Rab. Agu 12th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Anies Baswedan Ikut Tarian Caci Manggarai Di TMII Anjungan NTT

3 min read

Gubernur DKI Jakarta, Anies BAswedan saat menghadiri festival budaya Manggarai di TMII Anjungan NTT, Minggu 18 Agusuts 2019 (SUmber: Ist.)

JAKARTA, NTTBANGKIT.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri acara festival budaya Manggarai di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Minggu (18/08/2019). Dalam acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) tersebut, khususnya pada bagian Caci,  Anies diberikan kesempatan untuk memberikan pukulan penghormatan. 

Anies pun maju ke tengah gelanggang bersama seorang petarung Caci.  Sambil mengitari gelanggang, Anies berusaha mencari celah untuk menembus pertahanan lawan. 

Dentuman musik gong yang semakin kencang membuat suasana begitu dramatis. Ketika sang pertarungan Caci mengendorkan pertahanannya,  Anies pun langsung memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerang. Alhasil, Anies berhasil melukai petarung Caci asal Manggarai NTT tersebut.

Sorak sorai para penonton di sekitar gelanggang membuat suasana festival budaya Manggarai di Anjungan NTT semakin semarak. 

Caci merupakan tarian perang antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai. Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen  (hang woja) dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

Sebutan orang-orang yang berperan pada Tarian Caci

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul yang disebut paki berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau yang disebut pori. Laki-laki yang berperan sebagai penangkis yang disebut ta’ang, menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.

Anies Baswedan saat membawakan pukulan penghormatan dalam tarian Caci di halaman Anjungan NTT TMII Jakarta Timur (Dok. Pribadi)

Dalam sambutannya, Anies mengatakan bahwa ia begitu berterimakasih karena sudah diundang oleh Ikatan Keluarga Besar Manggarai Jakarta. 

Di samping itu, Anies juga menyatakan bahwa lebih baik mendadak datang dari pada mendadak batal, mengingat saat diundang Anies tidak menyatakan akan hadir atau tidak dalam festival manggarai tersebut secara pasti. 

Belajar tentang kesetaraan dan menghargai dari budaya Manggarai

Dalam sambutannya, Anies menyatakan bahwa dari budaya Manggarai, ia belajar tentang kesetaraan dan rasa saling menghargai tanpa memandang status sosial.  

Anies juga mengatakan bahwa ia mengadopsi istilah Lingko di Manggarai untuk diterapkan pada sistem transportasi publik di DKI Jakarta. 

Di Manggarai,  Lingko merupakan istilah yang digunakan untuk sawah berbentuk jaring laba-laba di Cancar, Kabupaten Manggarai, di samping ada tarian Lingko yang menerangkan tentang falsafah kerja berjejaring dan saling berintegrasi satu sama lain.

Esensi dari istilah Lingko yang menggambarkan integrasi dalam satu kesatuan tak terputuskan inilah yang kemudian diadopsi oleh Anies Baswedan menjadi Jak Lingko atau Jakarta Berjejaring.

Jak Lingko ini merupakan istilah yang dipakai untuk menggantikan istilah OK Trip dalam program One Karcis One Trip.

Lingko merupakan sistem integrasi transportasi publik di DKI Jakarta yang mana dalam sistem tersebut,  Orang-orang berada dalam kesetaraan tanpa ada yang lebih tinggi. 

Lingko juga menciptakan sebuah realitas sosial dimana warga DKI tidak hanya asyik sendiri  dengan dunianya, tetapi berpadu satu sama lain antara orang kaya dan orang miskin. 

Program Jak Lingko ini merupakan upaya integrasi transportasi publik di Jakarta yang tidak terputuskan sebagaiamana sawah jaringan laba-laba di Manggarai, di mana semua transportasi publik DKI akan terintegrasi satu sama lain.

Melalui program Jak Lingko, transportasi berbasis rel seperti Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), dan commuter line serta transportasi berbasis Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta akan saling berintegrasi tanpa putus.

“Kami di DKI Jakarta mengadopsi istilah Lingko dari Manggarai untuk menggambarkan sistem transportasi publik yang terintegrasi satu sama lain. Dalam sistem ini,  warga DKI Jakarta duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sebagaimana ada pada Busway, MRT, LRT, dan transportasi publik lainnya.” Tutur Anies. (Emild Kadju/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi