jumlah Komodo saat ini memang tidak setragis Koala di Australia yang terancam punah. Namun, bila penjagaan kawasan TNK tidak ketat terhadap perburuan liar yang memicu putusnya rantai makanan, pencurian satwa Komodo, dan lingkungan habitat yang tidak dikonservasi secara baik, bukan tidak mungkin Komodo akan punah di tahun-tahun mendatang. Jangan biarkan kita hanya mewariskan cerita kepada anak-cucu kita bahwa Komodo pernah ada di NTT. (Sumber: republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi