Jum. Jan 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Rusa Timor Terancam Punah

5 min read

Rusa Timor di Sabana Bekol (Sumber: Wikimedia Commons)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM (NBC) – Selain komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki hewan khas lainnya yaitu Rusa timor. Rusa timor atau ”Cervus timorensis timorensis” sangat populer di kalangan masyarakat Timor pada abad ke-17-19. Namun rusa ini terancam punah karena maraknya perburuan liar dan rusaknya habitat akibat penebangan dan pembakaran hutan secara ilegal.

Semula, rusa timor sangat mudah ditemukan di seantero padang savana daratan Pulau Timor hingga tahun 1980. pada dekade terakhir ini, rusa tersebut sangat sulit ditemukan. Berbagai upaya penangkaran oleh masyarakat dan pemerintah belum mengembalikan populasi rusa seperti sebelumnya. Rusa timor merupakan salah satu penghuni tertua daratan Timor, kemudian menyebar ke sejumlah pulau terdekat, seperti Sumba, Rote Ndao, Flores, Alor, Maluku, Sulawesi, bahkan Papua, khususnya Merauke.

Rusa timor dewasa mempunyai panjang badan berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai antara 91-110 cm. Rusa timor (Cervus timorensis) mempunyai berat badan antara 103-115 kg walaupun rusa timor yang berada di penangkaran mampu memiliki bobot sekitar 140 kg. Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun dibandingkan dengan rusa jenis lainnya seperti rusa bawean, dan menjangan, ukuran tubuh rusa timor lebih besar.

Rusa jantan memiliki tanduk (ranggah) yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, tanduk menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.

Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung kondisi habitatnya.

Rusa timor sebagaimana rusa lainnya termasuk hewan pemamah biak yang menyukai daun-daunan dan berbagai macam buah-buahan Rusa memakan berbagai bagian tumbuhan mulai dari pucuk, daun muda, daun tua, maupun batang muda.

Umumnya rusa timor bersifat poligamus yaitu satu pejantan akan mengawini beberapa betina. Rusa betina mempunyai anak setiap tahun dengan sekali musim rata-rata satu ekor anak.

Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992; Semiadi, 2002) membagi jenis rusa timor (Cervus timorensis) menjadi 8 subspesies (anak jenis), yaitu: Cervus timorensis russa yang biasa ditemukan di Pulau Jawa, Cervus timorensis florensis yang biasa ditemukan Pulau Lombok dan Pulau Flores, Cervus timorensis timorensis yang biasa ditemukan Pulau Timor, Pulau Rote, Pulau Semau, Pulau Kambing, Pulau Alor, dan Pulau Pantar, Cervus timorensis djonga yang biasa ditemukan Pulau Muna dan Pulau Buton, Cervus timorensis molucensis yang biasa ditemukan Kepulauan Maluku, Pulau Halmahera, Pulau Banda, dan Pulau Seram, Cervus timorensis macassaricus, Cervus timorensis renschi dan Cervus timorensis laronesietes  yang biasa ditemukan Pulau Sulawesi.

Kelompok rusa timor (foto: fotokita)

Meski berada di Maluku, Papua, Sulawesi, dan daerah lainnya, sebutan rusa timor masih digunakan oleh masyarakat setempat. Kepindahan rusa timor ke sejumlah pulau ini dilakukan oleh para misionaris sebagai binatang hiburan, atau diperdagangkan oleh para nelayan dan pelaut pada abad ke-18. Di Merauke, populasi rusa timor sampai ribuan ekor, terutama di Taman Nasional Wasur dan sekitarnya. Di Sumba dan Flores, rusa tersebut masih ditemukan, tetapi harus berjalan kaki masuk jauh sampai puluhan kilometer ke pedalaman. 

Di Timor sendiri, rusa timor semakin jarang terlihat. Para petani dan pemburu binatang liar sudah lama tidak menemukannya lagi. Sampai tahun 1980-an, di hutan-hutan sekitar Kota Kupang masih ditemukan rusa itu, bahkan terkadang satwa itu masuk sampai ke pinggiran permukiman di Kota Kupang, seperti di Kelurahan Fatukoa dan Kelurahan Naioni. 

Kepala Balai Penelitian Kehutanan Kupang Sunarno, pada Rakor Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Nonkayu di Kupang, Kamis (4/8), mengatakan, rusa timor termasuk binatang yang sangat peka terhadap gangguan atau kebisingan. Suara manusia, klakson kendaraan, asap api saat terjadi kebakaran hutan, dan kebisingan lain membuat rusa itu cepat stres lalu menyingkir. Kondisi hutan di Timor sendiri sudah sangat mengkhawatirkan. Tingkat degradasi hutan setiap tahun 30.000 hektar karena kebakaran, pembukaan lahan baru, pembangunan jalan, dan pemukiman penduduk. Sementara penanaman kembali atau upaya rehabilitasi hutan hanya 13.000 hektar, itu pun belum tentu semuanya berhasil. 

Memasuki musim kemarau, semua jenis tanaman termasuk tanaman hasil reboisasi dan penghijauan ikut mati karena kekurangan air atau kebakaran hutan. Alo Oematan (65), tokoh masyarakat Timor Tengah Utara, mengatakan, habitat rusa butuh padang atau savana yang luas, jauh dari pemukiman penduduk, kegiatan pembukaan lahan, atau pembangunan jalan dan jembatan. Jika habitat rusa sudah diganggu, mereka segera berpindah tempat, termasuk memasuki pemukiman penduduk. 

Sejak tahun 1980-an, ratusan rusa timor terjebak masuk perkampungan warga, yang kemudian ditangkap untuk diambil dagingnya. Dendeng daging rusa mudah ditemukan di pasar dan di jalan-jalan. Saat itu, jika melintasi ruas jalan Kupang-Soe-Kefamenanu-Atambua, banyak ditemukan daging rusa dipajang di beberapa tempat. Tanduk rusa pun dijual dengan harga Rp 2.000-Rp 5.000 per buah. 

”Sekarang sangat sulit menemukan rusa timor. Entah mereka berada di mana. Mungkin sudah punah semua karena di hutan-hutan pun tidak pernah terlihat lagi,” kata Oematan. 

Jamras Mone, penjaga pusat penangkaran rusa milik Balai Konservasi Hutan dan Satwa di Fatukoa, Kupang, mengatakan, rusa cepat stres dan trauma. Pekan lalu, Balai Konservasi Hutan dan Satwa membawa tiga rusa milik Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk ditangkarkan bersama 15 rusa di dalam kandang penangkaran Fatukoa. Tetapi, dalam perjalanan, satu di antaranya mati, sedangkan dua lainnya mati 13 hari kemudian setelah berada di kandang penangkaran.

”Saat dibawa dari Undana ke kandang penangkaran sekitar 40 kilometer saja bisa mati di jalan, apalagi kalau mereka diburu, dikejar dengan anjing, atau habitat mereka dibakar,” kata Mone. 

Penangkaran rusa di Fatukoa sejak 1982 sebanyak lima ekor, sampai tahun 2007 hanya berkembang menjadi 25 ekor, 10 ekor dipindahkan ke tempat penangkaran di Soe, Timor Tengah Selatan. Sisa 15 ekor—terdiri dari 12 ekor betina dan 3 jantan—belum satu pun betina yang melahirkan.

 ”Bukan karena stres di dalam kandang, tetapi perkembangbiakan rusa memang sangat lamban. Yang ada di dalam kandang ini sangat jinak kepada manusia. Mereka tidak pernah diganggu, dan terus diberi makanan dan air sepanjang hari,” kata Mone. 

Rusa yang sudah ditangkarkan itu tidak dilepaskan ke hutan, tetapi ditangkarkan lagi di kabupaten lain, seperti Timor Tengah Utara dan Belu. Jika suatu saat populasi rusa sudah banyak di pusat-pusat penangkaran, sebagian akan dilepas ke hutan lindung, taman nasional, atau cagar alam yang ada, seperti Cagar Alam Mutis. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 423/Ktps-II/1999, tanggal 15 Juni 1999, luas kawasan hutan NTT 1.808.990 hektar atau 38,20 persen dari luas daratan, dengan rincian kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam lindung 350.330 hektar, hutan lindung 731.220 hektar, hutan produksi terbatas 197.250 hektar, hutan produksi tetap 428.360 hektar, dan hutan produksi yang dapat dikonversi 101.830 hektar. (Emild Kadju – Diolah kembali dari kompas.com, alamendah.org, dan berbagai sumber lainnya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi