Sen. Mei 23rd, 2022

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pidato Kenegaraan Pada Sidang MPR RI 2019, Jokowi Ajak Merajut Persatuan

5 min read

Jokowi menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR 2019 di gedung "kura-kura" kompleks parlemen, Senayan, Jakarta (Sumber: merahputih.com)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM – Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI yang digelar hari ini, Jumat (16/8/2019) pada pukul 09.00 WIB di gedung “kura-kura” kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. 

Sidang tahunan MPR RI RI 2019 ini digelar bersama dengan dua agenda sidang lainnya, yakni sidang bersama DPR-DPD serta pidato Presiden dalam rangka penyampaian RAPBN 2020. 

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa di bawah tema HUT RI ke-74 yaitu “SDM Unggul, Indonesia Maju,” Pemerintah akan bersinergi dengan semua lembaga negara dan lembaga politik untuk membangun sistem terpadu guna meningkatkan kualitas SDM masyarakat indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Mianga sampai pulau Rote.

Namun Presiden juga megarsis bahwa Indonesia sebagai rumah besar yang didalamnya semua anak bangsa bernaung akan baik apabila segenap bangsa Indonesia bersatu dalam optimisme menatap masa depan sembari menumbuhkan semangat membara untuk mencapai kemajuan Indonesia di era disrupsi teknologi komunikasi dan informasi.

“Indonesia sebagai rumah besar bersama akan menjadi rumah yang nyaman apabila kita bersatu dalam optimisme menatap masa depan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. Maka semangat perjuangan harus terus menyala agar Indonesia semakin jaya dan maju, serta mampu bersaing dengan bangsa lain di kancah internasional.” Kata Jokowi pada pembukaan pidatonya.

Jokowi juga mengatakan bahwa meskipun dunia terus berubah dengan cepat, Indonesia harus tetap berpegang pada Pancasila agar tidak kehilangan arah dan orientasi.

“Kita tahu bahwa era dunia terus berubah dengan cepat. Arus informasi dan teknologi begitu deras. Kita akan kehilangan arah apabila tidak berpegang pada Pancasila sebagai bintang penjuru. Kita harus terus maju, dengan tetap berpegang pada Pancasila, dalam era kompetisi antar-negara, melalui kreasi, inovasi, dan terobosan-terobosan baru. Kita tidak boleh berhenti berkreasi demi menggapai satu visi besar yaitu Indonesia maju yang di dalamnya anak-anak bangsa bisa menikmati situasi sejahtera, adil, dan makmur.” Lanjut Jokowi.

Presiden juga menghimbau kepada segenap lembaga untuk menghentikan ego sektoral demi membangun sinergitas yang kokoh antar-lembaga guna membangun terobosan bersama yang visioner. 

“Kita butuh terobosan baru, butuh loncatan kemajuan, butuh karya nyata. Maka ego sektoral harus ditinggalkan dan kolaborasi harus ditingkatkan demi mencapai SDM unggul dan Indonesia yang sejahtera, maju, adil, dan makmur.”

Dalam pidatonya juga, Jokowi mengapresiasi kinerja MPR RI, DPR RI, DPD RI, BPK, MA, dan MK. Kepada MPR RI, Jokowi mengapresiasi usaha lembaga tersebut dalam menyosialisasi 4 konsensus yang menjadi pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika ke seluruh penjuru negeri.

“MPR telah melakukan sosialisasi 4 konsensus kebangsaan Pancasila, UUD, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika ke seluruh penjuru negeri demo meningkatkan rasa keindonesiaan dan nasionalisme putra-putri bangsa. Hal yang perlu dilakukan kedepannya adalah memanfaatkan kemajuan teknologi semaksimal mungkin dalam pengimplementasian sosialisasi 4 pilar kebangsaan. Kita butuh lompatan kreatif dalam sosialisasi, pengamalan, dan implementasi 4 pilar kebangsaan.” tutur Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga mengapresiasi kinerja DPR RI dan DPD RI yang bisa bersinergi dengan pemerintah secara baik untuk memajukan Indonesia.

“DPR dan pemerintah berhasil membangun konsolidasi kelembagaan dalam menghasilkan produk UU yang baik dan berpihak pada rakyat. DPR juga bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah sehingga bisa meloloskan UU Pendapatan Negara Bukan Pajak pada tahun 2018. Selain itu DPR juga meloloskan Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 70 triliun pada 2019 untuk memajukan Indonesia dari pelosok Desa. Dari sisi legislasi, DPR dan pemerintah pun berhasil membahas dan menyelesaikan 15 RUU seperti RUU tentang APBN, Perjanjian Kerja Internasional, Akselerasi Pembangunan Berkelanjutan, Ristek, dan lain sebagainya, guna menyikapi arus dinamika pembangunan dunia yang cepat di berbagai sektor.”

Dari sisi monitoring, DPR berhasil membentuk sistem pengawasan pemerintahan secara terpadu seperti membentuk 8 tim pengawas kinerja pemerintah, 1 panitia angket, 35 panitia kerja di berbagai bidang, panitia uji kelayakan terhadap sejumlah pejabat publik, dan lain sebagainya. 

Selain itu, Jokowi juga mengapresiasi DPR yang pada tahun 2018 menjadi tuan rumah Forum Parlemen Dunia tentang pembangunan berkelanjutan dan tuan rumah Forum Pimpinan Parlemen 5 negara middle power yang terdiri dari  Meksiko, Turki, Indonesia, Australia, dan  Korea Selatan.

Jokowi juga mengapresiasi kinerja DPD RI yang mampu membawa apresiasi daerah ke tingkat pusat. DPD juga diapresiasi Presiden karena berhasil mengusulkan dan mengkaji UU untuk menjawab tantangan kedaulatan pangan, dilema hukum adat, kemajuan UMKM, dan desentralisasi fiskal agar perputaran uang daerah bisa meningkat.

Namun Jokowi juga berharap agar reformasi UU bisa dan perlu dilakukan agar produk UU di Indonesia bisa lebih baik lagi. UU yang bertabrakan perlu dikaji lagi. UU yang tidak berpihak pada rakyat perlu dihapus atau digantikan dengan UU yang lebih pro terhadap kehendak rakyat. Kepada DPD Jokowi berharap agar Perda-perda yang tidak berpihak pada rakyat bisa dievaluasi dan diusulkan untuk diubah.

Dalam pidatonya juga, Jokowi mengapresiasi kinerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang aktif melakukan audit keuangan negara secara berkala.

BPK pada tahun 2016 dan 2018 menerima Laporan keuangan pemerintah dengan kategori wajar tanpa pengecualian (WTP). BPK juga telah memeriksa kinerja dan kepatuhan pemerintah dan badan-badan lainnya.

“Apresiasi kepada BPK yang telah melaksanakan pemeriksaan tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. BPK juga berhasil mengembalikan aset dan kas negara sebesar 4,38 triliun. Selian itu apresiasi kepada BPK yang aktif dalam forum-forum internasional guna membangun reputasi bangsa di dunia internasional. Bahkan Sejak 2016-2021, BPK terpilih menjadi pemeriksa independen di Atomic International agency. Pada tahun 2019, BPK juga terpilih menjadi eksternal independen pada International anti-corruption academy periode 2019-2021, serta menjadi United Nation Final Auditors se-Asia dan sedunia.” pungkas Jokowi yang disambut dengan tepuk tangan meriah.

Dalam pidatonya juga, Jokowi mengapresiasi kinerja Mahkamah Konstitusi yang berhasil menyelesaikan sengketa Pilkada 2018 dan Pemilu serentak 2019 dengan adil, transparan, dan tanpa meninggalkan konflik vertikal dan horizontal yang berkelanjutan.

“Sistem peradilan berbasis elektronik sudah diterapkan oleh MA. tentunya hal ini dimaksudkan agar berbagai sengketa menyangkut hukum bisa menjadi sederhana, cepat, transparan, dan berbiaya ringan. Melalui sistem online ini, proses penyampaian, registrasi perkara, dan pemanggilan pihak-pihak yang berperkara bisa lebih mudah. Selain itu, pada tahun 2018 MK berhasil menambahkan 85 pengadilan baru yang terdiri dari 30 Pengadilan Negeri, 50 agama, 3 Mahkamah Syariah, dan 2 Pengadilan Acara.  Tentunya hal ini dimaksudkan untuk mempermudah rakyat dalam mencari keadilan.” tutur Jokowi.

Kepada Mahkamah Agung, Jokowi juga mengapresiasi karena telah membangun sistem online yang mempermudah dalam mengurus perkara. 

Kepada MK dan MA, Jokowi berharap agar sosialisasi hukum kepada masyarakat harus terus dilakukan guna membangun budaya sadar hukum di tengah masyarakat.

Di akhir pidato, Jokowi kembali melakukan call back terhadap apa yang disampaikannya pada awal pidato yaitu pentingnya membangun rasa kesatuan antar-warga negara tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan untuk mencapai Indonesia yang maju, adil, makmur, dan sejahtera.

“Dengan berpegang pada 4 konsensus kebangsaan, Indonesia niscaya akan maju. Pancasila adalah dasar negara, bintang penjuru, dan pemersatu, maka tidak boleh kita dipecah-belah oleh isu-isu SARA. Karena kita semua adalah satu dalam rumah Indonesia. Sebuah ruang hidup bagi semua anak dari Sabang sampai Merauke, dari Mianga sampai pulau Rote. Dengan berpegang pada pancasila, rumah kita Indonesia akan tegak berdiri bukan untuk 100 tahun, 500 tahun, tetapi akan bertahan selamanya dalam terang Pancasila; bintang penjuru dan pedoman hidup kita.” Tutup Jokowi. (Emild Kadju/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi