Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Danau Baru Muncul Setelah Badai Seroja di NTT, Ini Penjelasan Ahli

2 min read

KUPANG, NTTBANGKIT.COM – Dampak Badai Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) membawa fenomena baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Di daratan Kota Kupang pun warga dikejutkan dengan kemunculan dua danau baru di pemukiman warga.

Sebuah danau muncul di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa dan satu lainnya terdapat di wilayah RT 017 RW 007 dan RT 020 RW 008 Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

“Wilayah ini dahulunya merupakan kebun sayur namun setelah hujan dan badai Seroja muncul danau. Panjang danau ini sekitar 200 meter,” ungkapnya.

Ketua Umum Indonesia Speleological Society (ISS) Petrasa Wacana mengatakan secara mendasar wilayah kupang secara geologi adalah wilayah batu gamping sebagai penciri karst. Danau yang terbentuk berada di daerah doline atau cekungan di kawasan karst pada saat badai material lumpur terendapkan dan nmenutupi lubang pori batu gamping.

Disisi lain, katanya, rekahan-rekahan batuan yang sebelumnya tersumbat kemudian terbuka dan mengalirkan mata air. Ia sebutkan, memang pada dasarnya di wilayah karst banyak berkembang mata air dan sungai bawah tanah.

“Curah hujan yang mencapai 200 milimeter per jam juga mempengaruhi meningkatnya jumlah air yang ada di NTT sehingga jumlah air melebihi daya tampung penyimpannya,” ungkapnya.

Petrasa menyebutkan selama lapisan lempung yang ada dibawahnya menutupi dasar cekungan, maka air itu akan bertahan lama. Tapi jika rekahan-rekahannya terbuka kembali, maka kemungkinan air akan kembali masuk ke sistem sungai bawah tanah di bawahnya.

Dirinya menyarankan untuk mengetahui apakah mata air ini akan bersifat parenial atau mengalir sepanjang tahun atau musiman, harus dilihat perbandingannya antara di musim hujan dan kemarau.

Ahli karst ini menambahkan, jika permukiman disekitar danau tidak terdampak langsung, mestinya tidak perlu dipindahkan. Petrasa sarankan, mungkin yang perlu dikelola adalah manajemen airnya.

“Wilayah NTT adalah kawasan kering saat musim kemarau, tapi di satu sisi potensi air yang tersimpan di kawasan karst di bawahnya cukup besar. Ini terjadi karena sifat dasar kawasan karst dalam proses karstifikasi dikontrol oleh air dan sistem hidrologinya,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi